MAZMUR 13:4
Teks
Daud sudah bertanya empat kali "berapa lama lagi", sudah memohon supaya Tuhan menerangi matanya agar ia tidak tertidur dalam kematian, dan sekarang ia mengajukan alasan terakhirnya. Ia membayangkan apa yang akan terjadi kalau Allah tetap diam: musuhnya berdiri di atasnya dan mengucapkan satu kalimat kemenangan, "Aku telah mengalahkan dia." Lalu terdengar suara sorak, para lawan bersukacita, bukan karena mereka hebat, melainkan karena Daud goyah. Ayat ini bukan permintaan baru; ini argumen. Daud tidak berkata "kasihanilah aku", tetapi menaruh sebuah adegan di hadapan Allah dan seolah bertanya: apakah Engkau sudi membiarkan adegan ini terjadi? Doanya berubah menjadi pembelaan perkara, dan yang dibela bukan hanya nyawanya, tetapi nama Tuhan yang selama ini ia percayai.
Inti
Perhatikan apa yang tidak dikatakan Daud. Ia tidak berkata bahwa ia layak diselamatkan, tidak menyebut kesalehannya, tidak menawar dengan janji. Ia justru menempelkan nasibnya pada kehormatan Allah. Kalau ia jatuh, kalimat "Aku telah mengalahkan dia" tidak hanya menghantam Daud; kalimat itu memantul ke atas, mengenai Tuhan yang kepada-Nya Daud bersandar. Inilah logika iman perjanjian: hidup seorang percaya bukan lagi urusan pribadi, melainkan terjalin dengan nama Allah di dunia. Dan yang mengejutkan, Allah tidak tersinggung oleh cara berdebat seperti ini. Ia justru memberi umat-Nya sebuah kitab doa penuh argumen semacam itu. Kasih karunia ternyata cukup kokoh untuk menanggung orang yang mendesak, yang menuntut, yang berkata: Tuhan, pertaruhkan nama-Mu pada saya, sebab saya sudah terlanjur mempertaruhkan hidup saya pada-Mu.
Benang Merah
Ejekan musuh adalah salah satu benang paling gelap yang membentang melalui Alkitab, dan ia mencapai puncaknya di Golgota. Di sana kalimat yang Daud takutkan benar-benar diucapkan, dan Allah tidak menghentikannya. Orang-orang berdiri di bawah salib, bersukacita justru karena Yang Tergantung itu goyah, dan langit diam. Yang tidak terjadi pada Daud terjadi pada Anak Daud. Ia tidur dalam kematian, dan musuh sempat berkata: kami menang. Tiga hari kemudian kalimat itu terbukti terlalu cepat diucapkan. Karena itu doa Mazmur 13 bukan sekadar contoh keberanian berdoa; doa itu dijawab pada tingkat yang jauh melampaui permintaan Daud. Allah mempertaruhkan nama-Nya, bukan dengan melindungi hamba-Nya dari maut, melainkan dengan masuk ke dalam maut dan keluar dari sana.
Cermin
Ada suara yang mungkin Anda kenal: bukan suara musuh berpedang, melainkan bisikan bahwa kegagalan Anda akan membuktikan sesuatu. Kalau pernikahan ini bubar, kalau anak itu tidak pernah kembali, kalau tubuh yang sakit ini tidak pulih, kalau usaha itu ambruk, akan ada orang yang berkata dalam hati, "Ternyata imannya tidak menolong apa-apa." Dan yang paling menyakitkan, kadang suara itu datang dari dalam diri sendiri. Daud tidak menyangkal ketakutan itu. Ia mengangkatnya, menamainya, dan meletakkannya di hadapan Allah sebagai bahan doa, bukan sebagai rahasia yang memalukan. Hari ini, tulislah di secarik kertas satu kalimat kemenangan yang Anda takut didengar tentang hidup Anda, lalu bacakan kalimat itu keras-keras kepada Tuhan dan tutup dengan kata-kata Daud: "Namun, aku percaya pada kasih setia-Mu."
Konteks
Kita tidak tahu persis kapan Daud menulis ini, dan mazmur ini sengaja dibiarkan terbuka: bisa masa pelarian dari Saul, bisa masa pemberontakan Absalom, bisa sakit berkepanjangan. Yang jelas ini bukan renungan pribadi yang tersimpan di laci. Judulnya berbunyi "Kepada pemimpin pujian", artinya keluhan sepahit ini diserahkan kepada pemimpin ibadah untuk dinyanyikan umat bersama-sama. Di dunia Timur Dekat kuno, kekalahan seorang raja dianggap kekalahan ilahnya. Kehormatan dan malu adalah mata uang sosial yang jauh lebih keras daripada di dunia kita. Karena itu kalimat "Aku telah mengalahkan dia" bukan hinaan pribadi belaka, melainkan pernyataan teologis di ruang publik: allahmu tidak sanggup.
Interteks
Musa memakai argumen yang sama persis ketika Israel menyembah anak lembu emas dan Allah mengancam memusnahkan mereka. Musa tidak membela kelayakan umat, melainkan bertanya apa nanti kata orang Mesir. Ia meletakkan reputasi Tuhan di atas meja, dan Allah mengurungkan niat-Nya. Daud berdiri di garis yang sama. Bandingkan pula dengan Mazmur 42, di mana penderita mendengar orang bertanya sepanjang hari, "Di manakah Allahmu?" Rupanya pertanyaan ejekan itulah luka khas umat perjanjian: bukan sekadar sakit, tetapi sakit yang tampak membantah iman. Kitab Mazmur tidak menyembunyikan luka itu; ia memberinya melodi dan menyerahkannya kepada jemaat untuk dinyanyikan bersama.
Profil
Bayangkan orang-orang yang pertama menyanyikan ini: petani yang panennya gagal dua musim berturut-turut, janda yang tanahnya diambil tetangga yang lebih berkuasa, orang buangan yang para penjajahnya terang-terangan mengolok Tuhan Israel. Mereka datang ke ibadah dan menemukan bahwa mazmur yang disodorkan kepada mereka bukan lagu semangat, melainkan protes yang tersusun rapi. Bagi mereka, ayat ini bukan teori. Mereka tahu rasanya ditertawakan justru pada saat paling rapuh. Dan mereka mendengar sesuatu yang mudah luput dari kita: bahwa Tuhan sendiri menyediakan kata-kata untuk mengeluh kepada-Nya. Ibadah yang jujur ternyata bukan penyimpangan dari iman, melainkan bentuk iman yang paling berani.
Refleksi
Kalimat kemenangan apa yang Anda takut didengar dari mulut orang lain tentang hidup Anda, dan sudahkah Anda pernah mengucapkannya di hadapan Tuhan, bukan hanya memutarnya dalam kepala?
Daud menghubungkan nasibnya dengan nama Allah. Di bagian hidup mana Anda masih menganggap penderitaan Anda urusan pribadi, terpisah dari kehormatan Tuhan yang Anda percayai?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 13:4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 13:4?
Tentang apakah MAZMUR 13:4?
Apa konteks historis dari MAZMUR 13:4?
Apa yang MAZMUR 13:4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 13:4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Empat kali Daud bertanya "Berapa lama lagi?" sebelum akhirnya ia meminta: "Pandanglah aku, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Terangilah mataku, supaya aku tidak tertidur dalam maut." Ia tidak minta musuhnya lenyap lebih dulu. Ia minta matanya diterangi kembali. Kadang yang paling kita butuhkan bukan situasi yang berubah, melainkan mata yang kembali bisa melihat. Bagaimana dengan matamu hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi