MATIUS 5:20
Teksnya
Setelah menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat melainkan menggenapinya, Yesus melontarkan satu kalimat yang mengubah suasana di lereng bukit itu: "jika kebenaranmu tidak lebih baik daripada kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu sama sekali tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga." Bayangkan jeda sesudahnya. Angin dari danau. Seorang nelayan menoleh pada temannya. Seorang ibu menarik anaknya lebih dekat. Karena kalau standarnya adalah orang-orang yang menghafal Taurat sejak kecil, mencuci tangan menurut aturan, memberi persepuluhan sampai ke daun mint, maka semua orang di lereng itu baru saja mendengar pintu ditutup di depan wajah mereka. Dan Yesus belum selesai bicara.
Intinya
Yang mengejutkan bukan bahwa Yesus menuntut lebih banyak, melainkan bahwa Ia menuntut sesuatu yang lain jenisnya. Kata Yunani yang dipakai, perisseuō, berarti "melimpah, meluap", bukan sekadar "lebih tinggi angkanya". Kebenaran orang Farisi bisa diukur, dicatat, dibandingkan. Kebenaran yang meluap tidak bisa ditakar, karena ia lahir dari hati yang sudah diubah, bukan dari daftar yang sudah dicentang. Lihat ke depan: sebentar lagi Yesus bicara tentang amarah, tentang pandangan mata, tentang sumpah, tentang musuh. Semuanya wilayah yang tak terjangkau pengadilan mana pun. Kerajaan Surga tidak dimasuki oleh orang yang berhasil menaklukkan perilakunya, melainkan oleh orang yang dikuasai Allah sampai ke ruang terdalam yang tak seorang pun lihat.
Benang Merah
Ayat ini akan menjadi kejam kalau berdiri sendiri. Tetapi ia berdiri sesudah ucapan bahagia. Yesus baru saja berkata, "Diberkatilah orang yang miskin dalam roh sebab mereka yang mempunyai Kerajaan Surga." Yang masuk Kerajaan adalah orang yang datang dengan tangan kosong. Lalu bagaimana orang bertangan kosong memiliki kebenaran yang melampaui para ahli Taurat? Jawabannya ada pada Pribadi yang mengucapkannya. Ia yang berkata "Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya" akan menggenapi Taurat itu bukan hanya dengan mengajar, melainkan dengan hidup-Nya sendiri, sampai ke salib. Kebenaran yang meluap itu pertama-tama adalah kebenaran-Nya, yang diberikan, lalu ditumbuhkan di dalam kita. Perjanjian Lama sudah menjanjikannya: hukum yang ditulis bukan di batu, melainkan di hati.
Cermin
Kita lebih Farisi daripada yang kita akui. Bukan karena kita munafik dalam arti sinetron, melainkan karena kita menyukai ukuran. Sudah berapa lama saya tidak melewatkan saat teduh. Saya tidak selingkuh, tidak seperti rekan kerja itu. Saya melayani di gereja tiga bidang. Ukuran itu menenangkan, karena ukuran bisa dipenuhi, dan yang bisa dipenuhi bisa dipamerkan, minimal pada diri sendiri. Ayat ini mencabut kenyamanan itu. Bagaimana dengan kebencian terpendam pada saudara kandung yang mengambil warisan lebih banyak? Kepahitan yang Anda simpan rapi terhadap majelis gereja? Perhitungan halus saat memberi, agar terlihat? Yesus tidak menaikkan standar untuk membuat Anda putus asa, melainkan untuk membuat Anda berhenti mengandalkan rapor dan mulai mengandalkan Dia.
Pertanyaan
Kalau tidak seorang pun sanggup, mengapa Yesus tetap mengatakannya, bahkan menutupnya dengan "kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna"? Godaan kita adalah melunakkannya: itu hanya cermin, itu cuma untuk menyadarkan kita akan dosa. Tetapi Yesus tidak berkata "cobalah". Ia berkata "harus". Saya tidak bisa membereskan ketegangan ini dan sebaiknya tidak berpura-pura bisa. Yang bisa saya katakan: perintah ini adalah undangan sekaligus penghakiman, dan keduanya benar pada saat bersamaan. Anugerah tidak menurunkan tuntutan, anugerah memberi kita Pribadi yang memenuhinya dan Roh yang mulai mengerjakannya dalam diri kita. Ketegangan itu tidak hilang di dunia ini. Ia justru menjaga iman tetap hidup dan tetap rendah hati.
Konteks
Galilea, awal tahun tiga puluhan, di bawah pendudukan Roma. Orang banyak yang mengikuti Yesus ke bukit itu sebagian besar adalah petani, nelayan, buruh harian; orang-orang yang tidak punya waktu maupun pendidikan untuk mempelajari ratusan aturan turunan Taurat. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi bukan penjahat dalam kesadaran publik saat itu. Mereka adalah teladan, orang saleh yang dihormati, yang berusaha menjaga kekudusan Israel di tengah tekanan kafir. Menyebut mereka sebagai batas bawah, bukan batas atas, sama saja dengan menggeser seluruh peta kesalehan yang dikenal pendengar. Dan Yesus melakukannya sambil duduk, posisi resmi seorang guru, di atas bukit, di tempat yang mau tak mau mengingatkan orang pada Musa dan Sinai.
Tokoh Utama
Perhatikan siapa yang berbicara. Bukan nabi yang berkata "beginilah firman TUHAN", melainkan seseorang yang berkata "Aku mengatakan kepadamu". Ia menempatkan diri-Nya di atas seluruh tradisi penafsiran, bahkan di samping Taurat itu sendiri, dan Ia melakukannya tanpa gugup. Yang mengejutkan, kewibawaan setinggi itu tidak melahirkan kekerasan. Orang yang menetapkan standar mustahil ini adalah orang yang sama yang baru saja memberkati orang berdukacita dan yang lembut hatinya. Ia keras terhadap ilusi kita, lembut terhadap kelemahan kita. Ia menutup satu pintu, pintu prestasi religius, justru supaya kita menemukan bahwa Dia sendiri adalah pintu yang lain. Itulah wajah Allah dalam ayat ini: menuntut segalanya, lalu memberikan segalanya.
Refleksi
Ukuran apa yang diam-diam saya pakai untuk menenangkan hati saya sendiri di hadapan Allah, dan apa yang terjadi jika ukuran itu dicabut?
Di bagian hidup mana ketaatan saya berhenti pada perilaku yang terlihat orang, dan belum menyentuh apa yang bergerak di dalam hati saya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 5:20
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 5:20?
Tentang apakah MATIUS 5:20?
Apa konteks historis dari MATIUS 5:20?
Apa yang MATIUS 5:20 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 5:20 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
What strikes me most about the Sermon on the Mount is not the content but the listeners. No rabbis, no scribes, just fishermen and beggars and the sick. Jesus gave his deepest teaching to people nobody took seriously. That comforts me whenever I feel too small for the Kingdom again.
Kamu telah mendengar firman yang mengatakan, 'Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu.'" Perhatikan: bagian kedua itu tidak pernah Allah firmankan. Manusia yang menambahkannya, karena lebih mudah mengasihi kalau ada daftar orang yang boleh dibenci. Adakah nama yang diam-diam kamu taruh di daftar itu? Yesus datang menghapusnya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi