YOHANES 19:34
Teks
Prajurit-prajurit Romawi itu sudah selesai bekerja. Kaki dua orang yang disalibkan bersama Yesus mereka patahkan agar kematian datang lebih cepat, tetapi ketika sampai kepada Yesus, mereka melihat Dia sudah mati. Maka salah seorang dari mereka, entah untuk memastikan, entah karena kebiasaan brutal seorang serdadu, menusukkan tombaknya ke lambung Yesus. Dan yang keluar bukan hanya darah. "Seketika itu juga, darah dan air mengalir keluar." Dua zat, terpisah namun bersamaan, mengalir dari tubuh seorang Yahudi yang baru saja berkata "Sudah selesai." Yohanes, yang berdiri cukup dekat untuk melihatnya, tidak bisa melupakan pemandangan itu. Ia menuliskannya bukan sebagai catatan medis, melainkan sebagai kesaksian yang ia pertaruhkan: "kesaksiannya benar dan dia tahu kalau dia mengatakan yang sebenarnya supaya kamu juga percaya."
Inti
Tombak itu membuktikan sesuatu yang tidak ingin kita akui: Yesus benar-benar mati. Bukan pingsan, bukan mati suri, bukan roh yang berpura-pura punya tubuh. Lambung-Nya terbuka, dan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa mengeluarkan darah yang mulai memisah dari cairannya. Yohanes menulis untuk jemaat yang mulai digoda oleh gagasan bahwa Allah terlalu suci untuk sungguh-sungguh berdarah. Ayat ini menutup pintu itu rapat-rapat. Keselamatan kita tidak digantung pada sebuah ide, melainkan pada daging yang robek. Dan justru di sanalah letak anugerahnya: Allah tidak menebus kita dari jarak aman. Ia masuk ke dalam kematian sampai ke titik di mana tubuh-Nya menjadi objek pasif, ditusuk oleh orang yang bahkan tidak tahu siapa yang sedang ia lukai. Kasih yang menyelamatkan adalah kasih yang membiarkan diri-Nya ditembus.
Benang Merah
Yohanes sendiri menunjuk ke belakang, ke dua nubuat sekaligus. Yang pertama: "Tidak satu pun dari tulang-Nya yang akan dipatahkan." Itu aturan tentang domba Paskah dalam kitab Keluaran, hewan yang darahnya dioleskan di ambang pintu supaya maut lewat. Prajurit-prajurit itu tidak sedang membaca Taurat; mereka hanya melihat orang yang sudah mati dan tidak repot-repot memukul. Tanpa sadar mereka menyelesaikan sebuah upacara yang dimulai di Mesir. Yang kedua: "Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam," kalimat dari Zakharia tentang hari ketika umat menangisi Seseorang yang mereka sendiri lukai. Jadi luka di lambung itu bukan kecelakaan di ujung cerita, melainkan tanda yang sudah lama menunggu tubuh untuk ditulis di atasnya. Dan air yang mengalir mengingatkan pada janji Yesus di Yohanes 7 tentang aliran air hidup yang keluar dari dalam diri-Nya. Aliran itu baru terbuka setelah lambung-Nya terbuka.
Cermin
Kita menyukai iman yang tidak menuntut lambung terbuka. Kita mau anugerah, asal jangan sampai orang tahu bagian mana dari hidup kita yang berdarah. Maka kita menjaga jarak: cukup rohani untuk hadir tiap Minggu, cukup tertutup supaya tidak ada yang bisa menusuk. Di rumah kita berdebat tanpa pernah mengaku takut. Di kantor kita menyebut kelelahan sebagai kesibukan. Kepada Tuhan kita berdoa dengan kalimat yang sudah disaring dua kali. Ada kebanggaan halus dalam ketertutupan itu: selama tidak ada yang melihat isi kita, kita merasa masih memegang kendali. Tetapi Tuhan yang kita sembah justru membiarkan diri-Nya dibuka oleh besi seorang serdadu yang tidak peduli. Ia tidak menawarkan keselamatan dari balik dinding. Hari ini, ambil selembar kertas, tulis satu hal yang selama ini kamu sembunyikan dari semua orang, lalu ucapkan dengan suara keras: "Tuhan Yesus, lambung-Mu terbuka, jadi aku tidak perlu menutup ini lagi."
Tokoh Utama
Yang paling mengganggu dari ayat ini: Yesus tidak melakukan apa-apa. Sepanjang Injil Yohanes Dia adalah pihak yang berbicara, yang menetapkan waktu, yang berkata kepada Pilatus bahwa kuasa gubernur itu pinjaman dari atas. Bahkan di kayu salib Dia masih mengatur, menitipkan ibu-Nya, menyatakan "Sudah selesai," menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Lalu tiba-tiba Dia hanya tubuh. Tidak menghindar, tidak menjawab, tidak melindungi diri. Firman yang menjadikan segala sesuatu kini menjadi objek dari sebuah tombak. Inilah bentuk terakhir dari ketaatan-Nya: bukan hanya rela mati, tetapi rela tidak lagi memegang apa pun setelah mati. Dan justru dari kepasifan total itulah mengalir darah dan air, dua hal yang kita butuhkan dan tidak bisa kita hasilkan sendiri. Kuasa-Nya tidak berhenti ketika tangan-Nya berhenti.
Teks Lain
Zakharia berbicara tentang Yerusalem yang suatu hari memandang kepada Dia yang mereka tikam dan meratap seperti orang meratapi anak tunggal. Yohanes mengutipnya, dan artinya jelas: memandang salib bukan sekadar menonton, melainkan mengakui bahwa tangan kita ikut memegang tombak itu. Di sisi lain, kitab Keluaran melarang mematahkan tulang domba Paskah, dan larangan itu digenapi bukan oleh imam melainkan oleh tentara asing yang malas. Dua nada dalam satu ayat: penghakiman atas kita, dan kesetiaan Allah yang berjalan terus lewat orang-orang yang sama sekali tidak berniat melayani Dia. Rencana keselamatan tidak bergantung pada kesalehan para pelakunya. Itu menghibur sekaligus merendahkan.
Pertanyaan
Mengapa Allah mengizinkan tubuh Anak-Nya ditusuk setelah karya itu selesai? Penebusan sudah rampung dengan kata "Sudah selesai." Tusukan ini tidak menambah apa pun pada korban; ia hanya menodai jenazah. Yohanes tidak menjelaskan. Ia hanya bersikeras bahwa ia melihatnya dan bahwa kesaksiannya benar. Mungkin karena kita memang membutuhkan bukti sekasar itu, sebab hati manusia selalu mencari celah untuk berkata bahwa Dia tidak sungguh-sungguh mati. Tetapi tetap tersisa sesuatu yang tidak nyaman: kasih Allah ternyata tidak berhenti pada batas kehormatan. Ia tidak menuntut agar tubuh-Nya diperlakukan dengan layak. Kalau Anda pernah merasa bahwa penderitaan Anda melewati batas yang masuk akal, ayat ini tidak memberi penjelasan. Ia hanya memberi tahu bahwa Tuhan sudah lebih dulu berada di sisi yang tertusuk.
Refleksi
Bagian mana dari hidup Anda yang paling Anda jaga agar tidak pernah "terbuka" di hadapan orang lain, dan apa sebenarnya yang Anda takutkan akan mengalir keluar dari sana?
Ketika Anda memandang salib, apakah Anda memandangnya sebagai penonton, atau sebagai orang yang tangannya ikut memegang tombak?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 19:34
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 19:34?
Tentang apakah YOHANES 19:34?
Apa konteks historis dari YOHANES 19:34?
Apa yang YOHANES 19:34 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 19:34 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 19
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, di hadapan orang yang merasa memegang hidup dan mati-Nya, Yesus memilih diam. Aku sering panik saat orang lain seolah menentukan nasibku. Ajari aku percaya bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari tangan-Mu, dan tenang di dalamnya.
Para imam kepala tidak meminta Yesus diturunkan. Mereka hanya minta satu kata diubah: "Jangan menulis, 'Raja orang Yahudi', tetapi bahwa Orang itu mengatakan, 'Aku adalah Raja orang Yahudi.'" Ubah fakta jadi klaim, maka salib itu terasa lebih nyaman. Kadang aku juga begitu. Aku tidak menyangkal Dia Raja, aku cuma menggeser sedikit kalimatnya supaya tidak perlu tunduk.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena tuduhan itu ternyata benar: Engkau memang Anak Allah. Engkau tidak menyangkal jati diri-Mu meski itu berarti hukuman mati. Aku bersyukur Engkau rela dianggap bersalah karena kebenaran, supaya aku yang bersalah dinyatakan benar.
Kemudian, Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan." Pilatus tahu Yesus tidak bersalah, tapi ia memilih aman. Ia tidak menghukum, ia hanya menyerahkan, seolah tangannya tetap bersih. Ada kalanya kita pun begitu: tidak menolak Yesus terang-terangan, hanya menyerahkan Dia pada suara terbanyak. Hari ini, di mana kamu diam supaya tetap aman?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi