YOHANES 19:30
Teks
Setelah mencecap anggur asam yang disodorkan kepada-Nya, Yesus mengucapkan satu kata: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Tiga gerakan kecil, dan semuanya berakhir: rasa asam di lidah, satu kalimat, kepala yang tertunduk. Yohanes tidak menulis bahwa Yesus mati kehabisan napas, tidak menulis bahwa nyawa-Nya direnggut. Ia menulis bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya, seperti orang yang meletakkan sesuatu yang berat dari tangannya sendiri, pada saat yang Ia pilih. Di sekitar-Nya para prajurit masih berdiri, ibu-Nya baru saja dititipkan, tulisan Pilatus dalam tiga bahasa masih tergantung di atas kepala-Nya. Dan di tengah semua kebisingan itu, ada satu kata yang diucapkan pelan dan menutup segalanya.
Inti
"Sudah selesai" dalam bahasa Yunani adalah satu kata, tetelestai, sebuah kata yang biasa ditulis di atas nota utang yang sudah dibayar lunas. Bukan keluhan orang yang menyerah, bukan "habislah sudah," melainkan pernyataan bahwa pekerjaan itu tuntas. Tetapi renungkan sejenak betapa aneh kalimat ini terdengar dari mulut seorang yang tergantung telanjang dan sekarat. Apa yang selesai? Tidak ada kerajaan yang terlihat berdiri, tidak ada musuh yang tampak kalah, tidak ada murid yang mengerti. Yohanes menempatkan kata kemenangan justru di titik paling tidak masuk akal, dan dengan itu ia memaksa kita bertanya: apakah kita sungguh tahu seperti apa rupa karya Allah ketika selesai? Salib menyatakan bahwa Allah menyelesaikan sesuatu di tempat yang kita anggap akhir dari segala kemungkinan.
Benang Merah
Dalam Injil Yohanes, Yesus berulang kali berbicara tentang "pekerjaan" yang diberikan Bapa kepada-Nya, dan tentang "saat" yang belum tiba. Sepanjang kitab ini ada semacam tarikan ke depan, menuju sesuatu yang belum terjadi. Di kayu salib tarikan itu berhenti. Yang selesai bukan hanya penderitaan satu orang pada hari Jumat itu; yang selesai adalah seluruh rangkaian panjang sejak taman pertama: janji, korban, darah domba, imam yang masuk membawa darah yang harus dibawa lagi tahun berikutnya. Yohanes sendiri menunjuk arah itu ketika ia mencatat bahwa tulang Yesus tidak dipatahkan, persis seperti domba Paskah. Perhatikan juga waktunya: Yesus mati pada hari persiapan Paskah, ketika domba-domba disembelih di Bait Allah. Allah tidak menambahkan satu korban lagi ke dalam daftar. Ia mengakhiri daftarnya.
Cermin
Kita hidup dari daftar yang tidak pernah selesai. Pekerjaan yang selalu bisa lebih baik, anak yang membuat kita bertanya apakah kita cukup sebagai orang tua, dosa lama yang kembali muncul pukul dua pagi dan berbisik bahwa semuanya belum beres. Kita diam-diam yakin bahwa masih ada sisa yang harus kita bayar sendiri, entah dengan kerja keras, dengan rasa bersalah yang dipelihara, atau dengan menjadi orang Kristen yang lebih rajin. Kata tetelestai menolak semua itu, dan justru karena itu sulit diterima: orang lebih mudah mencicil utang daripada percaya bahwa utangnya sudah dibayar. Apa yang sebenarnya Anda coba selesaikan sendiri, yang sudah diselesaikan Yesus? Hari ini, tuliskan satu hal yang paling Anda sesali di secarik kertas, ucapkan "sudah selesai" dengan suara terdengar, lalu robek kertas itu.
Tokoh Utama
Yang paling mencolok dari Yesus di ayat ini adalah kendali-Nya. Ia tahu bahwa semuanya sudah terlaksana, Ia berkata "Aku haus," Ia mencecap anggur asam, Ia berbicara, Ia menundukkan kepala, Ia menyerahkan nyawa-Nya. Urutan kata kerjanya milik seseorang yang bertindak, bukan seseorang yang ditimpa. Dan bersamaan dengan itu, tubuh-Nya benar-benar hancur, lidah-Nya benar-benar kering, kematian-Nya benar-benar kematian. Dua hal ini berdiri bersama tanpa dijelaskan oleh Yohanes, dan mungkin memang tidak bisa dijelaskan: Raja yang berkuasa penuh dan Manusia yang habis sama sekali adalah satu Pribadi yang sama. Kepala yang tertunduk itu bukan tanda kalah. Itu gerakan orang yang meletakkan kepalanya untuk beristirahat setelah pekerjaan panjang selesai.
Konteks
Jumat siang, di luar tembok Yerusalem, di tempat eksekusi yang sengaja diletakkan dekat jalan agar semua orang melihat. Kota sedang penuh peziarah menjelang Paskah, udara penuh asap korban dan bau ternak. Penyaliban adalah teater kekuasaan Roma: pesan bahwa pemberontak akan mati perlahan dan telanjang di depan umum. Pilatus sudah menulis gelar itu dalam tiga bahasa, dan menolak mengubahnya: "Apa yang sudah aku tulis akan tetap tertulis!" Para imam kepala baru saja mengucapkan kalimat yang mengerikan bagi bangsa perjanjian, "Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar!" Jadi ketika Yesus berkata "Sudah selesai," Ia mengucapkannya di panggung yang dikuasai orang lain, di bawah papan yang ditulis orang lain, di tengah orang-orang yang yakin merekalah yang sedang menyelesaikan urusan.
Intertekstual
Yohanes sendiri sudah mengutip Mazmur 22 beberapa ayat sebelumnya: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan untuk jubah-Ku, mereka membuang undi." Mazmur itu dimulai dengan jeritan ditinggalkan dan berakhir dengan pujian bahwa Tuhan telah bertindak; Yohanes seakan mengajak kita membaca seluruh mazmur itu sampai habis, bukan berhenti di keluhannya. Dan lebih jauh ke belakang, di Kejadian 2, ada kalimat bahwa Allah menyelesaikan pekerjaan-Nya lalu berhenti pada hari ketujuh. Penciptaan berakhir dengan istirahat; penebusan juga. Sesudah kata ini, tubuh Yesus terbaring di kuburan sepanjang hari Sabat, diam, tidak melakukan apa-apa. Mungkin itulah khotbah paling sunyi dalam seluruh Alkitab.
Refleksi
Jika karya keselamatan sungguh sudah selesai, apa yang masih saya kerjakan seolah-olah belum?
Di bagian hidup mana saya sedang menganggap sesuatu sebagai akhir, padahal mungkin di situlah Allah justru sedang menyelesaikan sesuatu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 19:30
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 19:30?
Tentang apakah YOHANES 19:30?
Apa konteks historis dari YOHANES 19:30?
Apa yang YOHANES 19:30 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 19:30 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 19
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, di hadapan orang yang merasa memegang hidup dan mati-Nya, Yesus memilih diam. Aku sering panik saat orang lain seolah menentukan nasibku. Ajari aku percaya bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari tangan-Mu, dan tenang di dalamnya.
Para imam kepala tidak meminta Yesus diturunkan. Mereka hanya minta satu kata diubah: "Jangan menulis, 'Raja orang Yahudi', tetapi bahwa Orang itu mengatakan, 'Aku adalah Raja orang Yahudi.'" Ubah fakta jadi klaim, maka salib itu terasa lebih nyaman. Kadang aku juga begitu. Aku tidak menyangkal Dia Raja, aku cuma menggeser sedikit kalimatnya supaya tidak perlu tunduk.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena tuduhan itu ternyata benar: Engkau memang Anak Allah. Engkau tidak menyangkal jati diri-Mu meski itu berarti hukuman mati. Aku bersyukur Engkau rela dianggap bersalah karena kebenaran, supaya aku yang bersalah dinyatakan benar.
Kemudian, Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan." Pilatus tahu Yesus tidak bersalah, tapi ia memilih aman. Ia tidak menghukum, ia hanya menyerahkan, seolah tangannya tetap bersih. Ada kalanya kita pun begitu: tidak menolak Yesus terang-terangan, hanya menyerahkan Dia pada suara terbanyak. Hari ini, di mana kamu diam supaya tetap aman?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi