YESAYA 46:3
Teksnya
Di tengah gemuruh berhala Babel yang sedang diangkut pergi, terdengar satu suara yang berbeda: "Dengarlah Aku, hai keluarga Yakub, dan semua yang tersisa dari keluarga Israel." Allah memanggil umat-Nya yang tinggal sedikit itu untuk mendengar satu hal saja, yaitu bahwa Dialah yang telah menopang mereka sejak dalam kandungan dan membawa mereka sejak lahir. Bukan ajakan untuk berbuat sesuatu, melainkan ajakan untuk mengingat siapa yang selama ini menggendong.
Intinya
Bayangkan jalan-jalan Babel pada perayaan tahun baru: patung Bel dan Nebo diarak dengan kereta, dupa membubung, imam-imam berbaju linen, kerumunan bersorak. Kini gambaran itu dibalik. Kota terancam, dan patung-patung emas yang berat itu buru-buru dinaikkan ke punggung lembu yang sudah lelah. Dewa-dewa harus diungsikan oleh penyembahnya. Di sinilah ayat 3 menusuk: Israel tidak pernah menggendong Allahnya. Justru sebaliknya. Sepanjang sejarah mereka, Tuhanlah yang memikul. Perbedaan antara agama Babel dan iman Israel bukan soal jumlah dewa, tetapi soal arah beban. Berhala menuntut dipikul; Tuhan memikul. Itu bukan detail kecil, melainkan pembeda paling mendasar antara sesuatu yang kita buat dan Seseorang yang membuat kita.
Benang Merah
Perhatikan bahwa Allah memakai bahasa kandungan dan kelahiran untuk bangsa, bukan untuk pribadi. Ia sedang mengingatkan Israel pada Mesir, pada Laut Teberau, pada empat puluh tahun di padang gurun. Musa pernah berkata bahwa di padang gurun Tuhan mengangkat Israel seperti seorang ayah mengangkat anaknya sepanjang jalan; ayat ini mengambil gambaran itu dan meneruskannya sampai ke pembuangan. Dan benang itu tidak berhenti di Babel. Puncaknya adalah Anak yang datang dan berkata kepada orang-orang yang letih dan sarat beban: datanglah kepada-Ku. Salib adalah bentuk paling ekstrem dari kalimat "Aku akan menggendongmu": Allah yang memikul apa yang tidak sanggup dipikul manusia, sampai punggung-Nya patah.
Cermin
Kita jarang mengarak patung, tetapi kita hafal rasa lelah menggendong sesuatu yang seharusnya menopang kita. Karier yang dulu dipilih untuk memberi rasa aman, kini menuntut waktu, tidur, dan kesehatan Anda. Reputasi di gereja yang harus dijaga setiap Minggu. Tabungan yang setiap malam Anda periksa, seolah angka itu bisa menjawab ketika Anda menangis. Nama baik anak-anak yang Anda pikul di punggung sendiri. Semua itu berat, dan semuanya diam. Teks ini tidak menyuruh Anda berusaha lebih keras. Ia menyuruh Anda mendengar, lalu bertanya jujur: apa yang sedang saya angkut, yang sebenarnya tidak pernah bisa mengangkut saya? Dan sudah berapa lama punggung saya sakit karenanya?
Gema Kitab Suci
Dua gema patut disebut. Pertama, Ulangan 1: Musa mengingatkan generasi baru bahwa di padang gurun Tuhan membawa mereka seperti ayah membawa anaknya. Yesaya menulis kepada orang-orang yang kehilangan tanah dan Bait Allah, dan sengaja memakai ingatan lama itu untuk mengatakan: yang dulu menggendong kalian keluar dari Mesir masih menggendong kalian di Babel. Kedua, undangan Yesus kepada mereka yang letih dan berbeban berat dalam Matius 11. Kata "beban" di Yesaya 46 dipakai untuk barang bawaan berhala; Yesus memakainya untuk manusia. Kedua teks itu bertemu pada satu titik yang sama: agama yang membebani bukan berasal dari Allah yang memperkenalkan diri di sini.
Detail
Jangan lewati frasa "semua yang tersisa dari keluarga Israel." Kata Ibrani she'erit, sisa, adalah kata yang menyakitkan. Itu kata untuk kain yang tinggal sepotong, untuk pasukan yang pulang tanpa sebagian besar anggotanya. Israel di Babel memang tinggal sisa: kota hancur, keturunan raja dibuang, satu generasi lahir tanpa pernah melihat Yerusalem. Mereka adalah orang-orang yang merasa diri kelebihan sejarah, bukan pelakunya. Justru kepada sisa itulah Allah berkata "Dengarlah Aku." Ia tidak menunggu sampai umat-Nya pulih dan pantas. Ia berbicara kepada sisa, dan kepada sisa itu Ia menyebut kandungan dan kelahiran, seolah berkata: kalian bukan puing, kalian anak.
Tokoh Utama
Tokoh utama di sini jelas Allah sendiri, dan yang mengejutkan adalah cara Ia memperkenalkan diri. Di pasal ini Ia bisa saja langsung bicara tentang kuasa-Nya atas sejarah, dan memang Ia melakukannya nanti, ketika berbicara tentang burung pemangsa dari timur, yaitu Koresh. Tetapi Ia memulai dengan gambaran yang jauh lebih intim: bidan, ibu, ayah yang menggendong. Allah semesta memilih bahasa tubuh, bukan bahasa takhta. Di ayat 4 Ia melanjutkannya sampai ke rambut putih. Ada kesabaran di sana, dan juga semacam kesetiaan yang keras kepala: Ia tidak melepaskan apa yang telah Ia buat. Inilah wajah Allah yang tidak perlu ditopang siapa pun, dan justru karena itu sanggup menopang.
Refleksi
Apa yang selama setahun terakhir paling banyak menguras tenaga Anda, dan jika Anda jujur, apakah itu menggendong Anda atau Anda yang menggendongnya?
Israel disebut "yang tersisa", bukan yang utuh. Di bagian hidup mana Anda merasa hanya tinggal sisa, dan apa artinya bila justru di sanalah Allah berkata "Dengarlah Aku"?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 46:3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 46:3?
Tentang apakah YESAYA 46:3?
Apa konteks historis dari YESAYA 46:3?
Apa yang YESAYA 46:3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 46:3 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Isaiah 46?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi