KELUARAN 24:11
Teks
Tujuh puluh tua-tua Israel bersama Musa, Harun, Nadab, dan Abihu berdiri di gunung itu, dan yang terjadi di sana dicatat dengan kalimat yang hampir menahan napas: "Allah tidak mengulurkan tangan-Nya ke atas para pemimpin keturunan Israel itu, dan mereka pun melihat Allah, lalu makan dan minum." Penulis tidak menceritakan apa yang mereka lihat, hanya bahwa mereka melihat, dan bahwa mereka tetap hidup. Lalu, seolah tidak ada yang luar biasa, mereka duduk dan makan. Tidak ada kata-kata Allah yang dikutip di ayat ini. Tidak ada perintah, tidak ada teguran. Hanya kehadiran, keheningan, dan sebuah perjamuan di lereng gunung yang beberapa saat sebelumnya diselimuti larangan keras: jangan naik, jangan mendekat, jangan sentuh.
Inti
Yang paling mengejutkan bukan bahwa mereka melihat Allah, melainkan bahwa Allah menahan tangan-Nya. Kalimat itu ditulis secara negatif, seperti laporan tentang sesuatu yang seharusnya terjadi tetapi tidak terjadi. Di sini terbuka sesuatu yang tidak bisa kita rumuskan sampai tuntas: Allah yang kudus, yang di pasal sebelumnya memagari gunung dengan batas mati, kini memilih untuk tidak membinasakan. Dan pilihan itu bertumpu pada darah yang baru saja dipercikkan Musa ke atas bangsa itu, "darah perjanjian." Anugerah di sini bukan konsep, melainkan jarak yang tidak jadi dieksekusi. Kita terbiasa berbicara tentang keselamatan sebagai sesuatu yang diberikan; ayat ini memperlihatkannya juga sebagai sesuatu yang ditahan. Dan tanda bahwa perjanjian itu sungguh berlaku bukanlah penglihatan yang megah, melainkan hal paling biasa di dunia: makan dan minum di hadapan Allah, tanpa takut.
Benang Merah
Perjamuan di lereng Sinai itu tidak berdiri sendiri. Ia adalah pola yang akan diulang, dikoreksi, dan akhirnya digenapi. Israel makan di hadapan Allah karena darah telah dipercikkan; berabad-abad kemudian seorang Guru dari Nazaret mengangkat cawan di ruang atas dan berkata bahwa itulah darah perjanjian, dan sekali lagi ada makan dan minum di hadapan Allah. Kalimat Musa di ayat 8, "Lihatlah darah perjanjian," bergema di sana dengan sengaja. Yang berbeda hanyalah ini: di Sinai darah datang dari sapi jantan muda dan tangan Allah ditahan sementara; di Golgota darah itu milik Anak sendiri, dan tangan yang seharusnya terulur justru dipakukan. Maka setiap kali kita duduk di meja perjamuan, kita sedang mengulang gerak tua-tua Israel: hidup, padahal tidak seharusnya; makan, padahal seharusnya gentar.
Cermin
Kita cenderung mengukur kedekatan dengan Allah lewat intensitas: pengalaman yang menggetarkan, doa yang terasa, air mata di ibadah. Ayat ini menempatkan puncak perjumpaan pada sesuatu yang nyaris antiklimaks, yaitu makan dan minum. Mungkin justru di situ Anda diuji. Ketika hari terasa datar, ketika yang tersisa hanyalah sarapan tergesa sebelum berangkat kerja, tagihan yang menunggu, anak yang rewel, tubuh yang lelah, apakah Anda masih percaya bahwa Anda sedang berada di hadapan Allah yang menahan tangan-Nya atas Anda? Ada juga kebanggaan yang perlu dibongkar: para tua-tua itu tidak selamat karena kualitas rohani mereka, melainkan karena darah. Hari ini, makanlah satu kali makan dengan sengaja tanpa layar apa pun di depan Anda, dan sebelum suapan pertama katakan dengan suara terdengar: "Aku makan di hadapan Allah yang menahan tangan-Nya."
Profil
Bagi Israel yang baru saja keluar dari Mesir, dewa-dewa adalah kekuatan yang harus ditakuti dan dijinakkan. Mendekat berarti risiko; para imam Mesir masuk ke ruang dewa dengan ritual berlapis justru karena kedekatan itu berbahaya. Israel sendiri sudah mendengar guruh dan melihat gunung berasap, dan mereka diberi tahu dengan tegas: jangan naik. Maka laporan bahwa tujuh puluh tua-tua melihat Allah dan tetap bernapas bukanlah kalimat manis, melainkan berita yang mengguncang. Bagi mereka ini adalah pernyataan politik dan rohani sekaligus: Allah ini sungguh mengikat diri kepada bangsa budak ini. Dan makan bersama, dalam dunia Timur Dekat kuno, adalah tanda perjanjian yang mengikat, bukan sekadar kegiatan mengisi perut. Yang makan bersama tidak lagi saling mengancam.
Detail
Perhatikan apa yang dilihat mereka: bukan wajah, bukan tubuh, melainkan "di bawah kaki-Nya tampak sesuatu seperti lantai dari batu nilam yang tampaknya bagaikan langit yang cerah." Pandangan mereka berhenti di bawah, di lantai. Seolah mata manusia hanya sanggup menempuh sejauh itu, lalu menunduk. Dan bahkan lantai itu pun tidak digambarkan langsung; ia hanya "seperti" dan "bagaikan". Bahasa tersendat, perbandingan bertumpuk, karena tidak ada kata yang cukup. Justru keengganan penulis untuk menjelaskan inilah yang membuat ayat ini jujur. Ia menolak memuaskan rasa ingin tahu kita. Di mana kita ingin deskripsi, teks memberi keheningan. Mungkin itu bentuk hormat yang paling dalam: menyaksikan tanpa merasa berhak menjelaskan.
Tokoh Utama
Tokoh utama ayat ini adalah Allah, dan yang paling mencolok dari-Nya adalah apa yang tidak Ia lakukan. Ia tidak berbicara. Ia tidak menuntut. Ia tidak mengulurkan tangan. Kekudusan-Nya tidak berkurang sedikit pun, sebab beberapa ayat kemudian kemuliaan-Nya tampak "seperti api yang melahap di puncak gunung itu." Api itu tidak padam; ia hanya ditahan. Inilah wajah Allah yang sulit kita pegang secara utuh: sepenuhnya berbahaya dan sepenuhnya ramah, dalam satu momen yang sama. Ia mengizinkan manusia duduk dan mengunyah roti di hadapan-Nya. Bukan karena Ia menjadi lebih lunak, melainkan karena Ia telah mengikat diri melalui darah. Kasih-Nya bukan pelonggaran kekudusan, melainkan bentuk paling mahal darinya.
Refleksi
Di bagian mana hidup Anda saat ini, tangan Allah sebenarnya sedang ditahan, dan Anda menyebutnya "biasa saja"?
Apa yang berubah dalam cara Anda makan, bekerja, dan beristirahat jika Anda sungguh percaya bahwa Anda melakukannya di hadapan Allah yang hadir?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Exodus 24:11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KELUARAN 24:11?
Tentang apakah KELUARAN 24:11?
Apa konteks historis dari KELUARAN 24:11?
Apa yang KELUARAN 24:11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KELUARAN 24:11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Exodus 24
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Setengah darah untuk mazbah, setengah untuk umat. "Musa mengambil setengah dari darah itu dan menaruhnya dalam bejana-bejana, dan setengah dari darah itu dia percikkan ke atas mazbah." Satu darah, dibagi dua, supaya Allah dan manusia terikat dalam perjanjian yang sama. Kamu tidak sedang berhubungan dengan Allah lewat janjimu yang goyah, tetapi lewat darah yang menyentuh kedua belah pihak.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi