YESAYA 56
Teks Ini
TUHAN membuka pasal ini dengan dua perintah yang terdengar biasa, "Peliharalah keadilan dan lakukanlah kebenaran," lalu menyambungnya dengan alasan yang sama sekali tidak biasa: karena keselamatan-Nya sudah di ambang pintu. Lalu suara itu berbalik kepada dua sosok yang paling yakin dirinya tidak punya tempat, orang asing dan orang kasim, dan menolak keyakinan itu. Kepada yang merasa dirinya "sebatang pohon kering" dijanjikan nama abadi di dalam tembok rumah Allah; kepada yang merasa pasti akan dipisahkan dijanjikan sukacita di gunung kudus, sebab "rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa." Dan tepat setelah janji selebar itu, nada berubah tajam: para penjaga umat disebut anjing bisu yang tidur, gembala tanpa pengertian, peminum yang yakin besok akan sama seperti hari ini.
Inti
Ada sesuatu yang mengganggu dalam urutan pasal ini, dan sebaiknya kita tidak buru-buru meluruskannya. Allah membuka pintu bagi yang paling jauh, lalu menegur yang paling dekat. Orang kasim secara hukum tidak boleh masuk jemaah; orang asing berdiri di luar garis keturunan. Mereka justru dibawa masuk. Sementara para penjaga yang sudah di dalam ternyata buta dan kenyang oleh diri sendiri. Jadi yang menentukan bukan posisi, melainkan arah hati: "menggabungkan diri kepada TUHAN," "mengasihi nama TUHAN," "berpegang pada perjanjian-Ku." Kata Ibrani untuk menggabungkan diri, lawah, berarti melekat, menempel, seperti sesuatu yang diikat pada yang lain. Bukan status, bukan darah, bukan tubuh yang utuh, tetapi kelekatan. Pertanyaannya menjadi pribadi dan tidak nyaman: apa yang sebenarnya saya lekati?
Benang Merah
Ada satu kalimat dari pasal ini yang kelak diucapkan kembali dengan keras di pelataran Bait Allah. Ketika Yesus menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang, Ia mengutip ayat 7: rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. Dan tempat Ia melakukannya bukan kebetulan, sebab pelataran itu justru bagian yang disediakan bagi orang asing, satu-satunya ruang di mana mereka boleh berdiri. Di situlah dagang berjalan. Janji Yesaya diinjak di tempat janji itu seharusnya digenapi. Maka pembersihan Bait Allah bukan sekadar soal kemurnian ibadah, melainkan soal pintu yang dipalang bagi orang yang Allah sendiri undang masuk. Dan ketika seorang kasim dari Etiopia kemudian duduk membaca Yesaya di tepi jalan lalu dibaptis, lingkaran itu menutup dengan tenang, tanpa perlu diumumkan: pohon kering itu bertunas.
Cermin
Hampir setiap orang menyimpan satu kalimat yang dipakai untuk mendiskualifikasi dirinya sendiri. Rahim yang tidak pernah terisi. Pernikahan yang gagal dan tidak bisa diputar ulang. Tubuh yang mengkhianati. Nama keluarga yang bukan nama yang tepat di lingkungan gereja ini. Dosa lama yang sudah diampuni tetapi tetap terasa membuat Anda warga kelas dua. "Sesungguhnya, aku hanyalah sebatang pohon kering" adalah kalimat yang tidak diucapkan keras-keras, tetapi diam-diam dipegang sebagai fakta. Allah tidak menjawabnya dengan bujukan bahwa keadaan Anda sebenarnya tidak seburuk itu. Ia menjawab dengan memberi nama, di dalam tembok-Nya, yang "tidak akan dilenyapkan". Tetapi perhatikan juga sisi lain cermin ini: mungkin Anda bukan orang kasim dalam cerita ini, melainkan penjaga yang mengantuk, yang sudah lama di dalam dan berhenti menggonggong. Hari ini: tulis di secarik kertas kalimat yang paling sering Anda pakai untuk menyingkirkan diri sendiri, lalu di bawahnya tulis nama Anda beserta kata "nama yang abadi, yang tidak akan dilenyapkan", dan bacalah keras-keras satu kali.
Profil
Pendengar pertama adalah orang-orang yang pulang dari pembuangan ke sebuah kota yang masih setengah reruntuhan. Mereka sedang sibuk menentukan siapa benar-benar termasuk. Di antara mereka ada orang asing yang ikut pulang, dan ada laki-laki yang dikebiri agar dapat melayani di istana Babel, tubuhnya rusak demi kelangsungan hidup. Dalam dunia di mana keabadian seseorang berarti anak laki-laki yang meneruskan nama dan tanah, orang kasim adalah ujung jalan buntu yang berjalan. Aturan Taurat pun menutup pintu jemaah baginya. Jadi ketika suara ini berkata bahwa ia akan menerima tanda peringatan dan nama "yang lebih baik daripada anak-anak laki-laki dan perempuan", itu bukan penghiburan manis. Itu mengguncang seluruh logika kelangsungan hidup sebuah bangsa yang baru saja nyaris punah.
Konteks
Pasal 56 berdiri tepat setelah undangan terbuka pasal 55 dan membuka bagian terakhir kitab ini, bagian yang bergumul dengan satu pertanyaan: pembuangan sudah berakhir, tetapi mengapa keselamatan terasa belum tiba? Jawaban yang diberikan bukan penjelasan, melainkan perintah: peliharalah keadilan, lakukanlah kebenaran, peganglah Sabat. Sabat disebut tiga kali, dan itu masuk akal bagi orang yang tidak punya Bait Allah yang megah, tidak punya tanah luas, tidak punya keturunan. Sabat adalah ibadah yang bisa dipegang siapa saja, tanpa modal, tanpa silsilah. Sementara itu kepemimpinan umat, para "penjaga" dan "gembala", sudah lama sibuk mengurus keuntungan sendiri. Ayat 12 menangkapnya dengan ngeri: "Besok akan sama seperti hari ini, bahkan lebih lagi." Rasa aman orang yang tidak lagi menyangka Allah akan datang.
Intertekstual
Ulangan 23 menutup pintu jemaah bagi orang yang dikebiri; Yesaya 56 membukanya, bukan dengan membatalkan hukum, tetapi dengan menunjukkan ke mana hukum itu selalu menuju: pada hati yang melekat pada TUHAN. Lalu bacalah Yehezkiel 34, tentang gembala-gembala yang menggembalakan diri sendiri, dan Anda mendengar gema persis dari ayat 11 di sini. Dua nabi, satu keluhan yang sama, dan satu arah penyelesaian yang sama: Allah sendiri akan turun menggembalakan. Yang menarik, Yesaya tidak menyelesaikan pasal ini. Binatang-binatang dipanggil untuk melahap, dan tidak ada ayat penutup yang menenangkan. Janji dan penghakiman dibiarkan berdiri berdampingan, tanpa jembatan. Mungkin memang begitu seharusnya kita membacanya, dengan dada yang agak sesak.
Refleksi
Kalimat apa yang diam-diam saya pegang sebagai bukti bahwa saya tidak sepenuhnya termasuk, dan apa yang terjadi jika saya mengujinya dengan ayat 5?
Di bagian hidup mana saya sudah berhenti menggonggong, berasumsi bahwa "besok akan sama seperti hari ini" dan karenanya tidak perlu waspada?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 56
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 56?
Tentang apakah YESAYA 56?
Apa konteks historis dari YESAYA 56?
Apa yang YESAYA 56 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 56 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 56
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Peliharalah keadilan dan lakukanlah kebenaran, sebab keselamatan-Ku segera datang." Perhatikan urutannya. Keadilan bukan syarat supaya keselamatan datang, tetapi jawaban karena keselamatan sudah dekat. Kamu tidak berbuat benar untuk memancing Allah bergerak. Kamu berbuat benar karena Dia sudah dalam perjalanan. Hari ini, apa yang berubah kalau kamu percaya itu?
Ada dua suara yang Tuhan larang di ayat ini. Orang asing yang berkata, "TUHAN pasti akan memisahkan aku dari umat-Nya," dan orang kebiri yang berkata, "Lihatlah, aku ini pohon yang kering." Keduanya bukan ditolak Tuhan, mereka menolak diri sendiri lebih dulu. Kalimat mana yang sering kamu ucapkan tentang dirimu, dan sudahkah kamu bertanya apakah Tuhan setuju?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
