MAZMUR 69
Teksnya
Seorang yang tenggelam berteriak: air sudah sampai ke leher, kakinya tidak menemukan dasar, tenggorokannya kering karena terlalu lama berseru. Ia dibenci tanpa alasan, diasingkan saudara kandungnya sendiri, dijadikan bahan nyanyian ejekan orang-orang mabuk di gerbang kota, dan yang membuat semuanya lebih pahit: semua ini menimpanya justru karena Allah. Lalu doanya berubah menjadi kutuk yang mengerikan atas para penindasnya, sebelum akhirnya, tanpa peralihan yang halus, meledak menjadi pujian dan janji bahwa Allah akan menyelamatkan Sion.
Intinya
Mazmur ini menolak logika yang kita sukai: bahwa kesetiaan menghasilkan perlindungan. Justru sebaliknya. "Oleh karena Engkau, aku menanggung cela; aib menutupi mukaku." Penderitaan ini bukan akibat dosa, melainkan akibat keterikatan pada Allah. Dan uniknya, pemazmur tidak mengklaim dirinya tanpa cacat: "Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi dari-Mu." Ia bukan orang suci; ia hanya orang yang tidak bersalah dalam perkara ini. Di sini Alkitab mulai membentuk sebuah pola yang akan menjadi pusat keselamatan: ada penderitaan yang tidak menghukum orang berdosa, melainkan menimpa orang yang setia justru karena kesetiaannya. Allah tidak dibela di sini sebagai pelindung yang efisien, melainkan dipercayai sebagai Allah yang "mendengarkan orang-orang melarat" dan tidak menghina tawanan-Nya.
Benang Merah
Mazmur 69 adalah salah satu teks Perjanjian Lama yang paling sering dipakai para penulis Injil, dan itu bukan kebetulan. Ketika Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah, murid-murid teringat kalimat ini: "kegairahanku akan bait-Mu telah melahapku." Kata Ibrani qin'ah, gairah yang menyala-nyala, bukan sekadar semangat rohani; itu api yang memakan orang yang membawanya. Paulus mengutip baris berikutnya untuk menjelaskan seluruh gerak inkarnasi: Kristus tidak mencari kesenangan diri, melainkan memikul cela orang-orang yang menghina Allah (Roma 15:3). Di situlah letak benang merahnya. Daud, atau siapa pun yang berdoa lebih dulu di sini, mengalami sepotong dari apa yang kelak ditanggung penuh oleh Yesus: dibenci tanpa alasan, ditinggalkan keluarga, mengganti apa yang tidak pernah dirampasnya. Bukan alegori yang dipaksakan, melainkan pola yang mencapai puncaknya di Golgota.
Cermin
Perhatikan ayat 6, yang jarang dikhotbahkan: "Jangan kiranya orang-orang yang menanti-nantikan Engkau dipermalukan oleh karena aku." Ini kekhawatiran seseorang yang sadar bahwa kejatuhannya akan menyeret iman orang lain. Kalau Anda memimpin kelompok, mengajar, atau sekadar dikenal sebagai orang percaya di kantor Anda, Anda tahu beban itu. Namun mazmur ini juga menelanjangi sesuatu yang lebih kotor: dorongan untuk membalas. Ayat 22 sampai 28 adalah doa yang membuat kita gelisah, dan seharusnya begitu. Yang menarik, pemazmur tidak membalas sendiri; ia menyerahkan kemarahannya kepada Allah, mentah-mentah, tanpa dipoles. Barangkali di situ letak kejujuran yang kita hindari: kita lebih suka menyimpan dendam dalam diam yang sopan daripada meletakkannya di hadapan Allah dan membiarkan Dia yang menghakiminya.
Tokoh Utama
Sosok di mazmur ini bukan pahlawan yang gagah. Ia letih ("Aku letih dengan seruanku"), ia sakit hati sampai patah ("Celaan itu telah mematahkan hatiku"), dan ia mencari penghibur tetapi tidak menemukan seorang pun. Lanskap batinnya adalah kesepian total: keluarga menjauh, kota menertawakan, langit diam. Namun di tengah semua itu ia tetap memanggil Allah dengan nama perjanjian, TUHAN, dan bersandar pada chesed, kasih setia yang tidak bisa dibatalkan oleh keadaan. Itu bukan optimisme; itu keras kepala yang lahir dari perjanjian. Dan justru karena itulah ia bisa mengakhiri dengan janji pujian sebelum pertolongan tiba. Ia belum diselamatkan ketika bernyanyi. Ia bernyanyi karena tahu siapa yang mendengarkan orang melarat.
Detail
"Untuk dahagaku, mereka memberi aku minum cuka." Dalam konteks aslinya, ini gambaran keramahan yang dibalik: makanan yang seharusnya menyembuhkan justru meracuni, minuman yang seharusnya menyegarkan justru menghina. Lalu di kayu salib Yesus berkata "Aku haus," dan sebuah bunga karang berisi anggur asam diangkat ke mulut-Nya (Yohanes 19:28-29). Yohanes menulis bahwa hal itu terjadi supaya Kitab Suci digenapi. Yang perlu diperhatikan: Yesus tidak sekadar kebetulan mengalami ini. Ia mengambil doa orang benar yang menderita dan menjadikannya milik-Nya sendiri sampai ke detail rasa di lidah. Kesengsaraan yang di Mazmur 69 masih menunggu jawaban, di sana dijawab dengan kata "sudah selesai." Cuka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menyelesaikan penderitaan dari kejauhan.
Konteks
Judulnya menyebut Daud, dan nadanya cocok dengan masa pelarian: dituduh palsu, harta dijarah, reputasi dihancurkan. Namun ayat penutup tentang Allah yang "membangun kota-kota Yehuda" menunjukkan mazmur ini terus dipakai lama sesudahnya, mungkin oleh umat yang pulang dari pembuangan ke reruntuhan. Gerbang kota bukan sekadar pintu; di sanalah para tua-tua mengadili perkara dan reputasi ditentukan. Ketika "mereka yang duduk di pintu gerbang" membicarakanmu, kehormatanmu resmi hilang, dan di dunia Timur kuno kehilangan kehormatan hampir setara dengan kehilangan nyawa sosial. Ditambah menjadi nyanyian ejekan para peminum, orang ini sudah jatuh ke dasar tangga sosial. Dari dasar itulah doa ini naik.
Refleksi
Di bagian mana hidup Anda, penderitaan datang bukan karena kesalahan Anda melainkan karena kesetiaan Anda, dan bagaimana Anda menanggungnya selama ini?
Apa yang berubah dalam cara Anda berdoa ketika Anda menyadari bahwa Yesus pernah mendoakan mazmur ini dari dalam, bukan hanya menggenapinya dari luar?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 69
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 69?
Tentang apakah MAZMUR 69?
Apa konteks historis dari MAZMUR 69?
Apa yang MAZMUR 69 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 69 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 69?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi