KEJADIAN 50:20
Teks
Di ruangan itu, saudara-saudara yang dulu menjual Yusuf kini tersungkur di lantai, menyebut diri mereka budak, takut bahwa kematian Yakub telah melepaskan rem terakhir pada dendam adik mereka. Jawaban Yusuf tidak menghapus apa pun: ya, kalian memang merancang kejahatan terhadapku. Tetapi di atas rancangan mereka ada rancangan lain, "Allah merancang yang baik untuk melakukan sebagaimana yang terjadi saat ini, untuk menyelamatkan hidup banyak orang." Dua kehendak bertemu pada satu peristiwa yang sama: sumur di Dotan, karavan ke Mesir, tahun-tahun penjara. Satu peristiwa, dua penulis, dan hanya satu yang menentukan ke mana ceritanya bermuara.
Inti
Yang mengejutkan bukan bahwa Yusuf mengampuni, melainkan bagaimana ia menalar. Ia tidak berkata bahwa kejahatan itu sebenarnya tidak seburuk kelihatannya, tidak pula bahwa segalanya toh berakhir baik sehingga masa lalu boleh dihapus. Kata kerjanya sama untuk kedua pihak: khashav, "merancang, memperhitungkan". Saudara-saudara itu duduk dan menghitung cara menyingkirkan Yusuf; Allah duduk dan menghitung cara menyelamatkan banyak nyawa, memakai perhitungan mereka sebagai bahan. Ini bukan takdir yang meratakan tanggung jawab manusia, sebab kejahatan tetap disebut kejahatan di hadapan pelakunya. Inilah cara Allah memerintah dunia yang bengkok: bukan dengan mencegah setiap tangan jahat, melainkan dengan menenun hasil tangan itu ke dalam maksud-Nya yang menyelamatkan, tanpa pernah menjadi pemilik dosanya.
Benang Merah
Kalimat Yusuf ini adalah cetak biru kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Seorang anak yang dibenci saudara-saudaranya, dijual dengan uang perak, dihitung sudah mati, ternyata justru menjadi jalan agar "banyak orang" tetap hidup. Pola itu tidak berhenti di Mesir. Berabad-abad kemudian, di Yerusalem, tangan-tangan manusia merancang penyingkiran seorang Anak lagi, dan Petrus pada hari Pentakosta memakai persis logika ganda Yusuf: kalian menyalibkan Dia dengan tangan orang durhaka, dan itu terjadi menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditetapkan. Tanggung jawab manusia utuh, kedaulatan Allah utuh, dan keduanya bertemu di satu peristiwa. Yusuf memberi gandum; Kristus memberi diri-Nya. Yusuf menyelamatkan nyawa untuk satu generasi kelaparan; Kristus menyelamatkan hidup yang tidak berkesudahan. Tetapi tata bahasanya sama: kejahatan manusia menjadi bahan mentah bagi keselamatan Allah.
Cermin
Ada bahaya nyata memakai ayat ini terlalu cepat. Kalimat ini keluar dari mulut korban, bukan dari mulut penonton. Yusuf berhak mengatakannya; orang lain tidak berhak mengatakannya kepada Yusuf. Karena itu, sebelum Anda menempelkan ayat ini pada penderitaan orang lain, tanyakan: apakah saya sedang menghibur, atau sedang membungkam? Dan untuk luka Anda sendiri, perhatikan bahwa Yusuf butuh puluhan tahun, dua kali menangis, dan sebuah pemakaman sebelum ia sampai di kalimat ini. Ia tidak melompat ke sana dari dasar sumur. Yang dituntut hari ini bukan perasaan damai yang dipaksakan, melainkan kejujuran: menyebut yang jahat sebagai jahat, sambil menolak menjadi hakim. Ambil satu nama orang yang pernah melukai Anda, tulis namanya di kertas atau di ponsel, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Apa yang kaulakukan itu jahat, dan aku bukan pengganti Allah." Berhenti di situ. Jangan tambahkan apa pun.
Konteks
Bayangkan ruangannya. Ini bukan tenda gembala di Kanaan, tetapi bangunan batu di ibu kota Mesir, dengan pengawal di pintu dan juru tulis yang mencatat. Yusuf adalah orang kedua di kerajaan paling kuat di dunia yang mereka kenal, pemegang kunci lumbung negara di tahun-tahun kelaparan. Ia baru pulang dari iring-iringan pemakaman yang begitu besar sehingga orang Kanaan menyebut tempat itu Abel-Mizraim, "perkabungan Mesir". Ayahnya sudah di gua Makhpela. Rem sosial terakhir hilang. Dalam dunia kuno, kepala keluarga adalah penahan dendam; selama Yakub hidup, Yusuf tidak akan menyentuh saudara-saudaranya. Sekarang Yakub mati, dan sepuluh laki-laki dewasa, kepala-kepala suku masa depan, tersungkur di lantai istana berkata, "Lihatlah, kami adalah hambamu." Mereka tahu persis apa yang bisa dilakukan seorang wazir Mesir yang tersinggung.
Detail
Perhatikan tiga kata yang mudah terlewat: "sebagaimana yang terjadi saat ini". Yusuf tidak sedang berteori tentang kedaulatan Allah. Ia menunjuk. Di luar jendela istana ada lumbung-lumbung yang penuh, ada jalan-jalan kota yang tidak dipenuhi mayat, ada tanah Gosyen tempat kambing domba keluarga Yakub merumput. Bukti maksud baik Allah bukan janji tentang masa depan, melainkan sesuatu yang bisa dihitung hari itu juga: perut yang terisi, keluarga yang utuh, tujuh puluh jiwa yang seharusnya mati kelaparan tetapi masih bernapas. Inilah yang membuat ayat ini berbeda dari optimisme kosong. Yusuf berbicara sesudah, bukan sebelum. Dan itu jujur: ada penderitaan yang maksud baiknya baru kelihatan bertahun-tahun kemudian, dan ada yang tidak pernah kelihatan di dunia ini.
Tokoh Utama
Yusuf yang berdiri di ruangan itu bukan orang yang tidak terluka. Perhatikan bahwa ia menangis ketika mendengar pesan saudara-saudaranya, pesan yang kemungkinan besar mereka karang sendiri, karena Yakub tidak pernah tercatat menitipkan kata-kata itu. Yusuf menangis bukan karena terharu, melainkan karena setelah tujuh belas tahun hidup bersama di Gosyen, saudara-saudaranya masih menganggap ia sedang menunggu waktu untuk membalas. Ia telah memberi makan mereka, dan mereka tetap melihat algojo. Yang luar biasa dari Yusuf adalah ia tidak marah atas kecurigaan itu. Ia menenangkan mereka, "berbicara dengan baik", secara harfiah berbicara ke hati mereka. Kekuasaannya nyata, dan ia memilih memakainya untuk memelihara, bukan menghukum. Itu bukan kelemahan; itu adalah kekuatan yang sudah dijinakkan oleh pengenalan akan Allah.
Intertekstual
Ini bukan pertama kalinya Yusuf mengatakan hal semacam ini. Di Kejadian 45, saat ia membuka jati dirinya, ia sudah berkata bahwa bukan mereka yang mengirimnya ke Mesir melainkan Allah, dan bahwa Allah melakukannya untuk memelihara kehidupan. Tetapi di sana nadanya menghibur dan hampir melunakkan kesalahan mereka. Di pasal 50, sesudah kematian ayahnya, nadanya lebih keras dan lebih jujur: kejahatan disebut kejahatan, tanpa dilembutkan, dan justru di situ pengampunannya menjadi lebih kokoh. Bandingkan juga dengan Roma 8:28, di mana Paulus mengatakan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan orang yang mengasihi Dia. Paulus tidak menjanjikan bahwa segala sesuatu itu baik; ia menjanjikan Pekerja yang tidak pernah kehabisan bahan.
Profil
Kitab Kejadian dibaca dan diceritakan oleh keturunan sepuluh orang yang tersungkur di lantai itu, dan mereka membacanya sesudah Mesir berubah menjadi rumah perbudakan. Ini penting. Bagi mereka, kalimat Yusuf bukan cerita manis tentang rekonsiliasi keluarga; itu adalah dasar bagi keberadaan mereka sendiri. Seandainya Yusuf membalas, tidak ada dua belas suku. Mereka juga mendengar sesuatu yang menyengat: nenek moyang kami adalah para penjual saudara, dan bangsa ini berdiri semata-mata karena Allah menenun kejahatan mereka menjadi keselamatan. Tidak ada ruang untuk membanggakan asal-usul. Dan bagi generasi yang kemudian berjalan di padang gurun, ayat ini menjadi jangkar: Allah yang dulu memakai sumur dan karavan budak untuk memelihara hidup masih Allah yang sama di sini, di antara pasir dan keluhan.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak diselamatkan? Kelaparan itu nyata, dan tidak semua orang di Mesir dan Kanaan sampai ke lumbung Yusuf tepat waktu. Teks berkata Allah merancang yang baik "untuk menyelamatkan hidup banyak orang", bukan semua orang. Kalimat ini menghibur mereka yang selamat dan diam terhadap mereka yang tidak. Dan pertanyaan yang lebih tajam: jika Allah memakai kejahatan saudara-saudara Yusuf, apakah kejahatan itu jadi diperlukan? Teks menolak menjawab. Ia menaruh dua kalimat berdampingan tanpa menjelaskan sambungannya, dan setiap usaha kita mengisi celah itu selalu berakhir dengan mengorbankan salah satu sisi. Yang bisa kita pegang hanyalah ini: Yusuf tidak menyimpulkan bahwa dosa itu ringan, dan tidak menyimpulkan bahwa Allah tidak memerintah. Ia berdiri di antara keduanya, menangis, dan memberi makan.
Refleksi
Di bagian mana hidup Anda, Anda masih menunggu Allah menjelaskan maksud-Nya, dan apa yang berubah kalau Anda menerima bahwa penjelasan itu mungkin datang jauh kemudian atau tidak sama sekali?
Saudara-saudara Yusuf sudah diampuni bertahun-tahun, tetapi tetap hidup dalam ketakutan. Adakah pengampunan yang sudah Anda terima, dari Allah atau dari orang lain, yang belum benar-benar Anda percayai?
Yusuf memiliki kuasa untuk menghancurkan dan memilih memelihara. Di mana Anda memegang kekuasaan atas orang lain, sekecil apa pun, dan bagaimana Anda memakainya minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 50:20
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 50:20?
Tentang apakah KEJADIAN 50:20?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 50:20?
Apa yang KEJADIAN 50:20 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 50:20 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 50
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Yusuf boleh memerintahkan para tabib merempah-rempahi ayahnya. Dari situ aku belajar bahwa tubuh orang yang kami kasihi berharga di mata-Mu. Terima kasih untuk tangan-tangan yang merawat jenazah dengan hormat, dan untuk ruang berkabung yang Engkau berikan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi