YOHANES 19:38
Teks
Sesudah semua yang terjadi di Golgota, ketika kerumunan sudah bubar dan tinggal mayat-mayat tergantung di bawah langit sore, seorang tokoh terhormat bernama Yusuf dari Arimatea mendatangi gubernur Romawi. Yohanes memperkenalkannya dengan sebuah catatan yang tidak menyanjung: dia "juga murid Yesus, tetapi secara sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi." Orang yang selama ini menyimpan imannya di balik pintu tertutup itu kini berdiri di hadapan Pilatus, meminta izin untuk mengambil tubuh seorang terhukum. Pilatus mengabulkannya. Lalu Yusuf datang dan mengambil mayat Yesus dengan tangannya sendiri.
Bayangkan suasananya. Bau darah dan debu. Para prajurit yang baru mematahkan kaki dua orang lain. Sabat yang tinggal beberapa jam lagi. Dan seorang pria berpakaian bagus, menyentuh tubuh yang tidak boleh disentuh siapa pun yang ingin tetap bersih.
Inti
Permintaan Yusuf bukan kesalehan yang manis; itu tindakan yang mahal. Di dunia Romawi, salib bukan hanya alat membunuh, melainkan alat mempermalukan. Tubuh korban biasanya dibiarkan membusuk atau dibuang ke lubang bersama, justru supaya semua orang tahu bahwa kekaisaran punya kata terakhir. Meminta tubuh itu berarti mengaku, di depan wakil Kaisar, bahwa Anda berpihak pada si terhukum. Dalam satu permintaan, persembunyian Yusuf selesai.
Di sinilah teks ini menyentuh sesuatu yang dalam tentang Allah. Ia tidak menunggu murid-murid yang gagah. Yang berdiri di dekat salib bukan Petrus yang berjanji mati bersama-Nya, melainkan seorang anggota dewan yang takut dan tetap takut. Kasih karunia tidak menunggu keberanian matang; ia melahirkan keberanian di tempat yang paling tidak kita duga, sering kali terlambat menurut ukuran kita, namun tepat menurut jadwal Allah, karena Sabat hampir tiba dan Yesus harus dikuburkan hari itu juga.
Benang Merah
Seluruh Injil Yohanes bergerak menuju sebuah tubuh: Firman yang menjadi daging, dagingnya dicambuk, ditikam, lalu diturunkan dari kayu. Yang dilakukan Yusuf terlihat kecil, tetapi ia menjaga agar kisah itu tidak berakhir di lubang pembuangan. Nabi Yesaya pernah berbicara tentang Hamba yang menderita yang kuburnya justru berada di antara orang kaya, sebuah kontras aneh dengan kematian-Nya bersama para penjahat; di sini kontras itu menjadi kenyataan lewat seorang anggota dewan yang punya makam baru di sebuah taman. Dan ada alasan yang lebih sederhana lagi: kebangkitan membutuhkan alamat. Kalau tubuh Yesus lenyap tanpa jejak, Minggu pagi tidak akan pernah bisa dibuktikan siapa pun. Ketakutan Yusuf yang akhirnya pecah menjadi keberanian ternyata menjadi paku penahan bagi seluruh kesaksian Paskah.
Cermin
Kita mudah menghakimi iman yang sembunyi-sembunyi, sampai kita sadar berapa banyak ruang dalam hidup kita sendiri yang belum pernah mendengar nama Yesus dari mulut kita. Ada rekan kerja yang sudah lima tahun duduk di seberang meja Anda dan tidak tahu Anda berdoa setiap pagi. Ada keluarga besar yang di depannya Anda memilih diam supaya tidak dianggap fanatik. Ada grup obrolan yang menertawakan hal-hal kudus, dan Anda ikut mengirim emoji tertawa. Yusuf tidak diselamatkan dari ketakutannya; dia bertindak sambil tetap takut, dan itulah bentuk keberanian yang paling sering Allah pakai. Perhatikan juga bahwa langkah pertamanya bukan pidato, melainkan permintaan konkret kepada orang yang berkuasa. Hari ini, sebutkan nama Yesus satu kali dengan terus terang kepada satu orang yang selama ini tidak tahu Anda mengikut Dia; cukup satu kalimat, kirim sekarang.
Profil
Pembaca pertama Injil ini hidup puluhan tahun kemudian, sebagian di antara mereka orang Yahudi yang percaya kepada Yesus dan karenanya berisiko dikeluarkan dari sinagoge, terputus dari keluarga, dari jaringan dagang, dari identitas mereka sendiri. Ketika Yohanes menulis bahwa Yusuf menyembunyikan imannya "karena takut kepada orang-orang Yahudi," mereka tidak membacanya sebagai catatan sejarah yang jauh. Itu potret diri. Mereka tahu rasanya menghitung biaya setiap kali hendak bicara. Dan justru kepada merekalah Yohanes menunjukkan seorang tokoh terhormat yang akhirnya keluar dari bayang-bayang, bukan ketika Yesus tampak menang, melainkan ketika Dia sudah mati dan segalanya tampak selesai. Pesannya tajam sekaligus menghibur: persembunyian Anda bukan akhir cerita, tetapi ia juga tidak boleh menjadi rumah permanen.
Pertanyaan
Apakah murid yang sembunyi-sembunyi masih bisa disebut murid? Yohanes tidak memberi jawaban rapi. Ia menyebut Yusuf murid, tanpa menghapus kata "sembunyi-sembunyi" dan tanpa menghapus kata "takut". Di Injil yang sama, ketakutan serupa pernah disebut sebagai alasan orang lebih mencintai kehormatan manusia daripada kehormatan Allah, dan itu bukan pujian. Jadi teks ini menahan dua hal sekaligus: iman yang nyata, dan iman yang sedang kalah oleh rasa takut. Mungkin itu lebih jujur daripada yang kita inginkan. Allah tampaknya bersedia bekerja dengan murid setengah jadi, tetapi Ia tidak pernah membiarkan mereka tetap setengah jadi. Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah bersembunyi, melainkan apakah ada momen ketika Anda akhirnya keluar.
Konteks
Ini hari Jumat sore, hari persiapan menjelang Sabat Paskah yang disebut Yohanes "hari besar". Dalam beberapa jam segala pekerjaan harus berhenti. Hukum Taurat menuntut agar mayat orang yang digantung tidak bermalam di kayu, dan menyentuh mayat membuat seseorang najis, tidak layak merayakan Paskah. Yusuf, seorang anggota dewan yang kaya, mengambil risiko ganda: kehilangan kesucian ritual dan kehilangan reputasi politik. Pilatus sendiri baru saja menyerah pada tekanan massa dan kemungkinan senang bisa memberi kemurahan kecil yang tidak merugikannya. Golgota berada dekat kota, di jalur ramai, di bawah pandangan orang banyak. Tidak ada yang tersembunyi di sana. Yusuf berjalan melintasi lapangan terbuka itu, membungkuk, dan memikul tubuh Gurunya.
Refleksi
Di ruang hidup mana Anda masih menjadi murid "secara sembunyi-sembunyi", dan apa tepatnya yang Anda takut kehilangan di sana?
Yusuf bertindak justru ketika segalanya tampak sudah berakhir. Adakah sesuatu yang Anda anggap terlalu terlambat untuk ditaati, padahal Allah masih menunggu tangan Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 19:38
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 19:38?
Tentang apakah YOHANES 19:38?
Apa konteks historis dari YOHANES 19:38?
Apa yang YOHANES 19:38 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 19:38 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 19
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, di hadapan orang yang merasa memegang hidup dan mati-Nya, Yesus memilih diam. Aku sering panik saat orang lain seolah menentukan nasibku. Ajari aku percaya bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari tangan-Mu, dan tenang di dalamnya.
Para imam kepala tidak meminta Yesus diturunkan. Mereka hanya minta satu kata diubah: "Jangan menulis, 'Raja orang Yahudi', tetapi bahwa Orang itu mengatakan, 'Aku adalah Raja orang Yahudi.'" Ubah fakta jadi klaim, maka salib itu terasa lebih nyaman. Kadang aku juga begitu. Aku tidak menyangkal Dia Raja, aku cuma menggeser sedikit kalimatnya supaya tidak perlu tunduk.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena tuduhan itu ternyata benar: Engkau memang Anak Allah. Engkau tidak menyangkal jati diri-Mu meski itu berarti hukuman mati. Aku bersyukur Engkau rela dianggap bersalah karena kebenaran, supaya aku yang bersalah dinyatakan benar.
Kemudian, Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan." Pilatus tahu Yesus tidak bersalah, tapi ia memilih aman. Ia tidak menghukum, ia hanya menyerahkan, seolah tangannya tetap bersih. Ada kalanya kita pun begitu: tidak menolak Yesus terang-terangan, hanya menyerahkan Dia pada suara terbanyak. Hari ini, di mana kamu diam supaya tetap aman?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi