YOHANES 20:21
Teks Itu Sendiri
Di balik pintu yang terkunci, di ruangan yang sesak oleh ketakutan, Yesus berdiri di tengah murid-murid-Nya dan mengulang sapaan-Nya: "Damai sejahtera bagi kamu." Lalu Ia menambahkan satu kalimat yang mengubah segalanya: "Sama seperti Bapa telah mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Kalimat ini datang persis setelah Ia memperlihatkan tangan dan lambung-Nya, luka-luka yang masih ada pada tubuh yang bangkit. Damai sejahtera itu bukan penenang untuk orang gelisah, melainkan pembekalan untuk orang yang akan dikirim keluar. Yang tadinya bersembunyi, sekarang diutus. Yang tadinya menutup pintu, sekarang disuruh menembus dunia yang membuat mereka takut.
Inti
Perhatikan kata "sama seperti". Yesus tidak berkata: pergilah, kerjakan sesuatu untuk-Ku. Ia berkata: cara Bapa mengutus Aku adalah cetakan bagi cara Aku mengutus kamu. Dan bagaimana Bapa mengutus Yesus? Bukan dengan kuasa yang menghancurkan lawan, melainkan dengan tubuh yang bisa dilukai, dengan meja makan bersama orang berdosa, dengan kaki yang membasuh kaki orang lain, dengan salib. Itulah sebabnya luka-luka ditunjukkan lebih dulu. Pengutusan Kristen tidak pernah dilepaskan dari bentuk hidup Yesus sendiri. Artinya: kalau cara kita hadir di dunia bertolak belakang dengan cara Yesus hadir, kita mungkin sibuk, tetapi kita tidak sedang diutus. Ini menjadikan ayat ini bukan slogan misi, melainkan sebuah standar etis yang tajam.
Benang Merah
Sejak awal, Allah adalah Allah yang mengutus. Ia memanggil Abraham keluar supaya melaluinya semua bangsa diberkati; Ia mengutus Musa kembali ke Mesir yang justru ia tinggalkan karena takut. Pola itu berulang: orang yang ingin bersembunyi diberi tugas untuk kembali menghadapi dunia. Yohanes menempatkan Yesus sebagai puncak pola tersebut, Sang Diutus yang sempurna, dan sekarang rantai itu diteruskan kepada murid-murid. Perhatikan ayat berikutnya: Ia mengembusi mereka. Napas yang sama yang membuat manusia hidup di taman Eden kini diembuskan ke atas sekelompok orang ketakutan. Ciptaan baru dimulai bukan dengan gedung atau program, melainkan dengan manusia yang diberi napas dan diberi arah keluar dari ruang persembunyiannya.
Cermin
Kita semua punya ruangan dengan pintu terkunci. Bagi sebagian orang itu adalah kantor: kita tahu ada praktik yang tidak jujur, tetapi kita menghitung risiko dan memilih diam. Bagi yang lain itu adalah keluarga: ada hubungan yang rusak dengan saudara, dan sudah tiga tahun kita menunggu dia yang menelepon lebih dulu. Ada pula ruangan bernama uang, tempat kita menyimpan rasa aman dan menyebutnya kebijaksanaan. Ayat ini tidak berkata "tunggu sampai kamu merasa siap". Ia berkata: Aku mengutus kamu, sekarang, dengan ketakutan yang masih melekat. Damai sejahtera diberikan bukan agar kita nyaman di dalam, tetapi agar kita berani di luar. Pertanyaannya konkret: pintu mana yang sedang Anda kunci, dan apa alasan yang Anda pakai untuk membenarkannya?
Profil Para Pendengar
Mereka bukan pahlawan. Beberapa jam sebelumnya mereka lari meninggalkan Yesus; Petrus baru saja menyangkal-Nya tiga kali. Mereka berkumpul di ruangan tertutup "karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi", artinya takut kepada otoritas yang baru saja berhasil menyalibkan Guru mereka dan bisa dengan mudah melakukan hal yang sama kepada pengikut-Nya. Di dunia mereka, mengikuti seorang terpidana mati berarti kehilangan tempat di sinagoge, kehilangan nama baik keluarga, kemungkinan kehilangan mata pencaharian. Ke telinga mereka, kalimat "Aku mengutus kamu" terdengar seperti perintah untuk berjalan kembali ke arah bahaya. Dan yang mengucapkannya adalah Orang yang tangan-Nya berlubang. Ia tidak menjanjikan bahwa mereka akan luput.
Pertanyaan yang Sulit
Kalau pengutusan kita berpola pada pengutusan Yesus, apakah itu berarti kita juga harus menerima nasib yang serupa? Jawaban jujurnya: sebagian ya. Yesus tidak menjanjikan perlindungan dari penderitaan; Ia menunjukkan luka-Nya justru sebelum mengutus. Tetapi ada perbedaan yang tidak boleh dikaburkan: karya pendamaian-Nya selesai, tidak bisa dan tidak perlu diulang. Kita tidak diutus untuk menebus siapa pun. Kita diutus untuk membawa kabar tentang penebusan yang sudah terjadi, dan untuk membawanya dengan cara yang sama, yaitu dengan menanggung, bukan menuntut. Bahaya terbesar dari ayat ini adalah memakainya untuk membenarkan kelelahan tanpa batas atau kepahlawanan rohani. Bahaya kedua, yang sama besar, adalah memakainya sebagai hiasan sementara pintu kita tetap terkunci.
Konteks
Ini masih hari yang sama dengan kubur kosong, hari pertama minggu itu, dan sudah malam. Yerusalem penuh peziarah Paskah; pasukan Romawi dalam siaga tinggi; para pemimpin agama baru saja menyelesaikan sebuah eksekusi dan tentu tidak ingin ada kelanjutan. Murid-murid berada di kota yang sama dengan orang-orang yang membunuh Guru mereka. Kabar dari Maria Magdalena sudah sampai, tetapi kabar dari seorang perempuan pada zaman itu tidak dianggap sebagai kesaksian yang sah, dan rupanya belum cukup untuk membuka pintu. Ke dalam ruangan sesempit itulah Yesus datang, tanpa membuka pintu, tanpa menegur pelarian mereka, dan langsung memberi tugas. Pemulihan dan pengutusan diberikan dalam satu napas.
Refleksi
Kalau saya jujur menilai cara saya hadir di tempat kerja dan di rumah minggu ini, apakah bentuknya menyerupai cara Yesus diutus oleh Bapa, atau justru cara dunia meraih pengaruh?
Apa satu langkah konkret yang selama ini saya tunda karena takut, dan apa arti "damai sejahtera bagi kamu" jika saya mengambil langkah itu minggu depan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 20:21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 20:21?
Tentang apakah YOHANES 20:21?
Apa konteks historis dari YOHANES 20:21?
Apa yang YOHANES 20:21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 20:21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 20
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Maria sudah melihat Yesus, sudah bicara dengan-Nya, tapi belum mengenal-Nya. Yang membuka matanya bukan penjelasan panjang, hanya satu kata: "Maria!" Namanya sendiri, diucapkan oleh suara yang dikenalnya.
Mungkin kamu juga sedang menangis sambil membelakangi jawabanmu. Dengarkan. Dia memanggil namamu, bukan nama orang lain.
Tuhan Yesus, pintu hatiku sering kukunci karena takut dan ragu. Tapi Engkau tidak menunggu di luar. Engkau masuk, berdiri di tengah kami, dan membawa damai. Datanglah juga hari ini, ke ruang paling tertutup dalam diriku, dan tenangkan aku dengan kehadiran-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi