KISAH PARA RASUL 7:14
Teks Ini
Setelah Yusuf menyingkapkan jati dirinya kepada saudara-saudaranya, dan setelah kabar tentang keluarganya sampai ke telinga Firaun, Yusuf tidak mengirim perbekalan saja. Ia mengirim undangan: "Yusuf mengirim pesan dan mengundang Yakub, ayahnya, dan semua sanak saudaranya, semuanya berjumlah 75 jiwa." Satu kalimat, satu angka, dan seluruh keluarga perjanjian berpindah negeri. Bayangkan rombongan itu di jalan berdebu dari Kanaan yang kering kerontang menuju Delta Nil: keledai-keledai bermuatan karung gandum, anak-anak yang digendong, seorang ayah tua yang sudah menguburkan terlalu banyak harapan, dan di ujung perjalanan seorang pejabat Mesir berjubah linen halus yang ternyata adalah anaknya sendiri. Stefanus menyebut angkanya dengan tenang, seolah sedang membaca daftar penumpang. Tujuh puluh lima jiwa. Itulah seluruh umat Allah saat itu.
Inti
Angka itulah inti teologisnya. Di hadapan Mahkamah Agama, di kota yang bangga pada Bait Allah dari batu putih dan pada keturunan Abraham yang tak terhitung banyaknya, Stefanus mengingatkan bahwa umat ini pernah muat dalam satu rombongan kecil yang mengungsi karena lapar. Allah tidak menjaga janji-Nya dengan jumlah, kekuasaan, atau tanah milik; Ia menjaganya dengan kesetiaan-Nya sendiri terhadap orang-orang yang bisa dihitung dengan jari. Kata "jiwa" di sini bukan abstraksi rohani; dalam bahasa Ibrani di belakangnya, nefesh berarti nyawa, orang, mulut yang harus diberi makan. Allah menghitung mulut-mulut itu satu per satu. Dan perhatikan ke mana Ia membawa mereka: keluar dari tanah perjanjian, masuk ke negeri asing, justru pada saat janji sedang bergerak maju. Keselamatan Allah hampir selalu datang lewat jalan yang terasa seperti kemunduran.
Benang Merah
Stefanus tidak sedang bernostalgia; ia sedang membangun sebuah pola, dan ayat ini adalah salah satu batu pijakannya. Tujuh puluh lima jiwa turun ke Mesir, dan beberapa kalimat kemudian ia berkata: "bangsa itu bertambah dan dilipatgandakan di Mesir." Dari rombongan pengungsi menjadi bangsa, dari bangsa menjadi budak, dari budak menjadi umat yang dibebaskan. Allah bekerja dengan menurunkan sebelum menaikkan. Dan yang mengundang mereka turun adalah saudara yang pernah mereka jual karena iri. Yusuf yang ditolak menjadi Yusuf yang menyelamatkan; Musa yang disingkirkan menjadi "penguasa maupun penyelamat"; dan di ujung daftar itu berdiri Seorang yang ditolak di kota ini juga, beberapa minggu sebelumnya. Stefanus tidak perlu mengeja namanya dulu. Pendengarnya sudah mulai gelisah sejak Yusuf disebut.
Cermin
Angka tujuh puluh lima mengganggu kita karena kita hidup dengan logika jumlah. Kita menghitung anggota kelompok kecil yang menyusut, anak-anak muda yang berhenti datang, saldo yang tidak cukup sampai akhir bulan, tahun-tahun yang tersisa untuk tubuh yang mulai mengkhianati kita. Kita diam-diam percaya bahwa Allah bekerja serius hanya di tempat yang ramai. Yakub berangkat ke Mesir sebagai orang tua yang kehilangan tanah, kehilangan kendali, dan harus berutang budi pada anak yang dulu ia tangisi sebagai mati. Dari sanalah sebuah bangsa lahir. Mungkin tempat hidupmu yang paling terasa seperti kemunduran, pindah kota karena pekerjaan, merawat orang tua, memulai lagi dari nol, justru di situlah janji sedang bergerak. Ambil kertas sekarang, tulis nama setiap orang dalam lingkaran kecilmu, hitung jumlahnya, lalu sebutkan angka itu kepada Allah dalam doa.
Detail
Perhatikan kata kerjanya: Yusuf "mengirim pesan dan mengundang." Dalam dunia Mesir, pesan dari seorang pejabat tinggi bukan ajakan ramah, melainkan panggilan resmi yang membawa izin perjalanan, jaminan pangan, dan tanah untuk ditinggali. Yusuf memakai seluruh berat jabatannya bukan untuk melindungi diri dari masa lalunya, melainkan untuk memanggil masa lalunya datang mendekat. Ia mengundang orang-orang yang pernah menelanjanginya dan menjualnya seharga beberapa keping perak, lengkap dengan istri, anak, ternak, dan seluruh sejarah pahit mereka. Kuasa di tangan orang yang pernah dikhianati biasanya berubah menjadi alat balas dendam. Di sini kuasa itu berubah menjadi undangan makan. Itulah bentuk paling awal dari anugerah dalam cerita Stefanus.
Konteks
Stefanus berdiri di ruang sidang Mahkamah Agama di Yerusalem, dikelilingi orang-orang yang hidupnya berputar di sekitar dua hal: Bait Allah dan Taurat. Tuduhannya persis itu, bahwa ia menghina keduanya. Yang ia lakukan adalah menceritakan ulang sejarah mereka sendiri, dengan satu penekanan yang tajam: Allah menampakkan diri kepada Abraham di Mesopotamia, menyertai Yusuf di Mesir, berbicara kepada Musa di padang belantara Sinai. Semuanya jauh dari Yerusalem, semuanya di luar tanah suci. Ayat 14 adalah momen ketika seluruh umat perjanjian secara resmi meninggalkan tanah perjanjian, dan Allah tidak ditinggalkan di belakang. Bagi pendengar yang percaya bahwa kehadiran Allah terikat pada satu bangunan batu, cerita ini terasa seperti tanah yang bergeser di bawah kaki.
Intertekstual
Kejadian 46 menceritakan bahwa dalam perjalanan ke Mesir, Yakub berhenti di Bersyeba dan mendengar Allah berkata agar ia jangan takut turun ke sana, sebab di sanalah ia akan dijadikan bangsa yang besar. Jadi perpindahan ini bukan improvisasi darurat karena kelaparan; itu langkah yang direstui. Dan Stefanus sendiri sudah memberi kuncinya di awal pidatonya, ketika mengutip janji kepada Abraham: "keturunannya akan menjadi pendatang di tanah yang asing dan bahwa mereka akan diperbudak serta dianiaya selama empat ratus tahun." Undangan Yusuf yang hangat itu membuka pintu menuju empat abad penderitaan yang sudah lebih dulu dinubuatkan. Allah tidak kaget. Jalan menuju pembebasan memang melewati perbudakan, dan Ia yang merancangnya juga yang menghitung tujuh puluh lima jiwa itu.
Refleksi
Di bagian hidupmu yang mana kamu sedang menilai pekerjaan Allah berdasarkan jumlah, dan apa yang berubah jika kamu membacanya seperti Stefanus membaca tujuh puluh lima jiwa?
Kuasa atau keunggulan apa yang ada di tanganmu sekarang, dan siapa yang bisa kamu "undang" dengan itu, bukan kamu kuasai?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 7:14
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 7:14?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 7:14?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 7:14?
Apa yang KISAH PARA RASUL 7:14 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 7:14 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 7
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Pada kunjungan kedua, Yusuf memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya." Kunjungan pertama mereka tidak mengenalinya. Butuh waktu kedua sebelum mata mereka terbuka. Stefanus sedang menyindir lembut: begitulah kita, sering gagal mengenali orang yang justru Tuhan pakai untuk menyelamatkan kita. Siapa yang kaulewatkan hari ini karena kau merasa sudah tahu siapa dia?
Tetapi, Allah berbalik dan menyerahkan mereka untuk menyembah benda-benda langit." Hukuman yang paling menakutkan bukan api dari langit, melainkan Tuhan yang membiarkanmu memiliki apa yang kauinginkan. Dan pertanyaan-Nya menusuk: empat puluh tahun kurban, tetapi apakah itu untuk-Ku? Kebiasaan rohani bisa berjalan bertahun-tahun tanpa hati di dalamnya. Hari ini, untuk siapa sebenarnya kau beribadah?
Mereka menutup telinga. Bukan membantah Stefanus, bukan mematahkan kata-katanya, hanya menutup telinga dan berteriak keras supaya suaranya tenggelam. "Akan tetapi, mereka berteriak dengan suara keras dan menutup telinga mereka, lalu bersama-sama menyerbu Stefanus." Kebenaran yang tidak bisa dibantah sering kali dibungkam dengan kebisingan. Apa yang kamu nyalakan keras-keras belakangan ini, supaya tidak perlu mendengar apa yang Tuhan katakan?
Tuhan, aku sering tahu apa yang Kau minta, tapi hidupku belum selalu mengikutinya. Ampuni jarak antara yang kudengar dan yang kulakukan. Tolong aku bukan cuma menyimpan firman-Mu, tapi menghidupinya hari ini.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi