ULANGAN 2:10
Nas
Di tengah catatan perjalanan, Musa tiba-tiba menyisipkan sebuah keterangan yang terdengar seperti catatan kaki seorang sejarawan: "Dahulu, orang-orang Emim tinggal di Ar. Mereka adalah bangsa yang besar, dan tinggi seperti orang Enak." Sebelum Moab menduduki Ar, tanah itu bukan tanah kosong. Di sana pernah berdiri sebuah bangsa yang besar jumlahnya dan menjulang tubuhnya, setara dengan orang Enak, raksasa yang empat puluh tahun sebelumnya membuat hati para pengintai Israel luluh. Ayat ini tidak memberi perintah, tidak memuat janji, tidak mengandung doa. Ia hanya menyebutkan sebuah nama yang sudah lama hilang dari peta. Emim, yang namanya sendiri berbau kengerian, kini hanya dikenang sebagai penghuni "dahulu". Mereka ada, lalu mereka tidak ada lagi.
Inti
Justru di sinilah letak bobot teologisnya. Israel gemetar terhadap orang Enak; satu generasi penuh mati di padang belantara karena laporan tentang raksasa terdengar lebih nyata daripada janji Allah. Sekarang Musa menunjuk sepetak tanah di sebelah timur dan berkata, pada dasarnya: di situ pun dahulu tinggal raksasa, dan mereka sudah lenyap. Yang melenyapkan mereka bukan Israel, melainkan Allah yang sama, demi Moab, bangsa yang bahkan bukan umat perjanjian. Artinya, kuasa Allah atas raksasa bukan hak istimewa Israel; itu sekadar cara Dia memerintah sejarah. Ketakutan Israel ternyata bukan soal ukuran musuh, melainkan soal ukuran Allah dalam pikiran mereka. Ayat yang tampak seperti catatan arkeologis ini sebenarnya adalah terapi iman: Allah sudah berulang kali merobohkan apa yang kaupikir tak terkalahkan.
Benang Merah
Perhatikan urutannya: raksasa dirobohkan sebelum penghuni baru tiba. Moab tidak pernah berhadapan dengan Emim dalam kekuatan sendiri; mereka mewarisi tanah yang sudah dikosongkan. Pola itu berulang di seluruh pasal ini, dan pola itulah yang kelak memuncak di Golgota. Sebab raksasa yang sesungguhnya bukan tinggi badan, melainkan maut, yang membuat seluruh umat manusia hidup dalam ketakutan seumur hidup. Surat Ibrani mengatakan Yesus mengambil darah dan daging justru untuk melucuti dia yang berkuasa atas maut dan membebaskan mereka yang seumur hidup terikat oleh ketakutan itu (Ibrani 2:14-15). Kristus tidak mengajari kita teknik melawan raksasa; Ia lebih dahulu masuk ke tanah itu dan menuntaskannya. Yang tersisa bagi kita adalah melangkah ke wilayah yang sudah dibereskan, sama seperti Moab melangkah ke Ar.
Cermin
Kita semua menyimpan daftar Enak pribadi. Hasil pemeriksaan dokter yang belum berani Anda buka. Atasan yang satu kalimatnya bisa merusak satu bulan. Utang yang angkanya tidak pernah mengecil. Anak remaja yang pintunya tertutup sejak enam bulan lalu. Yang membuat semua itu terasa raksasa bukan ukurannya, melainkan fakta bahwa kita mengukurnya tanpa memasukkan Allah ke dalam perhitungan, persis seperti para pengintai dahulu. Ayat ini tidak menghibur dengan berkata bahwa raksasa Anda sebenarnya kecil. Ia berkata bahwa sejarah penuh dengan raksasa yang sekarang hanya punya catatan kaki. Hari ini, ambil secarik kertas. Tulis satu nama raksasa yang sedang Anda takuti. Di bawahnya, tulis satu hal yang dahulu Anda kira akan menghancurkan Anda dan yang kini sudah lewat, lalu ucapkan dengan suara keras: "Tuhan yang itu adalah Tuhan yang ini."
Konteks
Musa berbicara di dataran Moab, di tepi timur Yordan, kepada angkatan yang lahir di padang belantara dan tidak pernah melihat Mesir. Mereka sedang berjalan melewati tetangga-tetangga yang sekaligus sanak saudara: Edom keturunan Esau, Moab dan Amon keturunan Lot. Israel saat itu adalah bangsa tanpa tanah, tanpa kota, tanpa pasar sendiri, yang harus membeli makanan dan air dengan uang dari bangsa-bangsa yang sudah mapan di wilayahnya. Posisi mereka lemah secara politis dan memalukan secara sosial. Di tengah situasi itu Musa menyelipkan pelajaran sejarah tentang penduduk lama Transyordan, nama-nama yang sudah tidak ada lagi: Emim, Hori, Zamzumim, Awi. Bagi generasi muda yang merasa paling kecil di antara semua bangsa, daftar ini adalah peta kuburan para raksasa.
Detail
Kata kuncinya adalah "seperti orang Enak". Enak bukan sekadar nama suku; itu kata yang pernah mematahkan iman seluruh bangsa. Laporan para pengintai di Bilangan 13 memakai nama itu sebagai palu terakhir: di sana ada orang Enak, kita seperti belalang. Nama itu menjadi tolok ukur kengerian Israel selama empat puluh tahun. Dan sekarang Musa memakai tolok ukur yang sama, tetapi membaliknya. Ia tidak menyangkal bahwa Emim setinggi orang Enak. Ia justru menegaskannya, lalu menempatkan seluruh kalimat dalam bentuk lampau: mereka "dahulu" tinggal di sana. Ukuran ketakutan Anda dipertahankan utuh, hanya waktunya yang digeser. Allah tidak mengecilkan raksasa Anda; Dia memindahkannya ke bentuk lampau.
Tokoh Utama
Yang paling mencolok dari ayat ini adalah bahwa nama TUHAN sama sekali tidak muncul di dalamnya. Hanya Emim, Ar, orang Enak. Seolah-olah ini murni catatan antropologi. Baru sebelas ayat kemudian Musa membuka kartunya tentang bangsa serupa di wilayah Amon: "Namun, TUHAN membinasakan mereka untuk orang Amon." Jadi di balik kalimat tanpa subjek ilahi itu ada Pelaku yang tidak menyebut nama-Nya. Inilah wajah Allah yang jarang kita gambarkan: Ia bekerja di dalam pergeseran bangsa-bangsa, migrasi, perang, dan keruntuhan peradaban, tanpa tanda tangan yang terlihat. Dia mengurus Moab dan Amon, bangsa-bangsa yang tidak menyembah-Nya, dengan tangan yang sama yang menuntun Israel. Allah seperti itu tidak mudah dimanipulasi, tetapi juga tidak pernah absen dari sejarah yang tampak sekuler, termasuk sejarah kecil hidup Anda.
Refleksi
Raksasa mana dalam hidup Anda yang sebenarnya sudah Allah robohkan, tetapi masih Anda perlakukan seolah ia berdiri?
Jika Allah bekerja bahkan bagi Moab dan Amon yang bukan umat perjanjian, apa artinya itu bagi cara Anda memandang orang-orang di luar lingkaran iman Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Deuteronomy 2:10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ULANGAN 2:10?
Tentang apakah ULANGAN 2:10?
Apa konteks historis dari ULANGAN 2:10?
Apa yang ULANGAN 2:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ULANGAN 2:10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Deuteronomy 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena di padang gurun pun Engkau menyediakan roti dan air bagi umat-Mu, bahkan uang untuk membelinya. Terima kasih Engkau mengajar kami hidup jujur, membayar dengan adil, dan tidak merampas hak orang lain demi kenyang sendiri.
Daerah itu juga dianggap sebagai negeri orang Refaim. Orang Refaim dahulu tinggal di sana, tetapi orang Amon menyebut mereka orang Zamzumim." Raksasa-raksasa itu kini hanya catatan kaki, bahkan namanya pun berbeda tergantung siapa yang mengingat. Yang kaugentarkan hari ini, apakah sebesar yang kaukira? Tuhan sudah lebih dulu melewatinya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi