YOHANES 13:5
Teks
Air dituangkan ke dalam baskom. Bunyinya terdengar, karena ruangan itu tiba-tiba sunyi: Guru mereka sudah berdiri, jubah-Nya tergeletak, sehelai kain linen terikat di pinggang-Nya seperti pakaian seorang budak rumah tangga. Lalu Ia berlutut di lantai dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya, satu per satu, dan mengeringkan kaki mereka dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya sendiri.
Perhatikan betapa datarnya Yohanes menuliskannya. Tidak ada komentar, tidak ada seruan kagum, tidak ada penjelasan. Hanya rangkaian kata kerja yang sederhana: menuangkan, membasuh, mengeringkan. Seolah-olah penulisnya tahu bahwa setiap tambahan kata justru akan memperkecil apa yang terjadi. Dua belas pasang kaki yang berdebu jalanan Yerusalem, termasuk sepasang kaki yang malam itu juga akan melangkah keluar untuk menjual Dia.
Inti
Ayat sebelumnya adalah kuncinya: Yesus tahu "bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya." Segala sesuatu. Dan tangan yang sama itulah yang sekarang memegang tumit kotor Petrus. Yohanes tidak sedang menceritakan kerendahan hati seseorang yang lupa siapa diri-Nya; ia menceritakan seseorang yang justru persis tahu siapa diri-Nya, dan karena itu bisa berlutut. Kuasa yang penuh tidak membuat Dia menuntut dilayani, melainkan membebaskan Dia untuk melayani.
Di situlah seluruh Injil termampatkan dalam satu gerakan tubuh. Allah tidak menunggu kita naik kepada-Nya; Ia turun, sampai ke lantai, sampai ke bagian diri kita yang paling kotor dan paling kita sembunyikan. Kasih "sampai akhir" dari ayat 1 ternyata bukan sekadar kasih yang bertahan lama, melainkan kasih yang berjalan sampai ke titik terjauh yang bisa ditempuh kasih. Baskom itu adalah salib dalam ukuran kecil.
Benang Merah
Di kemah suci ada baskom perunggu, dan di depan baskom itu para imam harus membasuh tangan dan kaki mereka sebelum masuk melayani, kalau tidak mereka akan mati (Keluaran 30). Pembasuhan selalu merupakan syarat untuk mendekat kepada Allah yang kudus. Yang mengejutkan di ruang atas itu: Allah sendiri yang memegang baskomnya. Imam bukan lagi orang yang membasuh diri agar layak, melainkan Dia yang membasuh orang lain supaya mereka mendapat "bagian di dalam" Dia (ayat 8).
Dan pembasuhan itu belum selesai di lantai ruang atas. Dalam beberapa jam, jubah yang dilepas-Nya di sini akan dilepas lagi, kali ini oleh tangan serdadu. Yohanes sengaja memakai kata yang sama untuk "meletakkan" jubah dan untuk Gembala yang menyerahkan nyawa-Nya. Baskom dan salib adalah satu gerakan yang sama, hanya berbeda kedalaman.
Cermin
Pertanyaannya bukan apakah Anda bersedia melayani, melainkan kaki siapa. Ada orang-orang yang dengan senang hati kita layani, karena pelayanan itu dihargai dan terlihat. Lalu ada mertua yang selalu menyindir, rekan kerja yang mengambil kredit atas pekerjaan Anda, anak remaja yang menutup pintu kamarnya tanpa sepatah kata. Yesus membasuh kaki Yudas tanpa memberi tanda apa pun bahwa Ia tahu. Tidak ada sindiran halus, tidak ada perlakuan yang sedikit lebih cepat dan kurang teliti.
Dan ada sisi lain yang sama beratnya: membiarkan diri dibasuh. Petrus menolak, dan sebagian dari kita diam-diam setuju dengan Petrus. Kita lebih suka menjadi orang yang memberi daripada orang yang berutang. Tetapi kasih yang hanya bisa mengalir keluar dan tidak pernah masuk, itu bukan kasih, itu kendali.
Lakukan ini hari ini: pilih satu pekerjaan kecil dan kotor yang sebenarnya tugas orang lain di rumah Anda, cuci piring yang mereka tinggalkan, bersihkan sepatu mereka, dan selesaikan tanpa memberitahu siapa pun.
Pertanyaan
Yesus membasuh kaki Yudas. Yohanes tidak menyebutnya secara eksplisit, tetapi ayat 11 tidak menyisakan ruang lain: Yesus tahu siapa yang akan mengkhianati Dia, dan Ia tetap berlutut di depan orang itu. Lalu kenapa tidak berhasil? Beberapa jam kemudian Yudas berdiri dan keluar, "dan saat itu sudah malam."
Kita ingin percaya bahwa kasih yang cukup dalam selalu meluluhkan. Teks ini menolak memberi kita jaminan itu. Air yang sama yang membasuh Petrus juga membasuh Yudas, dan hasilnya berbeda. Bukan karena kasih Yesus setengah hati terhadap yang satu, melainkan karena kasih tidak pernah memaksa pintu masuk. Itu menyakitkan bagi setiap orang yang punya nama dalam doanya yang bertahun-tahun tidak berubah. Teks ini tidak menghibur kita di titik itu. Ia hanya memperlihatkan bahwa Yesus pun berlutut tanpa jaminan.
Profil
Pembaca pertama Yohanes tahu persis seberapa rendah tindakan ini. Membasuh kaki tamu adalah tugas budak, dan dalam rumah tangga Yahudi biasanya bukan budak Yahudi yang disuruh, karena pekerjaan itu dianggap terlalu merendahkan bagi seorang sebangsa. Murid boleh melakukan hampir segala hal bagi rabinya, tetapi membasuh kakinya adalah garis yang tidak dilewati.
Tambahkan posisi tubuh mereka: mereka berbaring miring di sekeliling meja rendah, kaki mengarah ke luar. Yesus harus merangkak dari satu tubuh ke tubuh berikutnya, di bawah ketinggian mata semua orang. Dalam jemaat-jemaat rumah abad pertama, di mana tuan dan budak duduk di meja yang sama dan tidak tahu persis bagaimana harus bersikap satu sama lain, cerita ini bukan renungan yang indah. Itu bom di tengah tatanan sosial.
Interteks
Lukas menempatkan di meja yang sama sebuah pertengkaran: siapa di antara mereka yang dianggap terbesar. Bila kedua catatan itu disandingkan, adegan Yohanes mendapat suaranya yang sesungguhnya. Yesus tidak menjawab perdebatan itu dengan teguran, melainkan dengan baskom.
Dan ada gema yang lebih jauh ke belakang: nyanyian tentang Hamba di Yesaya 53, yang tidak tampan, yang dihitung di antara para pemberontak, yang menanggung kekotoran orang lain. Yang terjadi di ruang atas bukan improvisasi spontan seorang guru yang rendah hati. Itu adalah Hamba itu, melakukan dalam ukuran kecil apa yang akan Ia lakukan dalam ukuran penuh di Golgota, supaya murid-murid-Nya punya gambar yang bisa mereka ingat ketika mereka akhirnya mengerti.
Refleksi
Kaki siapa yang paling tidak ingin Anda sentuh, dan apa yang hal itu ungkapkan tentang batas kasih Anda?
Di bagian hidup mana Anda bersikap seperti Petrus, lebih suka melayani daripada mengakui bahwa Anda perlu dibersihkan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 13:5
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 13:5?
Tentang apakah YOHANES 13:5?
Apa konteks historis dari YOHANES 13:5?
Apa yang YOHANES 13:5 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 13:5 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Kalimat ini diucapkan Yesus di antara basuhan kaki dan pengumuman pengkhianatan: "siapa yang menerima orang yang Kuutus, dia menerima Aku." Yang diutus itu bukan orang hebat. Kaki mereka baru saja kotor, hati mereka masih ribut soal siapa yang terbesar. Mungkin hari ini Tuhan datang padamu lewat orang yang kamu anggap biasa saja.
Petrus menolak kakinya dibasuh karena ia merasa tahu apa yang pantas dan tidak pantas. Jawaban Yesus lembut tapi tegas: "Apa yang Kulakukan, sekarang kamu tidak mengerti, tetapi nanti kamu akan mengerti." Ada bagian hidupmu yang belum bisa kaujelaskan hari ini. Mungkin yang diminta bukan penjelasan, melainkan ketenangan untuk membiarkan tangan-Nya bekerja.
Tuhan, Engkau sudah membasuh aku sampai bersih, dan aku tidak perlu meragukan itu lagi. Tapi kakiku masih berdebu setiap hari, kena jalan yang kulewati. Bersihkan yang kotor hari ini, dan ingatkan aku bahwa aku tetap milik-Mu.
Tuhan, seperti mereka di meja itu, sering aku tidak mengerti apa yang sedang Engkau kerjakan. Ada kata-kata-Mu yang belum kupahami, ada jalan-Mu yang terasa gelap. Ajar aku tetap duduk dekat pada-Mu, percaya walau belum jelas.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi