LUKAS 12:15
Teks
Di tengah kerumunan yang begitu padat sampai orang saling menginjak, seseorang berteriak memotong khotbah Yesus tentang pengakuan iman dan penganiayaan: "Guru, suruhlah saudaraku untuk berbagi warisan denganku." Yesus menolak peran hakim yang disodorkan kepada-Nya, lalu berbalik kepada seluruh kerumunan itu dan mengucapkan satu kalimat yang jauh lebih tajam daripada keputusan hukum mana pun: "Berjaga-jagalah dan waspadalah atas segala bentuk keserakahan karena hidup seseorang tidak bergantung pada banyaknya harta yang ia miliki." Ia tidak menyelesaikan sengketa itu; Ia membongkar tanah tempat sengketa itu tumbuh. Dan Ia tidak hanya berbicara kepada si penuntut, melainkan kepada semua orang yang berdiri di sana, seolah setiap telinga di lapangan itu perlu mendengarnya.
Inti
Bayangkan dunia mereka: sebuah desa Galilea di mana tanah warisan bukan sekadar aset, melainkan nama, tempat, dan masa depan. Kehilangan bagian warisan berarti kehilangan pijakan sosial. Karena itu tuntutan orang ini masuk akal, bahkan mungkin adil. Justru di situ letak ketajaman Yesus: keserakahan hampir selalu menyamar sebagai keadilan yang wajar. Kata yang dipakai, pleonexia, secara harfiah berarti "keinginan akan yang lebih", bukan cinta uang belaka, melainkan dorongan tak pernah puas untuk menambah. Dan Yesus meletakkan pisaunya bukan pada jumlah harta, tetapi pada definisi hidup itu sendiri. Hidup, kata-Nya, bukan akumulasi. Manusia diciptakan sebagai penerima, bukan penimbun; yang menentukan keberadaan kita bukan apa yang tersimpan di lumbung, melainkan siapa yang memegang napas kita.
Benang Merah
Tanah di Israel tidak pernah sekadar properti. Dalam hukum Musa, tanah itu milik Allah dan Israel hanya menumpang di atasnya sebagai penyewa yang dipercaya (Imamat 25 mengatur bahwa tanah tidak boleh dijual putus, karena tanah itu milik Tuhan). Setiap pematang batu di Galilea seharusnya mengingatkan orang: kamu memiliki, tetapi tidak sungguh-sungguh memiliki. Sengketa warisan di ayat 13 memperlihatkan betapa jauh ingatan itu telah pudar; yang tersisa hanya perhitungan bagian. Ke dalam kekosongan itulah Yesus datang, bukan untuk membagi tanah, melainkan untuk membuka Kerajaan yang tidak dapat dibagi-bagi dengan cara begitu. Beberapa kalimat kemudian Ia menyebut yang sebaliknya: menjadi "kaya di hadapan Allah". Ia sendiri menempuh jalan itu sampai habis, melepaskan segalanya, dan justru dengan itu mewariskan Kerajaan kepada "kawanan kecil" yang tidak punya lumbung.
Cermin
Keserakahan jarang terasa seperti keserakahan. Ia terasa seperti tanggung jawab: menyiapkan masa depan anak, mengamankan hari tua, memastikan saudara tidak menang sendiri dalam pembagian rumah orang tua. Justru karena itu ayat ini menyakitkan. Yesus tidak bertanya berapa banyak yang kamu punya, tetapi apakah diam-diam kamu sudah percaya bahwa hidupmu akan sungguh dimulai ketika jumlah itu tercapai. Perhatikan bagaimana pikiranmu bekerja saat melihat rumah teman, saat membandingkan gaji, saat membaca surat warisan. Ada satu angka di kepalamu yang kamu anggap akan membuat semuanya beres. Angka itu belum pernah beres bagi siapa pun. Hari ini juga: tuliskan di secarik kertas satu barang atau satu jumlah yang diam-diam kamu anggap akan membuat hidupmu "cukup", lalu ucapkan dengan suara keras di atas tulisan itu, "hidup seseorang tidak bergantung pada banyaknya harta yang ia miliki."
Pertanyaan
Tetapi bagaimana dengan si penuntut? Mungkin saudaranya memang curang. Mungkin ia benar-benar terancam melarat, dan Yesus, yang di tempat lain begitu keras terhadap penindasan orang kecil, justru menolak menolongnya. Itu terasa dingin. Yesus tidak mengatakan tuntutannya salah; Ia hanya menolak menjadi alat di tangannya. Dan Ia tidak mengejar saudara yang lain untuk menegur. Ketidakadilan itu dibiarkan menggantung, tidak diselesaikan di halaman itu. Kita ingin Injil yang menyelesaikan perkara warisan, dan kita mendapatkan Injil yang menolak menjadi pengacara kita. Yang tersisa hanyalah janji tersirat bahwa Anak Manusia akan datang pada saat yang tidak disangka-sangka, dan bahwa semua yang tersembunyi akan dinyatakan. Itu bukan penghiburan murah. Itu penundaan yang harus dipercayai.
Detail
Yesus memakai dua kata perintah berturut-turut: "berjaga-jagalah dan waspadalah". Yang pertama berarti membuka mata baik-baik, yang kedua adalah kata seorang penjaga malam yang berdiri di tembok. Dua-duanya kata pengintai, bukan kata moral. Beberapa ayat kemudian gambaran itu kembali: pemilik rumah yang tidak tahu jam berapa pencuri datang. Di situlah letak seluruh bobot ayat ini. Keserakahan tidak mengetuk pintu depan sambil memperkenalkan diri. Ia masuk lewat perhitungan yang wajar, lewat kekhawatiran yang sah, lewat rasa haus akan keadilan. Tambahkan lagi kata "segala bentuk", dan pintu keluar terakhir tertutup. Tidak seorang pun di kerumunan itu boleh berpikir, "yang dimaksud pasti orang kaya di ujung desa."
Tokoh Utama
"Saudara, siapa yang mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kalimat itu bergema aneh bagi telinga Yahudi: hampir persis pertanyaan yang dilontarkan kepada Musa muda di Mesir ketika ia mencoba melerai dua orang Ibrani. Yesus meminjam tolakan itu dan membaliknya. Ia bukan menolak karena tidak berwenang, melainkan karena wewenang-Nya jauh lebih besar daripada meja pembagian warisan, dan waktunya belum tiba. Yang tampak di sini adalah seorang Guru yang tidak bisa direkrut. Orang datang membawa agenda; Ia menolak diperalat, lalu berbalik kepada kerumunan dan berbicara tentang hati mereka. Ada kelembutan di dalamnya juga: Ia memanggil orang itu "Saudara" sebelum menolaknya. Ia tidak memberi apa yang diminta, tetapi Ia memberi yang jauh lebih dibutuhkan.
Refleksi
Kapan terakhir kali kamu menyebut sesuatu "tanggung jawab" atau "keadilan", padahal jauh di dalam itu adalah keinginan untuk menambah?
Jika hidupmu tidak diukur dari apa yang kamu miliki, dari apa sebenarnya kamu selama ini mengukurnya, dan siapa yang paling merasakan akibatnya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 12:15
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 12:15?
Tentang apakah LUKAS 12:15?
Apa konteks historis dari LUKAS 12:15?
Apa yang LUKAS 12:15 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 12:15 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 12
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Orang itu datang kepada Yesus bukan untuk bertanya, melainkan untuk merekrut: "Suruh saudaraku membagi warisan itu denganku." Jawaban Yesus mengejutkan, "Hai Saudara, siapakah yang mengangkat Aku menjadi hakim atau pembagi warisan atas kamu?" Ia menolak jadi alat pembenaran. Kadang doa kita pun begitu: kita ingin Tuhan berpihak, bukan mengubah kita.
Ikatlah pinggangmu dan biarkan pelitamu tetap menyala." Dua hal sederhana: jubah yang diikat supaya bisa bergerak cepat, dan api kecil yang dijaga sepanjang malam. Menunggu Tuhan ternyata bukan duduk diam. Pelita itu harus diisi minyak berulang kali, malam demi malam. Mungkin pertanyaannya bukan apakah kamu percaya Dia datang, melainkan apakah nyala itu masih ada di rumahmu malam ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak membiarkan aku menebak-nebak kehendak-Mu, melainkan menyatakannya dengan jelas lewat firman-Mu. Aku bersyukur atas peringatan-Mu tentang hamba yang tahu kehendak tuannya, sebab teguran itu membangunkan aku untuk bersiap dan taat hari ini.
Bapa, jagalah hatiku dari keinginan yang tak pernah puas. Aku sering mengira hidupku akan lebih aman kalau punya lebih banyak, padahal yang kubutuhkan adalah Engkau. Ajar aku menghitung berkat, bukan menumpuknya, dan menemukan cukup di dalam Engkau.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi