MAZMUR 118
Teks
Mazmur ini dibuka dan ditutup dengan kalimat yang sama: "Bersyukurlah kepada TUHAN karena Dia baik, karena kasih setia-Nya selama-lamanya!" Di antara dua tiang itu berdiri kesaksian seorang yang nyaris habis. Ia terkepung dari segala arah, didorong sampai jatuh, dihajar sedemikian rupa sampai maut terasa dekat, tetapi Tuhan menjawabnya dan menempatkannya "di tempat yang luas." Lalu nada berubah: ada sorak-sorai di tenda orang benar, ada arak-arakan menuju gerbang Bait Allah, ada seruan "Ya TUHAN, selamatkanlah!" dan berkat bagi "orang yang datang dalam nama TUHAN." Di tengahnya tertanam satu kalimat yang kelak mengguncang sejarah: batu yang dibuang para tukang bangunan justru menjadi batu penjuru. Yang ditolak manusia ternyata dipilih Allah, dan itu disebut keajaiban di mata kita.
Inti
Yang menjadi taruhan di sini bukan optimisme, melainkan siapa yang layak dipercaya ketika semua penyangga runtuh. Pemazmur tidak berkata bahwa manusia jahat dan Tuhan baik; ia berkata sesuatu yang lebih tajam: "Lebih baik berlindung kepada TUHAN, daripada memercayai para penguasa." Para penguasa itu nyata, punya tentara, punya perbendaharaan, punya kemampuan menolong. Namun mereka tidak punya kasih setia yang "selama-lamanya." Itulah kata kunci Perjanjian Lama, chesed, kesetiaan berjanji yang tidak dibatalkan oleh kegagalan pihak lain. Dan perhatikan ayat 18: penderitaan itu tidak dijelaskan sebagai kebetulan, melainkan sebagai hajaran Tuhan sendiri yang berhenti tepat sebelum maut. Allah yang memukul adalah Allah yang menyelamatkan. Iman di sini bukan penyangkalan terhadap kesesakan, melainkan keyakinan bahwa tangan yang sama menahan dan mengangkat, dan bahwa tangan itu tidak pernah lepas.
Benang Merah
Mazmur 118 adalah mazmur terakhir dari rangkaian Hallel yang dinyanyikan pada malam Paskah Yahudi. Artinya: kalimat-kalimat ini kemungkinan besar adalah lagu terakhir yang keluar dari mulut Yesus sebelum Ia berjalan ke Getsemani. Bayangkan Dia menyanyikan "Aku takkan mati, tetapi hidup" beberapa jam sebelum ditangkap. Beberapa hari sebelumnya, orang banyak di Yerusalem telah meneriakkan ayat 25 dan 26 kepada-Nya, "Ya TUHAN, selamatkanlah!" (hosana) dan "Diberkatilah orang yang datang dalam nama TUHAN." Mereka mengutip mazmur ini tanpa tahu betapa harfiahnya penggenapannya. Dan Yesus sendiri mengambil ayat 22 dan menempelkannya pada diri-Nya di hadapan para imam. Penolakan bukan kecelakaan dalam rencana Allah; penolakan itulah cara batu penjuru dipasang. Salib dan kebangkitan sudah bernyanyi di sini, berabad-abad sebelumnya.
Cermin
Kita jarang mengaku memercayai "para penguasa," tetapi kita melakukannya setiap hari: pada atasan yang bisa memperpanjang kontrak, pada kenalan yang bisa membuka pintu, pada angka di rekening yang menentukan seberapa nyenyak kita tidur. Selama semua itu berdiri, ayat 8 terdengar seperti puisi rohani. Ia baru menggigit ketika penyangga itu patah. Dan ada luka lain yang disentuh mazmur ini: rasa dibuang. Anda pernah menjadi batu yang disingkirkan tukang bangunan, dilewati dalam promosi, tidak dipilih, dianggap tidak cocok. Mazmur ini tidak berkata penolakan itu tidak sakit. Ia berkata bahwa penilaian para tukang bangunan bukan kata terakhir. Hari ini, ucapkan dengan suara keras kalimat ayat 6, "TUHAN bersamaku, aku takkan takut," lalu sebutkan dengan lantang satu nama atau satu situasi yang paling Anda takuti minggu ini.
Teks Terkait
Dua tempat menunjukkan betapa keras ayat 22 dipakai gereja mula-mula. Pertama, dalam Matius 21, sesudah perumpamaan tentang penggarap kebun anggur yang membunuh sang anak, Yesus mengutip ayat batu penjuru ini tepat di hadapan para imam kepala. Ia sedang berkata: kalianlah tukang bangunan itu, dan Aku batu itu. Kedua, dalam Kisah Para Rasul 4, Petrus berdiri di depan Mahkamah Agama yang sama dan mengutip ayat yang sama, kali ini dengan kebangkitan sebagai bukti bahwa Allah sudah membalikkan keputusan mereka. Menarik bahwa keduanya terjadi di Yerusalem, di dekat gerbang-gerbang yang disebut ayat 19 dan 20. Batu yang dibuang tidak dilempar jauh; ia dipasang persis di sudut bangunan yang menolaknya.
Konteks
Bayangkan sebuah arak-arakan. Seseorang, kemungkinan besar raja, kembali dari pertempuran yang nyaris merenggut nyawanya dan berjalan menuju Bait Allah untuk membayar korban syukur. Di depan gerbang ia berseru, "Bukakan bagiku pintu-pintu gerbang kebenaran," dan para imam dari dalam menjawab bahwa gerbang ini memang milik TUHAN. Ayat 2 sampai 4 memperlihatkan susunan sosial umat: Israel, rumah Harun, lalu "orang-orang yang takut akan TUHAN," lingkaran yang mungkin mencakup orang asing yang bergabung. Ayat 27 menyebut kurban yang diikat pada tanduk mazbah, detail liturgis yang berbau asap dan darah, bukan metafora. Ini bukan renungan pribadi di kamar tertutup; ini kesaksian yang diteriakkan di ruang publik, di tempat semua orang bisa mendengar dan ikut bersorak.
Tokoh Utama
Suara "aku" dalam mazmur ini adalah orang yang pernah menyentuh dasar. Ia tidak berpura-pura tenang: ia terkepung, didorong sampai jatuh, dan ia tahu tangan siapa yang menghajarnya. Namun yang mengejutkan adalah ke mana ia mengarahkan seluruh pengalamannya. Ia tidak berhenti pada "aku selamat," melainkan pada "Aku takkan mati, tetapi hidup, dan akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN." Hidupnya yang dikembalikan segera menjadi milik umat. Di balik sosok ini berdiri Allah yang tidak pernah keluar dari panggung: tangan kanan-Nya yang melakukan keperkasaan, kasih setia-Nya yang membingkai mazmur dari ayat pertama sampai terakhir. Dan di depan sosok ini berdiri Yesus, yang mengambil setiap kata mazmur ini ke dalam kubur, lalu keluar sambil menyanyikannya.
Refleksi
Siapa "para penguasa" yang diam-diam Anda andalkan minggu ini, dan apa yang akan berubah jika mereka mengecewakan Anda?
Di bagian hidup mana Anda merasa menjadi batu yang dibuang, dan apa artinya jika justru di sana Allah sedang memasang sesuatu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 118
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 118?
Tentang apakah MAZMUR 118?
Apa konteks historis dari MAZMUR 118?
Apa yang MAZMUR 118 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 118 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 118?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi