YOEL 1:20
Teks
Yoel menutup pasal pertamanya bukan dengan manusia, melainkan dengan binatang. Setelah nabi sendiri berseru kepada TUHAN karena api yang melahap padang (ayat 19), ia menunjuk ke luar kota, ke tanah kosong: "Bahkan, hewan-hewan di padang menjerit kepada-Mu karena air di alur-alur sungai telah kering, dan api telah melahap tanah gembalaan di padang gurun." Alur sungai yang biasanya menampung air hujan sudah menjadi parit batu. Rumput yang tersisa habis terbakar. Dan makhluk-makhluk yang tidak punya bait suci, tidak punya imam, tidak punya kain kabung, mengangkat suara mereka ke arah yang sama dengan sang nabi: kepada Engkau.
Inti
Ada sesuatu yang menusuk dalam ayat ini. Kata "bahkan" berfungsi sebagai teguran halus: kalau rusa dan kambing liar pun tahu ke mana harus mengarahkan jeritannya, bagaimana dengan umat yang punya Bait Allah dan tetap tidur (ayat 5)? Yoel sedang mengatakan bahwa dunia ciptaan lebih peka terhadap Sang Pencipta daripada manusia yang sibuk dengan anggur barunya. Sekaligus ayat ini menyingkapkan sesuatu tentang Allah: Ia bukan hanya Allah perjanjian bagi Israel, tetapi Allah yang mendengar makhluk tanpa mulut untuk berdoa. Dan konsekuensinya tajam bagi cara kita hidup: keputusan manusia, kesalehan atau kelalaian manusia, tidak berhenti pada manusia. Sungai kering dan padang hangus adalah bagian dari akibat itu. Tanggung jawab kita membentang jauh melampaui lingkaran orang-orang yang bisa membalas budi kita.
Benang Merah
Alkitab membuka dengan taman yang berair dan menutup dengan sungai kehidupan di tengah kota. Di antaranya terbentang kisah tanah yang ikut menanggung akibat pemberontakan manusia, sejak duri dan semak tumbuh di ladang Adam. Yoel berdiri persis di tengah garis itu: padang gembalaan yang hangus adalah gema dari kutuk yang lebih tua. Dan justru di sinilah Kristus masuk. Ia bukan hanya menanggung dosa perorangan, tetapi memulihkan seluruh ciptaan yang, menurut Paulus dalam Roma 8, "sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin". Jeritan hewan di Yoel 1:20 adalah suara keluhan itu dalam bentuk yang paling telanjang. Salib bukan penyelamatan jiwa-jiwa dari dunia yang dibuang, melainkan janji bahwa alur sungai yang kering akan berair kembali.
Cermin
Kita cenderung mengukur tanggung jawab sejauh orang yang bisa protes kepada kita. Karyawan yang bisa mengadu, anak yang bisa membantah, tetangga yang bisa menegur. Tetapi Yoel menempatkan di hadapan Allah pihak-pihak yang tidak punya suara untuk membela diri. Siapa yang menjerit karena pilihanmu dan tidak bisa kaudengar? Barangkali tanah tempat sampahmu berakhir. Barangkali pekerja di rantai produksi barang murah yang kaubeli tanpa berpikir. Barangkali tubuhmu sendiri, yang kaupaksa lembur bertahun-tahun tanpa sabat, dan yang sekarang mengeluh dengan caranya sendiri. Barangkali anggota keluarga yang terlalu segan untuk mengeluh. Ayat ini menolak iman yang hanya mengurus batin. Iman yang alkitabiah selalu menyentuh air, tanah, uang, waktu, dan tubuh. Hari ini: berjalanlah sepuluh menit di sekitar rumahmu, perhatikan satu makhluk hidup yang tergantung pada keputusan manusia, entah pohon, sungai kecil, atau hewan, lalu berdoalah di tempat itu untuk pemulihannya.
Konteks
Yoel tidak menyebut raja, sehingga kita tidak tahu persis kapan ia bernubuat; yang jelas Bait Allah masih berdiri dan kurban sehari-hari masih dijalankan, sampai wabah belalang menghentikannya (ayat 9). Yehuda adalah masyarakat agraris: gandum, anggur, dan minyak bukan komoditas, melainkan denyut hidup. Ketika ketiganya musnah, ekonomi, ibadah, dan pesta pernikahan runtuh sekaligus. Belalang datang berlapis-lapis, gelombang demi gelombang, disusul kemarau dan kebakaran padang. Padang gurun yang disebut di ayat 20 bukan pasir mati, melainkan stepa tempat kawanan digembalakan di musim hujan. Kehilangan itu berarti para gembala kehilangan penghidupan dan hewan kehilangan hidup. Bencana ini menyentuh setiap lapisan: imam kehilangan kurban, petani kehilangan panen, pemabuk kehilangan anggur, ternak kehilangan rumput.
Interteks
Mazmur 104 melukis dunia di mana "keledai-keledai hutan melepaskan dahaga" dan semua makhluk "menantikan Engkau, supaya diberikan makanan". Yoel 1:20 adalah sisi gelap dari mazmur itu: ketika tangan yang membuka tidak lagi membuka, ciptaan langsung tahu dan langsung berseru. Bandingkan juga akhir kitab Yunus, ketika Allah membela Niniwe dengan menyebut "binatang-binatang yang banyak" sebagai alasan untuk berbelas kasihan. Dua kali Kitab Suci menegaskan hal yang jarang kita khotbahkan: Allah menghitung makhluk yang tidak bisa berdoa dengan kata-kata. Bila Ia menghitung mereka, kelalaian kita terhadap mereka bukan urusan sepele, melainkan perkara rohani.
Detail
Kata yang diterjemahkan "menjerit" di sini biasanya dipakai untuk manusia yang berseru minta tolong kepada Allah, seperti Israel di Mesir. Dalam bahasa Ibrani, akar kata ini punya nada hukum: teriakan orang yang diperlakukan tidak adil dan menuntut pembelaan. Yoel meminjamkan kosakata doa itu kepada binatang. Bukan sekadar melenguh kelaparan; mereka mengajukan perkara. Dan Allah, dalam logika Kitab Suci, selalu bergerak ketika mendengar jeritan semacam itu. Ada ironi pedih di sini: pasal ini memanggil para imam untuk mengenakan kain kabung dan berseru (ayat 13-14), tetapi yang pertama-tama benar-benar berseru justru ternak. Kadang yang paling tidak berdaya lebih cepat berdoa daripada yang paling terlatih beribadah.
Refleksi
Siapa dalam lingkaran pengaruhmu, manusia atau makhluk, yang menanggung akibat keputusanmu tanpa pernah bisa mengeluh kepadamu?
Apa yang harus berubah dalam caramu memakai uang, waktu, atau tubuhmu, jika Allah sungguh mendengar jeritan yang tidak kaudengar?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Joel 1:20
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOEL 1:20?
Tentang apakah YOEL 1:20?
Apa konteks historis dari YOEL 1:20?
Apa yang YOEL 1:20 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOEL 1:20 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Joel 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak membiarkan kami tertidur dalam kenyamanan palsu. Lewat seruan "Bangunlah... dan menangislah!" Engkau menegur dengan kasih. Terima kasih karena hilangnya anggur baru dari mulut kami justru membuat kami kembali mencari Engkau, satu-satunya sumber sukacita sejati.
Yoel memanggil orang-orang yang paling tua lebih dulu: "Pernahkah hal seperti ini terjadi pada zamanmu, atau pada zaman nenek moyangmu?" Mereka punya ingatan paling panjang, dan justru mereka harus mengakui: belum pernah. Ada hal-hal dalam hidupmu yang tidak boleh kamu perlakukan seperti kejadian biasa. Sudahkah kamu berhenti dan bertanya, Tuhan, apa yang Engkau katakan lewat ini?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menutupi kenyataan dari kami. Ketika "suatu bangsa telah datang ke negeriku, kuat dan tidak terhitung jumlahnya", Engkau menyebutnya terang terangan. Peringatan-Mu yang jujur itu kasih-Mu, supaya kami berbalik kepada-Mu sebelum terlambat.
Ketika segalanya sudah hangus, Yoel tidak lari mencari solusi lain. Dia berkata, "Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, sebab api telah melahap padang rumput di padang belantara." Dia berseru kepada Allah yang seolah membiarkan api itu datang. Beranikah kamu membawa kehilanganmu kembali kepada Dia, bukan menjauh dari Dia?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi