MATIUS 14:9
Teksnya
Sebuah pesta ulang tahun, seorang gadis yang baru selesai menari, dan sebuah permintaan yang membuat udara di ruangan itu membeku: kepala Yohanes Pembaptis, di atas nampan, sekarang juga. Ayat 9 menangkap detik-detik sesudahnya. Raja itu sedih. Matius tidak menyembunyikannya; ada sesuatu di dalam diri Herodes yang menolak, yang tahu ini salah. Tetapi kesedihan itu tidak menghentikan apa pun. Dua hal lebih berat menekan: sumpah yang sudah terucap, dan wajah-wajah para tamu yang sedang makan bersamanya, menunggu. Maka ia memerintahkan agar hal itu diberikan. Satu kalimat pendek, satu perintah tenang di tengah pesta, dan seorang nabi kehilangan nyawanya. Tidak ada ledakan amarah di sini. Hanya seorang penguasa yang menyerah pada ruangan tempat ia duduk.
Intinya
Yang menakutkan dari ayat ini bukan kekejaman, melainkan kesopanannya. Herodes tidak membunuh karena benci; ia membunuh karena malu. "Karena sumpahnya dan karena orang-orang yang makan bersamanya." Ia lebih takut kehilangan muka di depan meja perjamuan daripada takut kepada Allah yang telah mengutus Yohanes. Di situlah teks ini menelanjangi manusia: hati nurani bisa hidup dan tetap tidak berkuasa. Kesedihan bukan pertobatan. Perasaan bersalah yang tidak diubah menjadi tindakan hanyalah cara halus untuk tetap menganggap diri baik sambil melakukan yang jahat. Dan perhatikan siapa yang sebenarnya memerintah di ruangan itu: bukan sang raja, melainkan tatapan para tamunya. Kerajaan Allah datang lewat orang yang berani berkata "tidak dibenarkan bagimu"; kerajaan dunia runtuh lewat orang yang tidak berani mempermalukan dirinya sendiri.
Benang Merah
Ada gema yang tidak bisa diabaikan di sini. Beberapa pasal kemudian, seorang penguasa lain akan duduk di kursinya, tahu bahwa Orang yang berdiri di hadapannya tidak bersalah, merasa gelisah, dan tetap menyerahkan-Nya karena tekanan orang banyak. Pilatus adalah Herodes dengan skala yang lebih besar. Matius sengaja menempatkan kematian Yohanes tepat sebelum Yesus menyingkir "ke tempat yang sunyi sendirian": sang pendahulu mati, dan bayangan salib jatuh ke depan. Ini pola yang berulang sepanjang Kitab Suci. Nabi-nabi dibungkam bukan oleh orang-orang yang bersemangat jahat, melainkan oleh orang-orang yang lemah dan terhormat. Dan justru melalui jalan itu, melalui kekuasaan yang pengecut, Allah menggenapi keselamatan-Nya. Herodes mengira ia sedang menjaga wibawanya. Ia sedang membuka pintu bagi Injil.
Cermin
Anda mungkin tidak pernah memerintahkan sebuah pemenggalan. Tetapi Anda tahu rasanya duduk di meja yang salah dan diam. Rapat di kantor di mana keputusan yang Anda tahu tidak jujur disahkan, dan Anda menahan tangan Anda karena semua orang mengangguk. Percakapan keluarga di mana seseorang direndahkan dan Anda ikut tertawa kecil supaya tidak merusak suasana. Janji atau komitmen yang sudah terlanjur Anda ucapkan, dan Anda memilih menepatinya bukan karena benar, tetapi karena menariknya kembali akan mempermalukan Anda. Herodes sedih. Anda juga sering sedih. Pertanyaannya bukan apakah hati nurani Anda masih berbicara, tetapi apakah suaranya cukup keras untuk mengalahkan tatapan orang-orang di meja Anda. Kesedihan yang tidak pernah berbelok menjadi keberanian adalah bentuk kompromi yang paling nyaman.
Pertanyaannya
Mengapa Allah membiarkan Yohanes mati begitu murah? Bukan sebagai martir di tengah keramaian, bukan dengan pidato terakhir, melainkan di sebuah sel penjara, sebagai hadiah pesta ulang tahun. Yesus tidak turun tangan. Tidak ada mukjizat, tidak ada gempa yang membuka pintu penjara. Yesus mendengar, lalu menyingkir. Kita ingin teks ini menjelaskan sesuatu, memberi makna yang rapi. Matius tidak memberikannya. Yang ia berikan hanyalah urutan: Yohanes mati, Yesus berduka di tempat sunyi, lalu Ia keluar dan "berbelas kasihan kepada mereka". Allah tidak selalu mencegah kejahatan sepele yang menghancurkan orang benar. Ia menanggungnya, lalu terus bekerja. Itu bukan jawaban yang memuaskan. Itu adalah kesaksian yang jujur.
Tokoh Utamanya
Herodes Antipas adalah studi tentang manusia yang punya segalanya kecuali dirinya sendiri. Ia sudah ingin membunuh Yohanes sejak lama, tetapi ditahan oleh ketakutan pada orang banyak. Kini ia membunuh Yohanes, juga karena ketakutan pada orang banyak. Ketakutan yang sama, hasil yang berlawanan. Itulah potret orang tanpa poros batin: arahnya ditentukan sepenuhnya oleh siapa yang sedang menonton. Ia disebut "raja", tetapi tidak berkuasa atas satu hal pun yang penting, tidak atas nafsunya, tidak atas lidahnya, tidak atas rasa malunya. Yang paling menyedihkan: ia tahu. Ia tahu Yohanes seorang nabi, ia mendengarkannya, ia sedih. Pengetahuan tanpa penyerahan tidak menyelamatkan siapa pun. Herodes adalah peringatan bagi setiap orang yang merasa aman karena hatinya masih bisa tersentuh.
Profilnya
Pembaca pertama Matius adalah orang Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan Roma dan keluarga Herodes, dinasti yang mereka anggap setengah asing, boneka penjajah, penguasa yang membangun kota-kota Yunani di tanah perjanjian. Mereka tahu betul seperti apa perjamuan istana itu: gaya hidup Romawi, sumpah yang diumbar untuk pamer, tamu-tamu berpengaruh yang harus dipuaskan. Bagi mereka, kalimat "karena orang-orang yang makan bersamanya" bukan detail sepele; itu deskripsi seluruh sistem kekuasaan yang menindas mereka. Dan mereka mendengar sesuatu yang menggetarkan: seorang nabi Israel telah bangkit lagi setelah berabad-abad sunyi, lalu dibunuh persis seperti nabi-nabi dahulu. Cerita lama berulang. Tetapi kali ini Yang Datang sesudahnya tidak akan tinggal di kubur.
Refleksi
Di meja mana Anda paling sulit berkata tidak, dan siapa sebenarnya yang sedang Anda takuti di sana?
Kapan terakhir kali kesedihan Anda atas sesuatu yang salah benar-benar berubah menjadi tindakan, bukan sekadar perasaan yang meredakan diri sendiri?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 14:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 14:9?
Tentang apakah MATIUS 14:9?
Apa konteks historis dari MATIUS 14:9?
Apa yang MATIUS 14:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 14:9 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Matthew 14?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi