MARKUS 8
The Text
Untuk kedua kalinya Yesus memberi makan ribuan orang di padang gurun, kali ini tujuh roti untuk empat ribu orang, dengan tujuh keranjang sisa. Lalu orang Farisi menuntut tanda, murid-murid ribut soal roti yang lupa dibawa, dan seorang buta di Betsaida disembuhkan dalam dua tahap: mula-mula ia melihat orang "seperti pohon-pohon yang sedang berjalan", baru kemudian jelas. Puncaknya di jalan menuju Kaisarea Filipi: Petrus mengakui Yesus sebagai Sang Kristus, langsung salah paham tentang salib, dan ditegur keras. Bab ini ditutup dengan panggilan memikul salib.
The Core
Markus menaruh orang buta itu persis di tengah bab dengan sengaja. Penyembuhan dua tahap itu adalah potret murid-murid: mata mereka setengah terbuka. Petrus benar ketika berkata "Engkau adalah Sang Kristus", tetapi ia masih melihat pohon berjalan, bukan manusia. Ia mengaku Mesias tanpa salib, kuasa tanpa penderitaan, kerajaan tanpa kematian. Dan justru di titik itu Yesus memakai kata paling keras dalam Injil Markus terhadap murid-Nya sendiri: "Pergi dari-Ku, Setan!" Pengetahuan yang benar tentang identitas Yesus, bila dilepaskan dari jalan-Nya menuju kematian, bukan iman setengah matang melainkan pekerjaan Iblis. Teologi yang benar tentang siapa Kristus tidak pernah bisa dipisahkan dari apa yang Ia lakukan. Ini yang membuat kita membutuhkan sentuhan kedua.
The Common Thread
Roti di padang gurun bukan kejadian biasa; itu gema Keluaran. Israel di tanah kosong, tidak punya apa-apa, dan Allah memberi makan sampai kenyang. Yang baru: kini yang memecah roti adalah Anak Manusia sendiri, dan Ia melakukannya untuk empat ribu orang di wilayah bukan Yahudi, sesudah lima ribu orang di sisi Yahudi. Dua belas keranjang untuk Israel, tujuh keranjang di tanah bangsa-bangsa. Perjanjian Allah sedang melebar. Namun roti yang dipecah-pecah itu menunjuk ke depan, ke tubuh yang akan dipecahkan. Karena itu Markus langsung menyusulkan: "Anak Manusia harus menderita banyak hal." Kata "harus" itu bukan nasib, melainkan keharusan rencana keselamatan Allah. Meja yang kenyang di padang gurun hanya mungkin karena salib di ujung jalan.
The Mirror
Perhatikan betapa cepat murid-murid lupa. Baru saja mengumpulkan tujuh keranjang sisa, dan di perahu mereka panik karena "hanya mempunyai sepotong roti". Kita begitu. Anda bisa mengingat dengan jelas bagaimana Tuhan menyediakan waktu tagihan rumah sakit datang, lalu tiga bulan kemudian terjaga jam dua pagi menghitung ulang gaji yang kurang. Ingatan rohani kita bocor. Yesus tidak menghibur mereka di situ; Ia bertanya, "Apakah hatimu menjadi keras?" Itu bahasa yang biasanya dipakai untuk Firaun. Lupa akan kebaikan Allah bukan kelemahan kecil, itu pengerasan hati yang sedang berjalan pelan. Dan peringatan tentang "ragi orang Farisi dan ragi Herodes" mengenai dua godaan kita yang paling akrab: agama sebagai kendali, dan kekuasaan sebagai jaminan.
Context
Kita berada di paruh Injil Markus, di wilayah utara, jauh dari Yerusalem. Kaisarea Filipi adalah kota yang dibangun ulang oleh Filipus, penuh kuil dewa-dewa dan monumen bagi Kaisar; di kota yang mendewakan penguasa itulah pertanyaan "menurut kamu, siapakah Aku ini?" diajukan. Orang Farisi yang menuntut tanda datang bukan sebagai pencari, tetapi "untuk mencobai-Nya", dengan kosakata yang sama seperti pencobaan di padang gurun. Yesus "menghela napas panjang dalam Roh-Nya", sebuah keluhan, bukan argumen. Salib sendiri bukan simbol religius bagi pendengar pertama; itu alat eksekusi Romawi yang mereka lihat di pinggir jalan. Memikul salib berarti berjalan sebagai terpidana menuju tempat kematiannya, disaksikan tetangga.
The Profile
Markus menulis bagi orang percaya yang kemungkinan besar sedang ditekan, mungkin di Roma, di mana mengaku Kristus bisa berarti kehilangan pekerjaan, keluarga, atau nyawa. Bagi mereka, kalimat "siapa yang malu karena Aku dan firman-Ku" bukan teori. Mereka mengenal tetangga yang diam saat ditanya, dan mereka tahu betapa masuk akal diam itu. Mereka juga mengenal Petrus, sang rasul besar, yang di sini gagal total dan disebut Setan. Itu bukan penghinaan bagi mereka, itu kelegaan: gereja tidak dibangun di atas murid yang sempurna, melainkan di atas Kristus yang menegur, mengampuni, dan tetap berjalan bersama murid yang setengah melihat.
The Question
Mengapa Yesus menolak memberi tanda kepada orang Farisi, padahal Ia baru saja memberi makan empat ribu orang? Bukankah itu tanda? Di sinilah teks menggigit. Tanda tidak pernah kurang; yang kurang adalah mata yang mau melihat. Orang Farisi meminta bukti yang memaksa, sesuatu yang tidak bisa dibantah, sehingga mereka tetap menjadi hakim dan Allah menjadi terdakwa. Iman semacam itu tidak pernah lahir dari bukti. Tetapi jawaban ini tidak menghapus kepedihannya: ada orang yang sungguh ingin percaya dan tetap merasa langit diam. Markus tidak menjanjikan penglihatan penuh seketika. Ia hanya menunjukkan seorang buta yang harus disentuh dua kali, dan seorang Yesus yang tidak pergi setelah sentuhan pertama.
Reflection
Di bagian mana hidupmu kamu masih "melihat orang seperti pohon berjalan", tahu tentang Kristus tetapi belum sungguh melihat jalan-Nya?
Ragi mana yang lebih diam-diam bekerja dalam dirimu: ragi orang Farisi, atau ragi Herodes?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Mark 8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MARKUS 8?
Tentang apakah MARKUS 8?
Apa konteks historis dari MARKUS 8?
Apa yang MARKUS 8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MARKUS 8 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Mark 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena ketika murid-murid lupa membawa roti dan hanya ada satu roti di dalam perahu, Engkau tetap ada bersama mereka. Aku bersyukur kelupaanku tidak membatalkan pemeliharaan-Mu, dan yang sedikit di tanganku cukup karena Engkau ada di perahuku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
