MAZMUR 116:15
Teks Itu
Di tengah nyanyian seorang yang baru saja lolos dari kematian, terselip satu kalimat yang seperti dipahat di batu: "Berharga dalam pandangan TUHAN, kematian orang-orang kudus-Nya." Pemazmur baru saja bercerita bahwa tali-tali maut membelitnya dan ia berseru minta dilepaskan; sekarang ia berdiri di pelataran Bait Allah dengan piala keselamatan di tangan. Dan justru di situ ia berkata: nyawa orang-orang yang setia kepada Tuhan tidak murah di mata-Nya.
Inti
Kata yang dipakai di sini, yaqar, tidak hanya berarti "indah" atau "mulia", tetapi terutama "mahal", "berat harganya", seperti batu permata yang tidak dilepas sembarangan. Maknanya bukan bahwa Tuhan senang melihat orang percaya mati. Maknanya: Ia tidak membuang nyawa mereka dengan enteng. Kematian seorang milik-Nya bukan kejadian sepele di langit; ada harga yang harus dibayar, dan Tuhan menimbangnya. Itulah sebabnya pemazmur masih hidup untuk menyanyikan ayat ini. Ia bukan sedang menghibur diri di pemakaman orang lain; ia sedang menjelaskan mengapa ia sendiri tidak jadi mati. Allah yang "murah hati dan adil" tidak memperlakukan umat-Nya sebagai barang habis pakai.
Benang Merah
Mazmur 116 adalah bagian dari rangkaian Hallel yang dinyanyikan pada malam Paskah. Artinya: kalimat ini kemungkinan besar keluar dari mulut Yesus sendiri, di ruang atas, beberapa jam sebelum Getsemani. Ia menyanyikan bahwa kematian orang kudus-Nya mahal di mata Tuhan, lalu berjalan menuju kematian-Nya sendiri. Dan di sana benang itu berbalik arah: yang mahal harganya justru dibayar. Bapa tidak melepaskan Anak-Nya dari tali-tali maut, supaya semua yang percaya bisa berkata seperti pemazmur, "Engkau telah melepaskan jiwaku dari maut." Nyawa Anda menjadi berharga bukan karena mutu kesalehan Anda, melainkan karena harga yang sudah dibayarkan untuk itu.
Cermin
Anda mungkin pernah mengambil ayat ini untuk menutup luka yang belum bersih: ayah yang meninggal terlalu cepat, anak yang tidak sempat tumbuh, sahabat yang tersapu penyakit di usia empat puluh. Ayat ini dikutip, semua mengangguk, dan diam-diam Anda berpikir: kalau memang berharga, mengapa dibiarkan? Perhatikan bahwa pemazmur tidak memakainya begitu. Ia memakainya sebagai orang yang selamat, bukan sebagai penghibur di rumah duka. Dan justru di situ ayat ini menampar sesuatu yang lain dalam diri Anda: perasaan bahwa hidup Anda tidak terlalu diperhitungkan. Bahwa Tuhan mengurus hal-hal besar, gereja, misi, bangsa-bangsa, dan Anda hanya angka. Anda bangun pagi, mengajar, menagih utang, mengantar anak, tidur, dan menduga tidak ada yang menghitung. Ayat ini berkata: nyawa Anda mahal di mata-Nya. Bukan karena prestasi Anda, tetapi karena Anda milik-Nya. Itu melegakan sekaligus mengganggu, sebab kalau nyawa Anda semahal itu, Anda tidak boleh membuangnya pada hal-hal murahan.
Pertanyaan
Lalu mengapa orang-orang kudus tetap mati, dan sering dengan cara yang mengerikan? Pemazmur diselamatkan; jutaan lainnya tidak. Kalau kematian mereka "mahal", mengapa Tuhan tetap membayarnya? Saya tidak bisa memuluskan ini. Yang bisa saya katakan: teks ini tidak berjanji bahwa Anda tidak akan mati, dan tidak berjanji bahwa kematian orang yang Anda kasihi bisa dijelaskan. Yang dikatakannya adalah bahwa kematian itu tidak terjadi di luar perhitungan Allah, tidak murah, tidak sembarangan. Itu jauh lebih sedikit daripada yang kita inginkan dan jauh lebih banyak daripada yang bisa diberikan oleh kalimat "semua ada hikmahnya". Tuhan tidak berutang penjelasan kepada kita. Ia berutang, kalau boleh dikatakan demikian, pada janji-Nya sendiri untuk tidak melepaskan milik-Nya.
Detail
Perhatikan siapa yang disebut: "orang-orang kudus-Nya". Dalam bahasa Ibrani ini bukan orang yang suci luar biasa, melainkan orang yang terikat pada kasih setia Tuhan, orang perjanjian. Dan pemazmur sendiri menjelaskan siapa mereka di ayat berikutnya: "Ya TUHAN, aku ini hamba-Mu. Aku ini anak hamba-Mu, anak hamba perempuan-Mu." Ia menyebut dirinya budak, anak budak perempuan, kelas paling bawah dalam rumah tangga kuno. Justru orang seperti itulah yang nyawanya mahal di mata Tuhan. Ayat 6 sudah memberi isyarat: "TUHAN melindungi yang sederhana; aku lemah, dan Dia menyelamatkan aku." Kekudusan di sini bukan tangga yang dinaiki, melainkan kepemilikan yang diakui. Anda tidak menjadi berharga dengan menjadi kuat; Anda berharga karena Ia memegang Anda.
Profil
Bagi Israel yang menyanyikan mazmur ini di pelataran Bait Allah, kematian bukan urusan pribadi. Mereka hidup di dunia di mana raja-raja besar membuang ribuan nyawa untuk membangun tembok, di mana dewa-dewa bangsa tetangga menuntut korban anak, di mana budak mati tanpa nama tercatat. Ke dalam dunia itu jatuh kalimat: nyawa hamba yang paling kecil pun mahal di mata TUHAN. Itu bukan penghiburan sentimental, itu pernyataan politik dan teologis sekaligus. Bagi para pendengar pertama, mazmur ini juga sebuah kesaksian publik: orang ini datang membawa kurban syukur dan membayar nazarnya "di hadapan semua umat-Nya". Ia tidak menyimpan kelepasannya sebagai pengalaman rohani pribadi. Ia menceritakannya, supaya orang lain yang sedang dibelit tali-tali maut tahu ke mana berseru.
Di mana dalam hidup Anda saat ini Anda memperlakukan nyawa Anda sendiri sebagai barang murah: waktu, tubuh, tenaga, perhatian?
Jika kematian orang kudus-Nya mahal di mata Tuhan, apa yang berubah dalam cara Anda mengingat orang yang Anda kasihi yang sudah meninggal?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 116:15
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 116:15?
Tentang apakah MAZMUR 116:15?
Apa konteks historis dari MAZMUR 116:15?
Apa yang MAZMUR 116:15 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 116:15 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 116?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi