MAZMUR 31:6
Teks
Pemazmur menarik garis yang tajam: ada orang-orang yang hidupnya diatur oleh berhala yang kosong, yang terus-menerus mengamat-amati kesia-siaan itu seolah di sana ada pertolongan, dan terhadap mereka ia berkata, "Aku membenci orang-orang yang mengamat-amati berhala yang sia-sia." Lalu datang kata sambung kecil yang menanggung seluruh berat ayat ini: "tetapi aku percaya kepada TUHAN." Satu kalimat, dua dunia. Di satu sisi mata yang melekat pada sesuatu yang tidak bisa menjawab, di sisi lain hati yang bersandar pada Nama yang baru saja disebutnya "Allah yang setia" (ayat 5). Ini bukan renungan tenang tentang beragama dengan benar; ini pernyataan sikap seseorang yang sedang terjepit dan harus memilih ke mana ia menoleh.
Intinya
Kata "membenci" itu mengganggu kita, dan memang seharusnya begitu. Tetapi perhatikan: yang dipertaruhkan bukan selera rohani, melainkan perjanjian. Dalam Perjanjian Lama, kesetiaan kepada TUHAN bukan satu pilihan di antara banyak pilihan; itu ikatan hidup-mati, seperti pernikahan. Berhala di sini disebut "sia-sia", kosong, uap; dan tragedi penyembahan berhala bukan terutama bahwa Allah tersinggung, melainkan bahwa manusia menyerahkan dirinya kepada sesuatu yang tidak sanggup memegangnya. Kita menjadi serupa dengan apa yang kita pandangi. Maka ayat ini menyatukan dua tema besar sekaligus: kekudusan Allah yang tidak mau dibagi, dan kasih karunia-Nya yang menawarkan diri sebagai tempat berlindung yang sungguh menahan beban. Percaya, dalam mazmur ini, bukan perasaan hangat; itu tindakan menaruh seluruh bobot hidup pada Allah yang terikat janji, justru ketika Ia belum terlihat menolong.
Benang Merah
Satu ayat sebelumnya, pemazmur berkata, "Ke dalam tangan-Mu, aku menyerahkan rohku." Kalimat itu terdengar lagi di Golgota, dari mulut Yesus yang sekarat. Dan justru karena itu ayat 6 menjadi menarik: kepercayaan yang diucapkan Daud di tengah kepungan musuh dibawa sampai ke ujungnya oleh Kristus, yang tidak pernah sekejap pun mengalihkan pandangan kepada kesia-siaan, bahkan ketika kesetiaan-Nya tidak dibalas dengan pertolongan yang kelihatan. Di salib, dua dunia dalam ayat ini bertemu secara paling tajam: manusia yang memandangi berhala sedang menyalibkan Dia yang memandang Bapa. Dan di sanalah kasih karunia pecah keluar. Sebab mereka yang sudah lama melekat pada yang kosong tidak dihukum habis, melainkan ditebus, diberi mata baru, diajar kembali ke mana harus menoleh.
Cermin
Berhala zaman ini jarang berbentuk patung; ia berbentuk layar yang kita periksa sebelum doa, saldo yang menentukan apakah kita bisa tidur, pendapat orang tentang pekerjaan kita, atau anak yang diam-diam kita jadikan bukti bahwa hidup kita berhasil. Kata "mengamat-amati" itu telak: ia menggambarkan mata yang terus kembali, mengecek, berharap. Tanyakan jujur, ke arah mana mata Anda menoleh pertama kali ketika kabar buruk datang? Yang menyedihkan bukan bahwa hal-hal itu jahat, melainkan bahwa semuanya terlalu rapuh untuk menanggung berat jiwa Anda. Hari ini, tulis di secarik kertas satu hal yang paling sering Anda periksa saat cemas, lalu ucapkan dengan suara keras di atasnya: "tetapi aku percaya kepada TUHAN."
Konteks
Mazmur ini lahir dari kepungan, bukan dari ruang doa yang tenang. Pemazmur menyebut dirinya "celaan", ditinggalkan kenalan, dibicarakan orang banyak yang "bermaksud mengambil nyawaku" (ayat 11 dan 13). Dalam dunia Timur Dekat kuno, kehormatan dan rasa malu menentukan apakah seseorang masih punya tempat di tengah masyarakat; kehilangan nama berarti kehilangan hidup sosial. Di dunia seperti itu, orang yang terdesak biasanya mencari jaminan tambahan: dewa lokal, dukun, aliansi politik, apa saja yang menjanjikan hasil cepat. Berhala bukan hobi religius, melainkan strategi bertahan hidup. Justru di titik itu pemazmur menolak pintu darurat yang ditawarkan zamannya dan memilih satu-satunya Nama yang menurutnya sanggup, walau belum terbukti.
Tokoh Utama
Daud di sini bukan pahlawan yang tenang. Ia mengaku matanya merana, tulangnya habis, dan beberapa ayat kemudian ia mengakui pernah berpikir, "Aku dibuang dari hadapan mata-Mu" (ayat 22). Jadi imannya bukan ketenangan batin, melainkan keputusan yang diambil berulang kali di tengah ketakutan. Kebenciannya terhadap penyembah kesia-siaan bukan kesombongan moral; itu suara orang yang tahu betul betapa menggodanya jalan pintas itu, dan karena itu ia perlu menyatakannya keras-keras untuk menguatkan dirinya sendiri. Yang menarik, Allah dalam mazmur ini digambarkan bukan sebagai penonton, melainkan sebagai gunung batu, benteng, tangan yang menerima roh. Konkret, kokoh, bisa dipegang. Lawan dari uap.
Pertanyaan
Bolehkah kita membenci orang? Teks ini tidak berkata ia membenci penyembahan berhala; ia berkata ia membenci orang-orangnya. Jangan diperhalus terlalu cepat. Dalam mazmur, kesetiaan kepada Allah memang menuntut permusuhan terhadap apa yang menghancurkan hidup, dan di dunia kuno orang tidak memisahkan perbuatan dari pelaku serapi kita. Namun Perjanjian Baru tidak membatalkan ketajaman itu, melainkan mengarahkannya: kita masih boleh membenci kuasa yang memperbudak, tetapi orangnya kini kita pandang sebagai kemungkinan sasaran kasih karunia, karena kita sendiri pernah berada di pihak sana. Yang tidak boleh hilang adalah ketegasannya. Iman yang tidak pernah berkata "tetapi" terhadap apa pun, pada akhirnya tidak berkata apa-apa.
Refleksi
Apa yang pertama kali Anda cari ketika merasa terancam, dan apa yang hal itu ungkapkan tentang siapa yang sesungguhnya Anda percayai?
Di bagian hidup mana Anda perlu mengucapkan kata "tetapi" dengan tegas minggu ini, dan apa harganya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 31:6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 31:6?
Tentang apakah MAZMUR 31:6?
Apa konteks historis dari MAZMUR 31:6?
Apa yang MAZMUR 31:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 31:6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 31
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, hari ini aku menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu. Aku tidak selalu tahu arah, tapi aku tahu Engkau setia dan sudah menebusku. Simpan aku di sana, terutama saat hatiku gelisah dan aku sulit percaya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi