MAZMUR 66
Teks Ini
Mazmur 66 dimulai dengan seruan yang nyaris terlalu besar untuk mulut manusia: seluruh bumi diminta bersorak bagi Allah, karena perbuatan-Nya dahsyat dan musuh-musuh-Nya meringkuk. Lalu ingatan umat dibuka: laut menjadi tanah kering, Allah memerintah selamanya, dan Ia menguji umat-Nya seperti perak dimurnikan, membawa mereka melalui api dan air sampai keluar menuju kelimpahan. Mazmur ini berakhir dengan satu suara tunggal, seorang pribadi yang masuk ke rumah Allah membayar nazarnya dan bersaksi: "Allah telah mendengar."
Inti
Perhatikan ayat 11: "Engkau membawa kami ke dalam perangkap; Engkau menaruh beban di pinggang kami." Bukan musuh yang memasang jerat itu, bukan nasib, bukan kebetulan. Engkau. Pemazmur tidak melepaskan Allah dari tanggung jawab atas penderitaan umat-Nya, dan justru di situlah letak kekuatan teologisnya. Allah yang mengeringkan laut adalah Allah yang sama yang menaruh beban. Pemurnian perak bukan kekejaman; perak dipanaskan karena perak itu berharga, bukan karena tukang logam membencinya. Yang dibongkar di sini adalah gagasan dangkal bahwa kasih Allah berarti jalan yang mulus. Kedaulatan dan kasih setia tidak bertabrakan dalam mazmur ini; keduanya berjalan bergandengan sampai ke kata terakhir: "kasih setia-Nya padaku."
Benang Merah
Ayat 6 menyebut laut yang menjadi tanah kering: Keluaran. Tetapi pemazmur menulis "mereka melewati" dan langsung menyambung "mari kita bersorak", seolah peristiwa berabad-abad silam itu terjadi pada generasinya sendiri. Begitulah iman perjanjian bekerja: pembebasan masa lalu menjadi milik umat masa kini. Pola yang sama memuncak dalam Kristus. Ia melewati api dan air yang sesungguhnya, dibawa ke dalam perangkap maut bukan karena kejahatan dalam hati-Nya, lalu dikeluarkan "menuju kelimpahan" pada pagi kebangkitan. Dan sebagaimana pemazmur masuk ke rumah Allah dengan kurban untuk membayar nazar, Kristus masuk satu kali untuk selamanya, sehingga yang tersisa bagi kita bukan lagi lembu dan kambing jantan, melainkan kesaksian: datang dan dengarlah apa yang Dia perbuat.
Cermin
Ada pergeseran tajam di ayat 16. Sampai di situ semuanya "kami": bangsa, suku-suku, sejarah besar. Lalu tiba-tiba: "Aku akan menceritakan apa yang Dia perbuat terhadap jiwaku." Teologi besar harus turun menjadi kesaksian pribadi, atau ia tinggal hiasan. Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: apa yang Allah perbuat terhadap jiwamu, bukan terhadap jemaatmu atau bangsamu. Mungkin kamu sedang di ayat 11, bukan ayat 12; beban di pinggang masih terasa, kelimpahan belum kelihatan. Mazmur ini tidak menyuruhmu berpura-pura sudah sampai. Tetapi ia menolak membiarkanmu diam. Dan ayat 18 menusuk: "Jika aku melihat kejahatan dalam hatiku, Tuhan tidak akan mendengarkan." Pujian yang jujur menuntut hati yang jujur. Hari ini, sebelum tidur, ceritakan kepada satu orang, pasangan, teman, anak, satu hal konkret yang Allah perbuat terhadap jiwamu tahun ini. Ucapkan dengan suara, bukan dalam hati.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak pernah sampai ke ayat 12? Mazmur ini bersaksi dari sisi seberang: api dan air sudah dilewati, kelimpahan sudah dirasakan, maka kurban dibawa dan nazar dibayar. Tetapi ada orang yang mati dalam api itu, ada pernikahan yang tidak pulih, ada penyakit yang tidak surut. Apakah mazmur ini lalu menjadi ejekan bagi mereka? Saya tidak mau menambal lubang ini dengan kalimat manis. Yang bisa saya katakan: pemazmur tidak berkata penderitaan itu baik, ia berkata Allah ada di dalamnya dan tidak melepaskan. Ayat 9, "tidak mengizinkan kaki kami gemetar," berbicara tentang ditopang, bukan tentang dibebaskan dari jalannya. Kadang "kelimpahan" itu baru di seberang kematian, dan iman harus cukup berani menunggu sejauh itu.
Profil
Pendengar pertama mazmur ini adalah orang-orang yang datang ke Bait Allah, mungkin setelah suatu pembebasan nasional: serangan yang digagalkan, pembuangan yang berakhir, kelaparan yang reda. Mereka tahu rasanya ayat 12, "Engkau membiarkan orang-orang menunggangi kepala kami," karena Israel kecil selalu hidup di bawah kaki imperium yang lebih besar. Yang mengejutkan telinga mereka bukanlah keluhan itu, melainkan ayat 1 dan 8: seluruh bumi, suku-suku bangsa, diundang ikut memuji. Bangsa-bangsa yang menindas mereka justru dipanggil menyembah Allah Israel. Itu bukan balas dendam, itu visi kerajaan. Dan bagi mereka, membawa lembu serta domba jantan ke Bait Allah bukan simbol; itu kekayaan nyata yang dilepaskan sebagai bukti bahwa janji dalam kesesakan ditepati.
Konteks
Bait Allah di Yerusalem adalah pusat ekonomi, politik, dan rohani sekaligus. Masuk ke sana dengan "kawanan lembu dan kambing-kambing jantan" berarti berjalan melalui kota, terlihat semua orang, dengan harta berkaki yang menguap dalam asap. Nazar yang diucapkan "saat aku sedang dalam kesesakan" adalah hal serius dalam dunia itu; janji kepada Allah mengikat seperti kontrak dan tidak menepatinya adalah aib publik. Maka ayat 13 sampai 15 bukan kesalehan sentimental, melainkan tindakan yang mahal dan dapat disaksikan. Perhatikan juga urutannya: ibadah di rumah Allah (ayat 13) mendahului kesaksian kepada sesama (ayat 16). Pengalaman pribadi dengan Allah diuji dulu di hadapan Allah sendiri, baru dibagikan. Itu urutan yang gampang kita balik.
Refleksi
Di bagian mana hidupmu sekarang, ayat 11 atau ayat 12, dan sanggupkah kamu mengatakan "Engkau" kepada Allah tentang beban itu, bukan hanya "mengapa"?
Nazar atau janji apa yang pernah kamu ucapkan dalam kesesakan, dan apa yang terjadi dengan janji itu setelah kelegaan datang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 66
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 66?
Tentang apakah MAZMUR 66?
Apa konteks historis dari MAZMUR 66?
Apa yang MAZMUR 66 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 66 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 66
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Dialah yang memelihara jiwa kita tetap hidup, dan tidak membiarkan kaki kita goyah." Perhatikan: ayat ini ditulis orang yang baru saja melewati api dan air, bukan orang yang hidupnya mulus. Tuhan tidak selalu menyingkirkan jalan yang licin. Kadang Dia hanya memegangi kakimu sampai kamu sampai di seberang. Dan itu cukup.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
