WAHYU 9
Teks
Terompet kelima membuka lubang jurang maut, dan dari asapnya keluar gerombolan belalang bersengat kalajengking yang tidak boleh membunuh, hanya menyiksa lima bulan lamanya, dan hanya atas mereka yang tidak bermeterai Allah. Terompet keenam melepaskan empat malaikat yang terikat di Efrat beserta dua ratus juta pasukan berkuda yang membunuh sepertiga umat manusia dengan api, asap, dan belerang. Dan sesudah semua itu, kalimat yang paling mengerikan dari seluruh pasal: mereka yang selamat "tetap tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan tangan mereka."
Intinya
Perhatikan kata yang terus berulang: "diberikan", "diizinkan", "dipesankan", "dilepaskan". Bintang itu tidak merebut kunci, kunci itu diberikan kepadanya. Belalang-belalang itu tidak liar; mereka menerima batas yang sangat rinci: jangan rumput, jangan pohon, jangan membunuh, lima bulan saja. Bahkan raja mereka, Abadon, sang Pembinasa, bekerja dalam kerangkeng. Inilah yang membuat pasal ini bukan horor melainkan wahyu: kejahatan yang paling mengerikan sekalipun tidak pernah berdiri di luar kedaulatan Allah. Dan tujuannya bukan pemusnahan, melainkan pertobatan. Siksaan itu sengaja tidak mematikan supaya masih ada waktu untuk berbalik. Yang paling gelap dalam pasal ini bukan asap dari jurang maut, melainkan hati manusia yang disiksa namun tetap menolak melepaskan berhalanya.
Benang Merah
Keempat tanduk mezbah emas di hadapan Allah bersuara (ayat 13), dan dari mezbah itulah perintah penghukuman keluar. Satu pasal sebelumnya, dari mezbah yang sama naik doa orang-orang kudus. Jadi penghakiman ini bukan ledakan amarah buta; ia adalah jawaban atas jeritan umat yang tertindas. Di sinilah Kristus berdiri di tengah: Dialah Anak Domba yang membuka segel, Dialah yang memeteraikan dahi milik-Nya sehingga belalang itu harus melewati mereka, seperti malaikat maut melewati rumah-rumah berdarah di Mesir. Tulah Mesir pun datang supaya Firaun bertobat, dan hatinya mengeras justru di bawah tulah. Pola itu berulang di sini. Salib adalah titik di mana penghakiman dan belas kasihan bertemu: di sana Allah menanggung sendiri apa yang seharusnya menghancurkan kita.
Cermin
Ayat 20 dan 21 adalah cermin yang paling tidak enak dalam seluruh Kitab Wahyu, karena di sana manusia sudah kehilangan sepertiga sesamanya dan tetap tidak bergerak. Kita mengira penderitaan otomatis melembutkan hati. Tidak. Diagnosis kita biasanya diungkap bukan oleh khotbah, melainkan oleh apa yang tetap kita genggam ketika semuanya goyah. Ingat kembali masa sulit terakhirmu: vonis dokter, PHK, pernikahan yang retak, anak yang menjauh. Apa yang kaucari lebih dulu? Angka di rekening, pengakuan dari atasan, pelarian di layar ponsel pada jam dua pagi, atau nama Tuhan? Berhala dalam daftar ini bukan patung eksotis; itu benda buatan tangan sendiri, "yang tidak dapat melihat, mendengar, ataupun berjalan." Artinya: sesuatu yang kaurawat, kaubiayai, kaubela, tetapi yang tidak pernah sekalipun menoleh kepadamu ketika engkau menangis. Dan perhatikan betapa biasa dosa-dosa di ayat 21: pembunuhan, sihir, percabulan, pencurian. Itu bukan daftar kejahatan kosmis; itu daftar kehidupan sehari-hari yang diam-diam kita anggap kecil.
Hari ini, sebelum matahari terbenam: tulis di selembar kertas satu hal yang paling kautakuti kehilangan, lalu ucapkan dengan suara keras, "Ini tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat berjalan. Tuhan, hanya Engkau." Lalu buang kertas itu.
Konteks
Yohanes menulis dari Patmos, sebuah pulau kecil di Laut Aegea, kepada tujuh jemaat di Asia Kecil pada akhir abad pertama, ketika mengaku "Yesus adalah Tuhan" berarti menolak mengaku "Kaisar adalah Tuhan". Gambar-gambar dalam pasal ini bukan teka-teki yang dikarang-karang; itu bahasa dunia mereka. Setiap petani Mediterania pernah melihat langit menghitam oleh serbuan belalang yang menelan panen dalam hitungan jam. Setiap orang tahu bahwa di seberang Sungai Efrat menunggu Partia, kavaleri paling ditakuti Kekaisaran Romawi, pemanah berkuda yang pernah mempermalukan legiun Roma. Jadi ketika Yohanes menyebut Efrat dan dua ratus juta pasukan berkuda, para pembacanya tidak membayangkan fantasi; mereka merasakan ketakutan perbatasan yang sangat nyata, kini dibuka menjadi penglihatan tentang kekuatan yang jauh lebih tua dan lebih gelap.
Profil
Jemaat-jemaat itu kecil, miskin, dan mudah ditekan. Mereka kehilangan pekerjaan karena menolak ikut serikat dagang yang menyembah dewa pelindung. Mereka melihat tetangga yang menindas mereka tetap makmur. Pertanyaan mereka bukan "kapan dunia berakhir", melainkan "apakah Allah melihat, dan apakah kami aman". Maka ayat 4 pasti membuat mereka menarik napas: para penyiksa itu dilarang menyentuh "mereka yang tidak memiliki segel Allah pada dahi mereka", dan segel itu ada pada dahi mereka. Mereka tidak dijanjikan bebas dari penderitaan, sebab mereka sedang menderita. Mereka dijanjikan sesuatu yang lain: bahwa kuasa jurang maut memiliki daftar, dan nama mereka tidak ada di sana. Bagi orang yang setiap hari takut diseret ke pengadilan, itu bukan teologi abstrak. Itu napas.
Pertanyaan
Mengapa Allah mengizinkan siksaan yang jelas-jelas tidak berhasil? Ia memberi lima bulan rasa sakit agar manusia bertobat, dan mereka tidak bertobat. Ia membiarkan sepertiga mati, dan sisanya tetap menyembah logam. Apakah penghakiman ini sia-sia, atau justru Allah sedang menunjukkan sesuatu yang tidak mau kita akui: bahwa hati manusia tidak dapat dipaksa lembut oleh penderitaan? Penderitaan hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa Allah memilih jalan yang panjang dan pahit ini. Tetapi saya tahu di mana hati batu akhirnya pecah, dan itu bukan di bawah sengat kalajengking, melainkan di kaki salib, ketika seseorang melihat Dia yang mereka tikam dan menangis. Kasih karunia melakukan apa yang teror tidak pernah bisa.
Refleksi
Apa yang kaugenggam lebih erat justru ketika hidupmu paling goyah, dan apa yang hal itu ungkapkan tentang siapa yang sesungguhnya kaupercayai?
Jika penderitaan tidak otomatis melembutkan hati, lalu melalui apa Allah pernah benar-benar melembutkan hatimu, dan apakah engkau masih mencari-Nya di sana?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Revelation 9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti WAHYU 9?
Tentang apakah WAHYU 9?
Apa konteks historis dari WAHYU 9?
Apa yang WAHYU 9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana WAHYU 9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Revelation 9
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, ada kuasa yang menyakiti lewat mulut dan dari belakang, dan aku tidak selalu melihatnya datang. Jagalah hatiku dari ucapan yang melukai, dan lindungi aku dari apa yang mengintai tanpa kutahu. Engkau tetap lebih kuat dari semua itu.
Sepertiga umat manusia mati, dan yang selamat tetap tidak berubah. "Mereka juga tidak bertobat dari pembunuhan, sihir, percabulan, atau pencurian mereka." Ternyata kengerian saja tidak melembutkan hati. Aku bertanya pada diriku sendiri: berapa kali Tuhan sudah mengguncang hidupku, dan aku hanya menunggu badai lewat lalu kembali seperti semula?
Maka, keempat malaikat itu dilepaskan, yang telah disiapkan untuk jam, hari, bulan, dan tahun itu." Perhatikan: mereka terikat sampai detik yang tepat. Bahkan penghukuman tidak lepas begitu saja, ada tangan yang menahannya. Kalau yang mengerikan pun tunduk pada jadwal Tuhan, apa yang kamu takutkan hari ini sungguh di luar kendali-Nya?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
