Penjelasan Alkitab

EZRA 5

Alkitab
Pasal ini hadir berkat JL Group

Teks Itu Sendiri

Setelah bertahun-tahun pekerjaan terhenti, dua nabi, Hagai dan Zakharia, mulai bernubuat, dan Zerubabel serta Yesua bangkit melanjutkan pembangunan Bait Allah. Belum lama palu berbunyi, datanglah Tatnai, gubernur wilayah seberang sungai Efrat, dengan rombongan pejabatnya, menuntut tahu siapa yang memberi izin dan mencatat nama-nama para pemimpin. Para tua-tua Yahudi menjawab dengan sebuah kisah, bukan dengan surat izin, dan Tatnai mengirim laporan kepada Raja Darius, meminta agar arsip kerajaan di Babel diperiksa: benarkah Koresh pernah mengeluarkan perintah itu? Sementara surat itu berjalan ribuan kilometer, pekerjaan terus berlangsung.

Inti

Ayat 5 adalah jantung pasal ini: "mata Allah tertuju kepada para tua-tua orang Yahudi sehingga mereka tidak dapat menghentikan para pekerja." Perhatikan apa yang tidak terjadi. Tidak ada api dari langit, tidak ada pejabat Persia yang jatuh sakit, tidak ada mukjizat yang bisa diceritakan ulang. Yang terjadi hanyalah ini: birokrasi berjalan lambat, surat dikirim, dan selama surat itu dalam perjalanan, batu demi batu tetap disusun. Penjagaan Allah di sini berbentuk penundaan administratif. Itu mengganggu selera rohani kita yang haus tontonan, tetapi justru di situ letak penghiburannya. Allah memerintah bukan hanya lewat gempa, melainkan lewat kelambanan kantor pos kekaisaran. Pemeliharaan-Nya sering tidak terlihat sampai kita menoleh ke belakang.

Benang Merah

Jawaban para tua-tua itu menarik: mereka tidak menyebut Koresh lebih dulu, melainkan mengaku, "Kami adalah hamba-hamba Allah semesta langit dan bumi," lalu langsung mengakui dosa nenek moyang mereka yang "membangkitkan kemarahan Allah semesta langit." Di hadapan pejabat kafir, mereka bersaksi bahwa reruntuhan itu bukan bukti kelemahan Allah, melainkan bukti keadilan-Nya. Inilah pola yang mengalir ke seluruh Kitab Suci: penghakiman yang jujur diakui, lalu pemulihan yang tidak layak diterima. Bait yang dibangun kembali ini kelak akan diinjak kaki Yesus, yang berkata tentang tubuh-Nya sendiri: robohkan bait ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali (Yohanes 2:19). Batu-batu besar Zerubabel menunjuk pada Bait yang terakhir, yang tidak bisa dihentikan oleh surat kekaisaran mana pun.

Cermin

Kita hidup dengan kebiasaan menunggu izin. Menunggu suasana hati yang tepat, menunggu atasan yang lebih pengertian, menunggu keluarga mendukung, menunggu keuangan aman, sebelum memulai sesuatu yang kita tahu seharusnya kita lakukan. Lima belas tahun Bait Allah terbengkalai bukan karena larangan resmi, melainkan karena perlawanan membuat orang kehilangan selera. Lalu dua nabi berbicara, dan Zerubabel "bangkit dan mulai membangun" sebelum ada satu pun jaminan dari Darius. Mereka membangun dulu, surat menyusul kemudian. Mungkin ada pekerjaan yang Anda tinggalkan setengah jadi: percakapan yang tertunda, kebiasaan doa yang berhenti, pelayanan yang Anda lepaskan diam-diam karena ada yang menyinggung Anda.

Hari ini juga, kerjakan satu langkah terkecil dari pekerjaan yang Anda tinggalkan itu, tanpa menunggu izin siapa pun: buka kembali buku catatan doa itu dan tulis satu baris, atau kirim satu pesan yang sudah berbulan-bulan Anda tunda.

Tokoh Utama

Zerubabel adalah cucu raja yang tidak pernah menjadi raja. Darah Daud mengalir di tubuhnya, tetapi gelarnya hanyalah gubernur kecil di provinsi miskin di bawah Persia. Ia tahu betul bahwa menolak menjawab pejabat kekaisaran bisa berujung pada nasib seperti kakeknya di Babel. Namun yang mencolok adalah keheningannya: pasal ini tidak mencatat sepatah kata pun dari mulutnya kepada Tatnai. Ia tidak berdebat, tidak membela diri, tidak berhenti. Ia membangun. Kadang keberanian iman tidak berbentuk pidato melainkan ketekunan yang membosankan, hari demi hari, sementara ancaman menggantung dan jawaban belum datang. Para nabi "menyertai dan mendukung" dia; bahkan keturunan Daud pun tidak sanggup berdiri sendiri.

Konteks

Tahun 520 SM, Yerusalem masih kota setengah puing. Yehuda hanyalah sepetak kecil dalam satrapi besar bernama "seberang sungai", wilayah di sebelah barat Efrat yang membentang dari Suriah sampai Mesir. Kedatangan Tatnai bukan kunjungan ramah: rombongan pejabat berkuda, juru tulis dengan gulungan, pertanyaan tentang nama-nama. Mencatat nama berarti menyiapkan daftar tersangka. Darius baru saja naik takhta setelah tahun penuh pemberontakan di seluruh kekaisaran; setiap tembok yang dibangun di provinsi jauh dicurigai sebagai persiapan makar. Karena itu pertanyaan tentang "tembok ini" terdengar seperti tuduhan. Bayangkan debu kapur, bau kayu cedar yang baru dipasang, dan para tua-tua berdiri di antara batu-batu besar, menjawab dengan tenang di hadapan orang yang berkuasa mencabut nyawa mereka.

Pertanyaan

Mengapa Allah membiarkan lima belas tahun terbuang? Jika mata-Nya memang tertuju pada umat-Nya, Ia bisa menjaga pekerjaan itu sejak semula. Kitab Ezra tidak memberi penjelasan yang memuaskan. Hagai menuduh umat itu sibuk dengan rumah mereka sendiri, dan itu benar, tetapi tetap saja: belasan tahun fondasi terbengkalai sementara Allah diam. Saya tidak bisa merapikan itu. Yang bisa saya katakan hanyalah bahwa Allah tampaknya tidak terburu-buru seperti kita, dan bahwa keterlambatan bukan pembatalan. Ia bekerja dalam rentang waktu yang tidak mengindahkan kesabaran kita. Mereka yang mati dalam masa lima belas tahun itu tidak pernah melihat atapnya. Itu bagian dari iman yang tidak bisa dihaluskan.

Refleksi

Di mana dalam hidup Anda "mata Allah" mungkin sedang bekerja lewat hal-hal yang terasa seperti kelambanan dan penundaan biasa?

Para tua-tua itu mengakui dosa nenek moyang mereka di depan orang asing. Kejujuran macam apa tentang masa lalu Anda sendiri yang masih Anda hindari?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ezra 5

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti EZRA 5?
Setelah bertahun-tahun pekerjaan terhenti, dua nabi, Hagai dan Zakharia, mulai bernubuat, dan Zerubabel serta Yesua bangkit melanjutkan pembangunan Bait Allah. Belum lama palu berbunyi, datanglah Tatnai, gubernur wilayah seberang sungai Efrat, dengan rombongan pejabatnya, menuntut tahu siapa yang memberi izin dan mencatat nama-nama para pemimpin.
Tentang apakah EZRA 5?
Jawaban para tua-tua itu menarik: mereka tidak menyebut Koresh lebih dulu, melainkan mengaku, "Kami adalah hamba-hamba Allah semesta langit dan bumi," lalu langsung mengakui dosa nenek moyang mereka yang "membangkitkan kemarahan Allah semesta langit." Di hadapan pejabat kafir, mereka bersaksi bahwa reruntuhan itu bukan bukti kelemahan Allah, melainkan bukti keadilan-Nya.
Apa konteks historis dari EZRA 5?
Hari ini juga, kerjakan satu langkah terkecil dari pekerjaan yang Anda tinggalkan itu, tanpa menunggu izin siapa pun: buka kembali buku catatan doa itu dan tulis satu baris, atau kirim satu pesan yang sudah berbulan-bulan Anda tunda.
Apa yang EZRA 5 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Tahun 520 SM, Yerusalem masih kota setengah puing. Yehuda hanyalah sepetak kecil dalam satrapi besar bernama "seberang sungai", wilayah di sebelah barat Efrat yang membentang dari Suriah sampai Mesir. Kedatangan Tatnai bukan kunjungan ramah: rombongan pejabat berkuda, juru tulis dengan gulungan, pertanyaan tentang nama-nama.
Bagaimana EZRA 5 masih relevan hari ini?
Di mana dalam hidup Anda "mata Allah" mungkin sedang bekerja lewat hal-hal yang terasa seperti kelambanan dan penundaan biasa?
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang Ezra 5

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Doa Editorial pada ayat 8

Tuhan, Engkau tahu betapa lambatnya pekerjaan yang kami kerjakan terasa. Batu demi batu, hari demi hari. Tolong kami tetap tekun, dan biarlah apa yang kami bangun bertumbuh dalam tangan-Mu, bukan hanya dalam tenaga kami sendiri.

Doa Editorial pada ayat 1

Tuhan, ada pekerjaan baik yang kutinggalkan setengah jalan karena lelah dan takut. Kirimkan suara yang membangunkan aku lagi, dan beri aku keberanian untuk mulai memalu paku pertama. Aku percaya Engkau tetap menyertai yang kembali bekerja.

Wawasan Editorial pada ayat 12

Ketika para pemimpin Yahudi ditanya pejabat Persia siapa yang menyuruh mereka membangun, jawaban mereka justru dimulai dengan pengakuan dosa: "Akan tetapi, karena nenek moyang kami membangkitkan murka Allah semesta langit, Dia menyerahkan mereka ke tangan Nebukadnezar."

Mereka tidak menutupi reruntuhan itu. Mereka menyebut sebabnya. Dan justru dari kejujuran seperti itulah bangunan baru mulai berdiri. Apa yang masih kausamarkan hari ini?

Wawasan Editorial pada ayat 13

Perhatikan satu kata kecil yang membelokkan seluruh cerita: "Akan tetapi, pada tahun pertama Koresh, raja Babel, Raja Koresh mengeluarkan perintah untuk membangun kembali Bait Allah ini." Sebelum itu hanya ada reruntuhan, pembuangan, dan kesalahan sendiri. Lalu Allah menggerakkan hati seorang raja asing. Reruntuhan dalam hidupmu belum tentu kalimat terakhirmu.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi