1 PETRUS 1:13
Teks
Sesudah dua belas ayat yang nyaris tidak bernapas, penuh dengan apa yang sudah Allah kerjakan, Petrus akhirnya sampai pada kata sambung kecil yang mengubah segalanya: "Karena itu." Lalu datang tiga gerakan: siapkan akal budimu, tetaplah waspada, dan letakkan pengharapanmu sepenuhnya, tanpa sisa, pada anugerah yang akan diberikan saat Kristus Yesus dinyatakan. Tidak ada perintah untuk berbuat sesuatu yang besar di sini, tidak ada program, tidak ada daftar. Hanya sebuah panggilan untuk mengarahkan seluruh isi kepala dan hati ke satu titik di masa depan yang belum terlihat, dan hidup dari sana. Perhatikan: pengharapan itu diletakkan bukan pada apa yang kita capai, melainkan pada anugerah yang sedang datang menuju kita.
Inti
Di sinilah letak yang mengganggu sekaligus melegakan: Petrus tidak berkata "berharaplah pada anugerah yang sudah kamu terima," tetapi pada anugerah "yang akan diberikan kepadamu." Anugerah punya masa depan. Keselamatan yang ia gambarkan di ayat 5 "siap dinyatakan pada akhir zaman," dan itu berarti iman kita selalu hidup dalam ketegangan antara yang sudah dan yang belum. Kita bukan orang yang sudah tiba; kita orang asing yang tersebar, yang menanti. Yang menarik, Petrus menganggap penantian itu bukan kondisi pasif melainkan kerja keras batin. Akal budi harus disiapkan. Kesadaran harus dijaga. Pengharapan tidak tumbuh sendiri seperti rumput; ia harus diletakkan, berulang kali, dengan sengaja, pada Pribadi yang belum kita lihat. Itu sebabnya iman terasa melelahkan pada hari-hari tertentu. Bukan karena kita kurang percaya, tetapi karena mengarahkan hati ke arah yang belum tampak memang menuntut sesuatu dari kita.
Benang Merah
Perintah "siapkanlah akal budimu" dalam bahasa aslinya berbunyi harfiah: ikatlah pinggang pikiranmu. Itu bahasa orang yang memakai jubah panjang dan harus menyingsingkannya untuk berlari. Dan di balik gambar itu ada satu malam tertentu dalam ingatan umat: malam Paskah di Mesir, ketika mereka makan dengan pinggang berikat, kaki bersandal, tongkat di tangan, siap berangkat sebelum fajar. Petrus menulis kepada orang-orang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, orang asing di tanah sendiri, dan ia meletakkan mereka di malam itu lagi. Pembebasan sudah terjadi, darah sudah dioleskan, tetapi perjalanan belum selesai. Itulah bentuk hidup Kristen sepanjang Alkitab: umat yang sudah ditebus namun masih dalam perjalanan, memakan rotinya sambil berdiri. Kristus adalah Anak Domba itu, kata Petrus lima ayat kemudian. Maka pengharapan kita bukan optimisme; ia adalah sikap tubuh orang yang sedang menunggu pintu dibuka.
Cermin
Pertanyaan yang ditinggalkan ayat ini bukan "apakah kamu berharap," melainkan "pada apa pinggangmu terikat." Sebab kita semua meletakkan pengharapan pada sesuatu, dan biasanya bukan pada penyataan Kristus. Pada kenaikan gaji yang akan membuat napas lebih longgar. Pada anak yang akhirnya kembali menelepon. Pada hasil pemeriksaan yang semoga bersih. Pada pengakuan dari orang yang tidak pernah mengakui apa pun. Tidak satu pun dari itu jahat; semuanya terlalu kecil untuk menanggung beban seluruh hati. Kata "sepenuhnya" dalam ayat ini terasa hampir kejam justru karena kita begitu terampil membagi-bagi pengharapan, sedikit di sini, sedikit di sana, supaya tidak terlalu sakit kalau salah satunya runtuh. Petrus melarang strategi itu. Hari ini, tuliskan di selembar kertas satu hal yang diam-diam sedang Anda andalkan untuk membuat hidup terasa aman, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Pengharapanku kuletakkan pada anugerah yang akan diberikan saat Kristus dinyatakan."
Pertanyaan
Tetapi bagaimana kalau penyataan itu tidak datang dalam hidup kita? Petrus menulis hampir dua ribu tahun lalu kepada orang-orang yang jelas mengira waktunya dekat. Mereka mati tanpa melihatnya. Kita pun mungkin demikian. Apakah ayat ini lalu menjadi sebuah penundaan abadi, hiburan yang selalu bergeser satu langkah di depan? Saya tidak punya jawaban yang membuat masalah ini hilang. Yang saya lihat hanyalah bahwa Petrus sendiri tidak berusaha menutupinya. Ia justru menulis tentang para nabi yang "menyelidiki dan mempelajarinya dengan sangat teliti," mencari tahu "kapankah waktu yang dimaksud," dan tidak mendapat tanggal. Mereka mati dengan pertanyaan itu utuh di tangan. Rupanya iman memang berarti memegang janji yang waktunya bukan milik kita. Itu tidak nyaman. Mungkin memang tidak dimaksudkan untuk nyaman.
Teks-Teks Terkait
Petrus sendiri menunjuk arahnya di akhir pasal ini, ketika ia mengutip Yesaya: "Rumput layu dan bunganya gugur, tetapi firman Tuhan tetap selama-lamanya." Yesaya 40 diucapkan kepada orang buangan yang sudah berhenti berharap, dan justru di sanalah datang perintah menyiapkan jalan. Kerapuhan segala sesuatu bukan alasan untuk putus asa, melainkan alasan untuk memindahkan pengharapan ke tempat yang tidak layu. Dan di belakang perintah "ikatlah pinggang" berdiri Keluaran 12, malam Paskah itu. Dua teks ini menjepit ayat kita dari dua sisi: yang satu berkata bahwa penebusan sudah dimulai, yang lain berkata bahwa yang fana memang akan gugur. Di antara keduanya, kita menunggu.
Detail
Kata "waspadalah" di sini secara harfiah berarti tidak mabuk, sadar sepenuhnya. Petrus menaruhnya di tengah, antara pikiran yang disiapkan dan pengharapan yang diletakkan, dan itu mengherankan. Mengapa kesadaran menjadi syarat pengharapan? Mungkin karena mabuk adalah cara tertua manusia mengatasi penantian yang terlalu panjang. Kita mengaburkan diri: dengan layar, dengan kesibukan, dengan kemarahan yang membuat kita merasa hidup, dengan apa pun yang menumpulkan kesadaran bahwa kita masih orang asing di sini. Petrus meminta yang sebaliknya. Tetap jernih. Rasakan penantian itu apa adanya, tanpa dibius. Hanya orang yang sadar sepenuhnya yang bisa melihat sesuatu datang dari kejauhan.
Refleksi
Kalau seseorang mengamati satu minggu hidup Anda, pada apa ia akan menyimpulkan pinggang pikiran Anda terikat?
Apa yang biasanya Anda pakai untuk menumpulkan kesadaran bahwa hidup ini belum selesai, dan apa jadinya bila hari ini Anda melepaskannya sebentar?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Peter 1:13
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 PETRUS 1:13?
Tentang apakah 1 PETRUS 1:13?
Apa konteks historis dari 1 PETRUS 1:13?
Apa yang 1 PETRUS 1:13 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 PETRUS 1:13 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Peter 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, aku sering lupa betapa mahal harga yang dibayar untuk hidupku. Bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah Anak-Mu yang murni. Tolong aku hidup seperti orang yang tahu dirinya sangat berharga di mata-Mu, dan tidak menyia-nyiakan kasih sebesar itu.
Bapa, terima kasih untuk belas kasih-Mu yang begitu besar. Karena Yesus hidup, aku pun diberi hidup yang baru dan harapan yang tidak mati. Saat hatiku lelah dan ragu, ingatkan aku bahwa harapanku bersandar pada Dia yang menang atas kubur.
Bapa, Engkau yang memanggilku adalah kudus, dan aku ingin hidupku memantulkan itu. Bukan hanya saat berdoa, tetapi juga dalam caraku bekerja, berbicara, dan memperlakukan orang lain. Aku sering gagal, jadi tolong bentuk aku hari demi hari.
Bapa, hidup baru yang Kau berikan bukan berasal dari sesuatu yang bisa layu dan hilang. Firman-Mu yang hidup itu menanam sesuatu di dalam aku yang tidak bisa dirusak waktu. Tolong aku percaya itu, terutama di hari-hari ketika aku merasa rapuh dan mudah patah.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi