LUKAS 18:27
Teksnya
Pertanyaan yang memicu ayat ini bukan pertanyaan akademis, melainkan jeritan: “Kalau begitu, siapa yang bisa diselamatkan?” Orang banyak baru saja mendengar Yesus mengatakan bahwa lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada orang kaya masuk Kerajaan Allah, dan mereka tahu persis apa artinya. Jika orang yang paling diberkati, paling saleh, paling mampu bermurah hati pun tidak lolos, maka pintu itu tertutup bagi semua orang. Jawaban Yesus sangat singkat, nyaris tanpa penjelasan: “Apa yang mustahil bagi manusia adalah mungkin bagi Allah.” Ia tidak mengoreksi kesimpulan mereka bahwa keselamatan itu mustahil. Ia hanya memindahkan seluruh persoalan itu dari tangan manusia ke tangan Allah, dan di situlah Ia membiarkannya.
Intinya
Perhatikan apa yang tidak dikatakan Yesus. Ia tidak berkata, “Tenang, tidak sesulit itu.” Ia juga tidak berkata, “Berusahalah lebih keras, pasti bisa.” Ia membiarkan kata “mustahil” berdiri utuh. Keselamatan bukan proyek manusia yang sulit; keselamatan adalah proyek manusia yang gagal total. Pemimpin kaya itu memiliki segalanya yang dianggap menjamin: ketaatan sejak muda, kekayaan sebagai tanda perkenan, posisi sosial. Dan justru segala yang ia miliki itulah yang tidak sanggup membawanya satu langkah pun ke dalam Kerajaan. Ayat ini karena itu bukan penghiburan umum bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil”, seolah-olah itu berlaku untuk cicilan rumah atau kesembuhan. Ini kalimat yang sangat spesifik tentang bagaimana seorang berdosa bisa diterima Allah: hanya kalau Allah sendiri yang mengerjakannya. Anugerah bukan bantuan tambahan atas usaha kita; anugerah adalah satu-satunya jalan yang tersisa setelah usaha kita jujur diakui mustahil.
Benang Merah
Yang membuat ayat ini lebih dari sekadar pepatah rohani adalah apa yang Yesus katakan beberapa kalimat kemudian. Di ayat 31 Ia menarik kedua belas murid-Nya dan berkata bahwa mereka akan naik ke Yerusalem, bahwa Anak Manusia akan diejek, dicambuk, dibunuh, dan bangkit pada hari ketiga. Jadi ketika Yesus berkata bahwa yang mustahil bagi manusia mungkin bagi Allah, Ia tidak sedang menunjuk pada kemahakuasaan yang samar. Ia sedang menunjuk pada diri-Nya sendiri dan pada jalan yang sedang Ia tempuh. Kemungkinan itu punya wajah dan punya harga. Allah membuat yang mustahil menjadi mungkin bukan dengan memperlebar lubang jarum, melainkan dengan menjadi manusia yang menanggung kemustahilan kita sampai mati. Dulu Allah bertanya kepada Abraham apakah ada yang terlalu sukar bagi-Nya, lalu memberi anak dari rahim yang mati; di sini Ia menjawab pertanyaan yang jauh lebih berat dengan memberi Anak-Nya sendiri.
Cermin
Kita jarang mengakui bahwa kita punya jaminan cadangan. Tetapi coba perhatikan apa yang diam-diam menenangkan hati Anda ketika memikirkan berdiri di hadapan Allah: tabungan yang cukup sehingga Anda tidak pernah benar-benar bergantung pada siapa pun, catatan pelayanan yang panjang, rumah tangga yang relatif utuh, kebiasaan membaca Alkitab setiap pagi. Semua itu baik. Tetapi pemimpin kaya itu juga punya semuanya, dan ia pulang dengan sedih. Yang paling menakutkan dari ayat ini bukan bahwa keselamatan sulit, melainkan bahwa hal-hal terbaik dalam hidup kita ternyata tidak bisa dijadikan uang muka. Hari ini, sebutkan satu hal yang paling Anda andalkan sebagai bukti bahwa Anda layak diterima Allah, katakan dengan suara keras, “Ini tidak bisa menyelamatkan aku,” lalu doakan kalimat pemungut cukai itu: “Ya, Allah. Berbelas kasihanlah kepadaku, si pendosa ini.”
Konteks
Percakapan ini terjadi di jalan, dalam perjalanan panjang Yesus menuju Yerikho dan akhirnya Yerusalem, dengan salib sudah di cakrawala. Orang yang bertanya disebut “seorang pemimpin”, kemungkinan besar tokoh sinagoge atau orang berpengaruh setempat, dan ia kaya. Dalam dunia itu, kekayaan bukan kecurigaan melainkan tanda: bukti bahwa Allah berkenan, dan sekaligus modal untuk bermurah hati, berpuasa, memberi sedekah, menjalankan Taurat dengan leluasa. Orang miskin harus bekerja; orang kaya punya waktu untuk saleh. Karena itu gambaran unta, hewan terbesar yang mereka kenal, melewati lubang jarum, hewan terbesar lewat celah terkecil, bukan lelucon melainkan guncangan. Pertanyaan orang banyak di ayat 26 adalah reaksi wajar: kalau kandidat terkuat gugur, tidak ada yang tersisa.
Profil
Lukas menulis bagi jemaat yang campur, sebagian cukup berada, orang-orang yang membuka rumah mereka untuk pertemuan dan menanggung biaya perjalanan rasul. Mereka membaca kisah ini bukan sebagai teori. Mereka tahu rasanya memiliki sesuatu yang bisa hilang. Di telinga mereka, jawaban Yesus terdengar sebagai pembebasan sekaligus ancaman: pembebasan, karena keselamatan mereka tidak bergantung pada seberapa radikal mereka melepaskan; ancaman, karena justru karena itu tidak ada satu pun harta yang pantas dipegang erat. Dan bagi orang-orang kecil dalam jemaat yang sama, budak, janda, buruh harian, kalimat ini membongkar hierarki rohani yang mereka rasakan setiap hari. Di depan pintu Kerajaan, orang kaya dan pengemis buta di Yerikho sama-sama hanya bisa berseru minta belas kasihan.
Tokoh Utama
Yesus di sini mengherankan justru karena Ia tidak mengejar. Ia melihat pemimpin itu pergi dengan sedih dan membiarkannya pergi; tidak ada tawar-menawar, tidak ada versi yang lebih ringan. Lukas mencatat bahwa Yesus “memandangnya” sebelum berbicara tentang unta dan lubang jarum, dan dalam pandangan itu ada kasih sekaligus kejujuran yang tidak mau menipu. Inilah Guru yang menolak menurunkan harga Kerajaan demi mempertahankan pengikut berkualitas. Tetapi Ia juga tidak meninggalkan orang banyak dalam keputusasaan. Ia menaruh seluruh beban kemustahilan itu di atas pundak Allah, lalu berjalan terus ke Yerusalem untuk memikulnya sendiri. Ketegasan dan kelembutan-Nya bukan dua sifat yang bergantian, melainkan satu gerakan yang sama menuju salib.
Refleksi
Apa yang akan paling sulit Anda lepaskan jika Yesus memintanya hari ini, dan apa yang pertanyaan itu ungkapkan tentang di mana rasa aman Anda sebenarnya berakar?
Jika keselamatan sepenuhnya pekerjaan Allah, apa yang berubah dalam cara Anda berdoa besok pagi?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 18:27
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 18:27?
Tentang apakah LUKAS 18:27?
Apa konteks historis dari LUKAS 18:27?
Apa yang LUKAS 18:27 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 18:27 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 18
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yesus, Engkau berjalan menuju Yerusalem dengan mata terbuka, tahu persis apa yang menanti di sana. Aku sering tidak mengerti arah yang Kaubuka di depanku. Ajar aku tetap melangkah di dekat-Mu, percaya bahwa Engkau menggenapi apa yang Kaujanjikan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi