IMAMAT 25:23
Teks Itu
Di tengah aturan teknis tentang harga jual, hitungan tahun, dan hak tebus, Tuhan tiba-tiba membuka alasannya: "Tanah tidak boleh dijual secara permanen. Sebab sesungguhnya, tanah itu adalah milik-Ku. Kamu semua hanyalah orang asing dan pendatang yang tinggal di tanah-Ku." Jual beli tanah di Israel boleh terjadi, tetapi tidak pernah sebagai pengalihan kepemilikan yang mutlak; yang berpindah hanyalah hak memanen sampai tahun Yobel tiba. Dengan satu kalimat, seluruh sistem ekonomi agraris bangsa itu ditempatkan di bawah satu klaim yang lebih tua dan lebih besar daripada akta jual beli mana pun: tanah Kanaan bukan milik siapa pun yang membajaknya, melainkan milik Dia yang memberikannya.
Intinya
Yang mengejutkan bukan bahwa Allah menyebut diri-Nya pemilik tanah, melainkan bahwa Ia menyebut umat-Nya sendiri "orang asing dan pendatang" di tanah yang baru saja dijanjikan kepada mereka. Mereka bukan pemilik; mereka penyewa yang tidak membayar sewa, penerima yang hidup dari kemurahan. Di sinilah anugerah dan kedaulatan bertemu secara sangat konkret, bukan sebagai gagasan rohani melainkan sebagai hukum pertanahan. Israel keluar dari Mesir tanpa apa-apa; setiap petak ladang yang mereka miliki adalah pemberian. Karena itu tanah tidak boleh ditimbun oleh yang kuat sampai yang lemah kehilangan tempat berpijak. Kepemilikan mutlak ada pada Allah, dan justru itulah yang melindungi orang miskin: tidak ada kemiskinan di Israel yang boleh menjadi permanen, sebab tidak ada kepemilikan manusia yang permanen.
Benang Merah
Perhatikan apa yang mengalir langsung dari ayat ini: hak tebus. Karena tanah tetap milik Allah, selalu ada jalan pulang. Ayat 25 memerintahkan kerabat terdekat datang menebus ladang saudaranya yang jatuh miskin; ayat 48-49 memberi hak yang sama atas orang, bukan hanya atas tanah. Seluruh logika penebusan dalam Alkitab lahir di sini: seseorang dari keluarga yang masih mampu membayar harga agar yang terjual kembali ke tempatnya. Ketika Yesus Kristus disebut Penebus, itu bukan kiasan rohani yang melayang. Ia adalah kerabat terdekat yang menjadi daging, membayar harga yang tidak bisa kita bayar, dan mengembalikan kita kepada warisan yang bukan kita beli.
Cermin
Kita tahu rasanya memegang sertifikat. Rumah yang akhirnya lunas setelah lima belas tahun cicilan, tabungan pensiun yang dijaga diam-diam, warisan orang tua yang diperebutkan sampai saudara tidak lagi saling menyapa, bahkan tubuh dan waktu yang kita perlakukan sebagai milik mutlak. Ayat ini tidak melarang kepemilikan; ia merelatifkannya. Anda pendatang di tanah-Nya, dan masa kontrak Anda lebih pendek daripada yang Anda kira. Yang menakutkan bukan kehilangan harta, melainkan menemukan bahwa harta itu sudah menjadi identitas kita. Hari ini, tulis di secarik kertas satu hal yang paling Anda genggam erat, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Ini milik-Mu, aku pendatang di tanah-Mu."
Pertanyaan
Pasal ini tidak bersih. Allah menyebut Israel "orang asing dan pendatang" dan karena itu melindungi mereka dari perbudakan permanen, tetapi beberapa ayat kemudian, ayat 44-46, mengizinkan orang asing yang sungguhan dibeli, diwariskan, dan dimiliki selamanya. Perlindungan yang begitu indah ternyata berhenti di batas bangsa. Saya tidak akan memperhalusnya. Hukum Taurat mengatur dunia yang sudah rusak, bukan menggambarkan Firdaus; ia menahan kekejaman tanpa langsung menghapus institusinya. Dan ketegangan itu baru terpecahkan ketika Penebus datang untuk orang-orang yang sama sekali di luar perjanjian, yaitu kita. Tetapi pecahan itu tetap terasa tajam, dan sebaiknya kita biarkan tajam.
Intertekstualitas
Kisah kebun anggur Nabot di 1 Raja-raja 21 adalah ayat ini yang dilanggar secara terbuka. Nabot menolak menjual bukan karena harga kurang, melainkan karena tanah itu warisan nenek moyangnya, tidak boleh lepas secara permanen. Ahab, raja yang seharusnya menjaga hukum ini, justru membunuh untuk memilikinya. Di situ terlihat: menolak ayat 23 selalu berakhir pada korban. Di sisi lain, 1 Petrus 2:11 memakai sebutan yang persis sama untuk gereja, "pendatang dan perantau", kali ini bukan soal Kanaan melainkan soal seluruh dunia ini. Identitas yang dulu dipaksakan kepada Israel sekarang menjadi panggilan jemaat.
Detail
Kata Ibrani ger, "pendatang yang tinggal menetap", muncul berulang di pasal ini, dan selalu untuk orang yang rentan: pekerja asing yang boleh ikut makan hasil tanah Sabat di ayat 6, saudara miskin yang harus ditopang "sebagaimana layaknya terhadap orang asing atau pendatang" di ayat 35. Lalu Allah memakai kata itu untuk seluruh Israel. Orang yang punya ladang dan orang yang menumpang di ladang orang lain ternyata berdiri dalam kategori hukum yang sama di hadapan Pemilik tanah. Tidak ada tuan tanah di Israel, hanya penumpang dengan izin tinggal. Itulah yang membuat belas kasihan bukan kemurahan hati, melainkan pengakuan atas kenyataan.
Refleksi
Jika Anda benar-benar menganggap diri "pendatang" atas apa yang Anda miliki, keputusan keuangan mana dalam enam bulan terakhir yang akan Anda ambil secara berbeda?
Siapa di sekitar Anda yang hidupnya sedang terjepit permanen, dan apa yang ada di tangan Anda yang bisa membuat kejepitan itu tidak menjadi selamanya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Leviticus 25:23
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti IMAMAT 25:23?
Tentang apakah IMAMAT 25:23?
Apa konteks historis dari IMAMAT 25:23?
Apa yang IMAMAT 25:23 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana IMAMAT 25:23 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Leviticus 25
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memerintahkan agar di seluruh tanah milik kami diberikan hak penebusan. Tidak ada yang hilang untuk selamanya di tangan-Mu. Engkau membuka jalan pulang bagi yang terdesak, dan mengingatkan kami bahwa bumi ini tetap milik-Mu, bukan milik kami.
Terima kasih, Tuhan, untuk satu tahun penuh hak tebus yang Engkau berikan atas rumah yang terjual. Engkau tidak menutup pintu seketika, tetapi memberi waktu untuk memulihkan yang hilang. Betapa teliti Engkau menjaga tempat berteduh umat-Mu.
Perhatikan betapa panjang daftarnya: paman, anak paman, "atau salah seorang kerabat dekatnya dari kaumnya boleh menebusnya." Allah tidak mau ada satu orang pun jatuh tanpa ada yang datang menjemput. Selalu harus ada yang bertanggung jawab. Dan hari ini, siapa yang sedang menunggu kamu datang?
Terima kasih, Tuhan, Engkau tidak membiarkan yang jatuh miskin kehilangan segalanya, tetapi menyediakan penebus dari kerabat terdekat. Aku bersyukur Engkau sendiri menjadi Penebusku yang datang mendekat dan memulihkan apa yang sudah lepas dari tanganku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi