MARKUS 2:19
Teks Itu Sendiri
Orang-orang datang dengan pertanyaan yang terdengar sopan tetapi sebenarnya menuduh: murid Yohanes berpuasa, murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak? Yesus tidak membela diri dengan argumen tentang aturan puasa. Ia menjawab dengan sebuah gambaran pesta: "Dapatkah para pengiring pengantin berpuasa sementara pengantin laki-laki ada bersama mereka? Selama pengantin laki-laki itu ada bersama dengan mereka, mereka tidak dapat berpuasa." Perhatikan kata "tidak dapat". Bukan "tidak perlu", bukan "sebaiknya jangan". Yesus mengatakan bahwa puasa di tengah pesta pernikahan itu mustahil, seperti berkabung sambil menari. Jawaban-Nya memindahkan seluruh perdebatan dari soal kesalehan ke soal waktu: pertanyaan yang sesungguhnya bukan apa yang dilakukan murid-murid-Nya, melainkan siapa yang sedang berdiri di tengah mereka.
Inti Persoalan
Di sinilah jawaban itu menjadi mengejutkan. Yesus menyebut diri-Nya pengantin laki-laki. Dalam Perjanjian Lama gambaran itu hampir selalu dipakai untuk satu Pribadi saja: Allah sendiri, yang mengikat diri kepada umat-Nya seperti suami kepada istrinya, setia bahkan ketika dikhianati. Ketika Yesus memakai gambaran itu untuk diri-Nya, Ia tidak sekadar membela murid-murid-Nya dari kritik; Ia menempatkan diri di posisi yang hanya milik Allah, sama seperti beberapa ayat sebelumnya ketika Ia mengampuni dosa orang lumpuh dan para ahli Taurat langsung mencium bau penghujatan. Konsekuensinya besar. Puasa dalam tradisi Israel adalah bahasa kerinduan: tubuh yang kosong menyuarakan hati yang menanti Allah bertindak. Yesus berkata bahwa yang dinanti itu sudah datang dan sedang duduk semeja. Anugerah bukan aturan baru yang ditambahkan, melainkan musim yang berganti.
Benang Merah
Gambaran pengantin laki-laki bukan metafora yang dipilih asal-asalan. Nabi-nabi memakainya untuk melukiskan hubungan Allah dengan Israel: perjanjian yang bukan kontrak dingin melainkan ikatan kasih, lengkap dengan cemburu, luka, dan pemulihan. Hosea harus menikahi perempuan yang tidak setia supaya Israel melihat seperti apa rasanya menjadi Allah yang dikhianati dan tetap kembali. Maka ketika Yesus menyebut diri-Nya pengantin itu, Ia sedang menutup lingkaran panjang yang terbentang sejak Sinai. Dan perhatikan kalimat berikutnya: "saatnya akan tiba ketika pengantin laki-laki akan diambil dari mereka." Kata "diambil" itu kasar, bukan kata perpisahan yang sopan. Sejak pasal kedua Markus, bayangan salib sudah jatuh ke atas pesta. Pengantin ini datang untuk dirampas, supaya pernikahan itu akhirnya sah selamanya.
Cermin
Ada kesalehan yang diam-diam lebih nyaman dengan kerinduan daripada dengan kehadiran. Kita tahu cara merindukan Tuhan; kita kurang tahu cara menikmati-Nya. Barangkali Anda mengenali itu: doa yang selalu berupa permohonan dan nyaris tidak pernah berupa sukacita, disiplin rohani yang dijalankan dengan wajah tegang, perasaan samar bahwa orang yang berpuasa lebih sungguh-sungguh daripada orang yang berpesta. Pertanyaan para penanya di Kapernaum masih hidup di kelompok kecil kita: siapa yang paling serius? Yesus membongkar hitung-hitungan itu dengan satu kalimat. Yang menentukan bukan seberapa keras Anda menyangkal diri, melainkan siapa yang sedang bersama Anda. Hari ini, sebelum makan malam, ucapkan dengan suara keras di meja Anda: "Pengantin itu ada di sini," lalu makanlah pelan-pelan tanpa ponsel di tangan.
Pertanyaan yang Sulit
Lalu kita hidup di musim yang mana? Ayat 20 berkata hari puasa itu akan datang, dan datang memang sudah. Pengantin itu diambil di Golgota. Tetapi Ia bangkit dan berjanji menyertai sampai akhir zaman. Jadi apakah gereja sekarang berpesta atau berkabung? Jawaban yang jujur: keduanya, dan Markus tidak memberi kita rumus untuk membagi porsinya. Ada pagi ketika kehadiran-Nya terasa seperti ruang pengantin, dan ada bulan-bulan ketika Ia terasa jauh seperti seseorang yang dirampas dari kita. Kedua pengalaman itu sah menurut ayat ini. Yang tidak sah adalah memilih salah satunya sebagai satu-satunya kerohanian yang benar: pesta tanpa salib menjadi dangkal, puasa tanpa pengantin menjadi pahit.
Konteks
Kita berada di Galilea, tidak lama sesudah perjamuan di rumah Lewi. Itu penting: pertanyaan tentang puasa muncul justru ketika aroma makanan masih tercium. Puasa wajib dalam Taurat hanya sekali setahun, pada Hari Pendamaian, tetapi orang Farisi yang saleh berpuasa dua kali seminggu sebagai tanda kesungguhan dan penantian akan pembebasan Israel. Murid-murid Yohanes punya alasan tambahan: guru mereka ada di penjara, suaranya dibungkam. Mereka berkabung dengan wajar. Di dunia itu, pernikahan berlangsung sampai tujuh hari, dan para tamu secara tradisi dibebaskan dari kewajiban keagamaan tertentu selama pesta; sukacita pengantin dianggap kewajiban tersendiri. Yesus memakai aturan yang semua orang kenal untuk mengatakan sesuatu yang tak seorang pun siap dengar.
Profil Pendengar
Markus menulis untuk orang-orang yang membaca ayat 19 sambil tahu persis apa yang terjadi di ayat 20. Mereka hidup sesudah salib, sebagian di bawah tekanan dan ancaman, jauh dari Galilea dan dari meja Lewi. Bagi mereka kalimat tentang pesta pernikahan terdengar manis sekaligus menyakitkan, seperti mengenang hari-hari yang tidak kembali. Namun justru itulah yang membuat ayat ini bekerja bagi mereka: puasa mereka bukan lagi penantian buta seperti dahulu, melainkan kerinduan orang yang sudah pernah melihat wajah Pengantin itu. Mereka berpuasa bukan karena ragu Ia akan datang, tetapi karena mereka tahu Ia sudah datang sekali dan akan datang lagi. Kerinduan yang punya nama selalu lain rasanya daripada kerinduan yang kosong.
Refleksi
Dalam hidup rohani Anda saat ini, mana yang lebih Anda percayai sebagai tanda kesungguhan: disiplin yang berat atau sukacita yang bebas, dan mengapa?
Di mana Anda sedang berkabung seolah Pengantin itu tidak ada, padahal Ia menjanjikan kehadiran-Nya justru di situ?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Mark 2:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MARKUS 2:19?
Tentang apakah MARKUS 2:19?
Apa konteks historis dari MARKUS 2:19?
Apa yang MARKUS 2:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MARKUS 2:19 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Mark 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yesus mengucapkan ini sambil duduk makan, di rumah Lewi, di antara orang-orang yang dihindari semua orang saleh. "Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang benar, melainkan orang-orang berdosa."
Pertanyaannya sederhana: kamu ingin dilihat sebagai yang sehat, atau kamu berani mengaku sakit? Sebab tabib itu hanya mendekat pada yang mengaku butuh.
Tuhan, kadang aku lupa bahwa Engkau dekat, dan hariku terasa seperti kewajiban yang berat. Ingatkan aku bahwa bersama-Mu ada alasan untuk bersukacita, seperti tamu di pesta pernikahan. Ajar aku menikmati kehadiran-Mu hari ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menuang anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua. Engkau tidak sekadar menambal hidupku, tetapi membaruinya. Terima kasih untuk setiap kebiasaan lama yang Engkau lepaskan dari tanganku, dan untuk hati baru yang sanggup menampung karya-Mu.
Yesus berkata, "Tidak ada orang yang menjahitkan sepotong kain yang baru pada baju yang lama... sobekannya akan menjadi lebih buruk." Dia tidak datang untuk menambal hidupmu di sana sini. Kita sering ingin Dia menutupi satu bagian yang bocor saja, sisanya biar tetap seperti dulu. Tapi kain baru itu menarik, dan robekan lama justru makin terbuka. Mungkin itu sebabnya terasa sakit: Dia sedang memberi yang baru, bukan sekadar memperbaiki.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi