ROMA 11:25
Teks
Paulus berhenti sejenak dari gambaran pohon zaitun dan berbicara langsung: "Saudara-saudara, aku mau kamu memahami rahasia ini supaya kamu jangan menganggap dirimu bijaksana dalam kesombonganmu." Lalu rahasia itu dibuka: kekerasan hati yang menimpa sebagian Israel bukanlah keadaan permanen, melainkan keadaan sementara, berbatas waktu, berlangsung "sampai pada penggenapan bangsa-bangsa lain tiba." Dua hal terjadi sekaligus dalam satu kalimat pendek. Yang pertama adalah teguran kepada orang Kristen non-Yahudi di Roma yang mulai merasa diri lebih unggul. Yang kedua adalah penyingkapan jadwal Allah yang tidak bisa mereka baca dari permukaan sejarah. Israel yang tampak tertinggal bukanlah Israel yang dibuang; mereka berada di tengah sebuah jeda yang Allah sendiri tetapkan panjangnya, dan jeda itu justru menjadi pintu bagi bangsa-bangsa lain.
Inti
Bayangkan ruang makan sebuah rumah di Trastevere, lingkungan padat di seberang sungai Tiber, berbau ikan asin dan asap lampu minyak. Di situ duduk orang-orang Yahudi yang baru pulang setelah Kaisar Klaudius mengusir mereka dari Roma, dan mereka menemukan jemaat yang sekarang didominasi orang non-Yahudi yang sudah terbiasa mengatur segalanya tanpa mereka. Ke dalam ketegangan sosial itulah Paulus melemparkan kata "rahasia", dalam bahasa Yunani mystērion, yang bukan berarti teka-teki samar melainkan rencana Allah yang dulu tersembunyi dan kini dibuka. Intinya: Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah umat-Nya, dan kekerasan hati Israel bukan kecelakaan melainkan bagian dari cara Allah merangkul dunia. Karena itu kesombongan rohani bukan sekadar sikap buruk; ia adalah salah membaca apa yang sedang Allah kerjakan.
Benang Merah
Kata "sampai" dalam ayat ini adalah kata yang menggerakkan seluruh sejarah keselamatan. Allah memilih Abraham bukan untuk mengurung berkat dalam satu keluarga, melainkan supaya segala kaum di bumi diberkati melalui dia, dan sejak saat itu rencana Allah selalu bergerak dari yang satu ke yang banyak, lalu kembali lagi. Di Roma 11 pola itu terlihat telanjang: pelanggaran Israel membuka pintu bagi bangsa-bangsa, dan masuknya bangsa-bangsa pada gilirannya akan membuka pintu kembali bagi Israel. Yang menyatukan kedua gerak itu adalah satu Pribadi. Beberapa baris kemudian Paulus mengutip nubuat bahwa "Penebus akan datang dari Sion, dan Ia akan menyingkirkan kefasikan dari Yakub." Kristus bukan jalan memutar di luar perjanjian lama; Dialah akar pohon zaitun itu, yang menopang baik cabang asli maupun cabang cangkokan.
Cermin
Kesombongan rohani jarang terdengar seperti kesombongan. Ia terdengar seperti analisis yang tenang: keluarga saudara saya memang keras hati, kelompok itu memang sudah terlalu jauh, generasi muda di gereja kami memang tidak mau mendengar. Kalimat-kalimat itu terasa realistis, bahkan rendah hati, padahal di dalamnya tersembunyi satu asumsi yang Paulus bongkar habis: bahwa kita tahu di mana pekerjaan Allah sudah berhenti. Kita menganggap diri bijaksana karena bisa membaca peta, padahal yang kita lihat hanyalah satu babak dari cerita yang jauh lebih panjang. Paulus menulis kepada orang yang punya alasan statistik untuk merasa menang, dan justru kepada merekalah ia berkata: takutlah. Tuliskan satu nama, orang yang diam-diam sudah Anda anggap kasus tertutup secara rohani, lalu doakan dia dengan suara terdengar, dan ucapkan di depan Allah bahwa Anda tidak tahu kapan batas waktu-Nya berakhir.
Interteks
Paulus sudah menyiapkan ayat ini jauh sebelumnya, di awal pasal, ketika ia mengangkat Elia yang merasa menjadi satu-satunya yang tersisa. Jawaban Allah waktu itu, "Aku masih menyimpan tujuh ribu orang bagi-Ku," adalah koreksi atas kesimpulan seorang nabi yang mengira ia sudah menghitung semuanya. Elia salah hitung; jemaat Roma pun bisa salah hitung. Di sisi lain, ayat 8 mengutip Ulangan dan Yesaya tentang mata yang tidak melihat dan telinga yang tidak mendengar, dan itu mengingatkan bahwa kebutaan rohani Israel bukan hal baru yang muncul tiba-tiba setelah Golgota, melainkan tema panjang yang sudah dikenal Kitab Suci. Yesus sendiri berbicara tentang Yerusalem yang diinjak sampai genap zaman bangsa-bangsa lain, memakai struktur waktu yang sama: penghukuman yang nyata, tetapi berbatas.
Konteks
Surat ini ditulis sekitar tahun 57, ketika Nero masih muda dan Roma masih terasa aman. Beberapa tahun sebelumnya Kaisar Klaudius mengusir orang Yahudi dari ibu kota karena kerusuhan di sekitar sinagoge, dan selama bertahun-tahun jemaat-jemaat rumah di Roma berjalan tanpa mereka. Lalu edik itu tidak berlaku lagi, orang Yahudi kembali, dan menemukan rumah yang sudah berubah tata letaknya: pemimpin baru, kebiasaan baru, orang-orang non-Yahudi yang merasa menjadi tuan rumah. Tambahkan ke situ gengsi kekaisaran, keyakinan diam-diam bahwa Roma adalah pusat dunia, dan sedikit rasa jijik yang umum terhadap adat Yahudi. Paulus menulis kepada jemaat yang belum pernah ia kunjungi, tanpa otoritas pastoral langsung, dan ia memilih menyebut mereka "saudara-saudara" sebelum menegur kesombongan yang bisa memecah jemaat itu dari dalam.
Pertanyaan
Yang paling sulit bukan siapa itu "seluruh orang Israel", melainkan kalimat bahwa kekerasan hati itu "menimpa" mereka. Bahasa Paulus di sini pasif dan gelap: ini bukan sekadar pilihan bebas manusia, ada tangan Allah di dalamnya, seperti ayat 8 yang berkata Allah memberi mereka roh yang tidak sadarkan diri. Apakah Allah membutakan orang demi strategi yang lebih besar? Paulus tidak menjelaskannya; ia tidak membela Allah dengan argumen, dan ia juga tidak memperhalusnya. Yang ia lakukan adalah menunjukkan arah akhirnya, belas kasihan bagi semua, lalu menyerah pada keheranan: jalan-jalan Allah tidak terduga. Saya tidak sanggup merapikan ini menjadi sistem yang nyaman. Yang bisa saya pegang adalah bahwa tangan yang mengeraskan dan tangan yang mencangkokkan kembali adalah tangan yang sama.
Refleksi
Di mana dalam hidup Anda, Anda diam-diam sudah menetapkan batas waktu bagi anugerah Allah terhadap orang lain?
Jika kesombongan rohani adalah salah membaca pekerjaan Allah, bagian mana dari cerita Allah yang mungkin sedang Anda lewatkan karena terlalu yakin dengan bacaan Anda sendiri?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 11:25
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 11:25?
Tentang apakah ROMA 11:25?
Apa konteks historis dari ROMA 11:25?
Apa yang ROMA 11:25 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 11:25 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, ada bagian dalam diriku yang tumpul, mata yang melihat tapi tidak menangkap, telinga yang mendengar tapi tidak sungguh peduli. Bangunkan aku. Buka apa yang tertutup, lembutkan yang mengeras, supaya aku mengenal Engkau lagi dengan jujur.
Apakah Allah telah menolak umat-Nya? Tentu tidak!" Dan bukti pertama yang Paulus tunjukkan bukan ayat, melainkan dirinya sendiri. Dia yang dulu memburu orang percaya kini berdiri sebagai tanda bahwa Allah belum menyerah. Mungkin kamu merasa sudah terlalu jauh untuk dipanggil kembali. Justru hidupmu bisa jadi jawaban Allah atas pertanyaan itu.
Punggung yang membungkuk terus-menerus tidak bisa memandang ke atas. Itulah gambaran yang dipakai Paulus: "Biarlah mata mereka menjadi gelap sehingga tidak dapat melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk." Berat, ya. Tapi jangan berhenti di situ. Ayat berikutnya bertanya apakah mereka jatuh untuk binasa, dan jawabannya tidak. Kadang Tuhan membiarkan kita tertunduk sebentar, supaya akhirnya kita mau mengangkat wajah kepada-Nya.
Apa yang dicari Israel tidak diperolehnya, tetapi orang-orang pilihan memperolehnya." Sungguh mengejutkan: mereka mencari dengan sungguh, namun tidak mendapat. Sebab yang dicari adalah kebenaran yang harus diusahakan, padahal Allah menawarkannya sebagai anugerah. Mungkin kamu pun sedang lelah membuktikan diri kepada Tuhan. Berhentilah mengejar. Terimalah.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi