YESAYA 46:4
Teks
Sampai rambutmu memutih, kata Tuhan, Aku tetap Dia. Ayat ini menempatkan seluruh rentang hidup seorang manusia, dari rahim sampai usia renta, di dalam satu gerakan tangan Allah yang tidak berubah: yang menopang sejak dalam kandungan, yang menggendong sampai tua, yang membawa dan yang menyelamatkan. Empat kata kerja beruntun, semuanya dengan subjek yang sama, semuanya dengan objek yang sama, dan objek itu adalah engkau. Tidak ada satu pun kata kerja yang menuntut sesuatu darimu. Dalam ayat sebelumnya patung Bel dan Nebo harus diangkat ke atas punggung binatang yang lelah; di sini Allah sendirilah yang menjadi punggung itu. Perbedaannya sederhana dan menghantam: siapa menggendong siapa.
Inti
Yang membuat ayat ini berat bukan janjinya, melainkan siapa yang mengucapkannya. "Aku tetap Dia" adalah pernyataan tentang kesinambungan diri Allah, bukan tentang suasana hati-Nya. Dunia ini penuh allah yang harus dipindahkan, dibersihkan, dibela, dijaga agar tidak jatuh; berhala selalu menjadi beban bagi penyembahnya, dan kelelahan itu biasanya baru terasa ketika kita sudah terlalu tua untuk menggantinya. Israel di pembuangan melihat dewa-dewa Babel diarak keluar kota, dan justru di situ terdengar suara yang berkata: Aku tidak perlu kaubawa. Keselamatan di sini bukan peristiwa tunggal di masa lalu, melainkan gendongan yang berlangsung seumur hidup. Anugerah, dalam ayat ini, berbentuk sangat jasmani: dua lengan yang tidak melepaskan, bahkan ketika tubuh yang digendong sudah tidak berguna bagi siapa pun lagi.
Benang Merah
Gendongan bukan gambaran sampingan dalam Alkitab; itu salah satu cara Allah menceritakan sejarah-Nya sendiri. Ia menggendong Israel keluar dari Mesir, menuntun mereka melewati padang gurun seperti seseorang menggendong anaknya, dan di sini Ia bersumpah melakukannya sampai rambut umat-Nya memutih. Yang mengejutkan adalah arah gerakan itu tidak pernah berbalik. Allah tidak pernah beralih dari menggendong menjadi digendong, kecuali satu kali: ketika Ia sendiri datang sebagai bayi yang harus digendong, lalu sebagai Orang yang memikul kayu salib di bahu-Nya sendiri. Di Golgota kalimat "Aku akan membawa dan akan menyelamatkanmu" berhenti menjadi metafora. Beban yang dalam pasal ini melelahkan binatang-binatang Babel, dan yang dalam hidup kita melelahkan kita sendiri, akhirnya dipikul oleh punggung yang bisa menanggungnya. Perjanjian Lama menjanjikan lengan itu; Perjanjian Baru menunjukkan bekas lukanya.
Cermin
Ayat ini menyentuh ketakutan yang jarang kita ucapkan: ketakutan menjadi tidak berguna. Kita hidup di dunia yang menilai orang dari apa yang bisa mereka pikul, dan karena itu kita diam-diam mengukur diri dari kapasitas kita menanggung: menanggung pekerjaan, menanggung keuangan keluarga, menanggung orang tua yang mulai pikun, menanggung nama baik. Lalu datang hari ketika lutut tidak lagi kuat, ketika anak-anak mengambil alih keputusan, ketika tubuh yang dulu melayani sekarang harus dilayani. Di titik itu banyak orang percaya diam-diam merasa Allah pun kehilangan alasan untuk menyimpan mereka. Ayat ini membantah itu dengan keras: Ia tidak menggendong karena engkau berguna, Ia menggendong karena Ia telah membuatmu. Hari ini, tuliskan satu nama orang tua atau orang lanjut usia yang kaukenal, lalu telepon dia sebentar dan bacakan ayat ini dengan suara keras kepadanya.
Tokoh Utama
Yang berbicara di sini adalah Allah yang sedang membandingkan diri-Nya dengan patung-patung yang sedang diusung keluar kota, dan nada-Nya bukan nada menang-menangan melainkan nada seseorang yang gemas melihat umat-Nya salah memilih. Perhatikan betapa Ia menyebut diri-Nya bukan dengan gelar besar, melainkan dengan pekerjaan yang biasanya dilakukan seorang ibu atau seorang hamba: menopang, menggendong, membawa. Allah yang dalam ayat sepuluh berkata rencana-Nya akan tetap teguh, adalah Allah yang sama yang di sini menunduk untuk mengangkat orang tua renta. Kedaulatan dan kelembutan tidak bersaing dalam diri-Nya; keduanya keluar dari mulut yang sama dalam satu tarikan napas. Inilah potret Allah yang tidak memerlukan apa pun dari kita, dan justru karena itu bisa memberikan segalanya tanpa syarat tersembunyi.
Pertanyaan
Kalau Allah menggendong, mengapa begitu banyak orang tua percaya yang jatuh, yang pikun, yang mati sendirian di ruang rumah sakit? Ayat ini tidak menjanjikan bahwa kita tidak akan pernah terjatuh; ia menjanjikan bahwa kita tidak akan pernah terlepas. Perbedaannya tipis dan tidak selalu menghibur. Israel mendengar kalimat ini justru sambil berada di pembuangan, bukan setelah dibebaskan; janji digendong diucapkan kepada orang-orang yang secara lahiriah sedang diseret. Mungkin memang begitu cara kerjanya: gendongan Allah sering baru terlihat dari belakang, ketika kita menengok ke tahun-tahun yang sudah lewat dan menyadari kita tidak pernah berjalan sendirian sebanyak yang kita kira. Sisanya tetap gelap, dan ayat ini tidak menyalakan lampu di sana.
Detail
"Aku tetap Dia." Dalam bahasa Ibrani hanya dua kata, ani hu, secara harfiah "Aku Dia", tanpa kata kerja sama sekali. Kalimat itu nyaris tidak bisa diterjemahkan tanpa terdengar janggal, dan kejanggalan itu adalah intinya. Segala sesuatu dalam ayat ini bergerak: engkau dilahirkan, engkau bertumbuh, engkau menua, rambutmu memutih. Hanya satu hal yang tidak punya kata kerja, tidak berubah, tidak menua, tidak perlu diangkat ke atas bahu binatang mana pun. Ani hu, gema jauh dari nama yang terdengar di semak duri yang menyala. Dan ketika kelak Yesus berkata "Akulah Dia", telinga Yahudi mendengar persis kalimat ini. Nama itu berdiri diam di tengah ayat seperti batu di sungai, dan di batu itulah seluruh hidupmu bersandar.
Refleksi
Bagian mana dari hidupmu yang diam-diam kaupikul sendiri, seolah Allah menunggu engkau kuat lebih dulu sebelum Ia mau menggendong?
Kalau engkau menengok ke belakang, di mana engkau baru sekarang mengenali bahwa engkau sedang digendong padahal saat itu merasa ditinggalkan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 46:4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 46:4?
Tentang apakah YESAYA 46:4?
Apa konteks historis dari YESAYA 46:4?
Apa yang YESAYA 46:4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 46:4 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Isaiah 46?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi