Berseru dan menangis mencari Tuhan
Berseru mencari Tuhan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Keluaran 32:31-32, Lukas 7:14-15, Matius 25:8-9 and Mazmur 137:1-2.
☀ Momen pagi
Musa pun kembali kepada TUHAN dan berkata, “Oh, bangsa ini telah melakukan dosa yang besar dan mereka telah membuat ilah emas untuk diri mereka sendiri. Namun, sekarang, jika Engkau berkenan, ampunilah dosa mereka; tetapi jika tidak, hapuslah namaku keluar dari kitab-Mu yang telah Engkau tulis.”
Keluaran 32:31-32
Musa baru saja turun dari gunung, dan yang dilihatnya membuat hatinya remuk: bangsa yang baru dibebaskan dari Mesir sedang menari mengelilingi patung anak lembu emas, seolah empat puluh hari pertemuannya dengan Allah di puncak gunung tak pernah terjadi. Yang mengejutkan bukan hanya dosa mereka, melainkan yang dilakukan Musa sesudahnya: ia kembali naik, berdiri di celah antara murka Allah dan umat yang bersalah.
Doa yang ia panjatkan nekat. Ia tidak membela dosa mereka, ia menyebutnya apa adanya, dosa besar. Tetapi kemudian ia menawarkan dirinya sendiri sebagai jaminan, kalau Allah tidak mau mengampuni, hapuslah namanya dari kitab yang telah Allah tuliskan. Ini salah satu penyebutan paling awal tentang kitab berisi nama di hadapan Allah. Musa rela namanya dicoret demi bangsa yang baru saja mengkhianati Allah di depan matanya sendiri.
Keberanian seperti ini jarang muncul pada pagi yang biasa. Lebih mudah menjaga jarak dari orang yang mengecewakan kita daripada berdiri di celah untuk mereka di hadapan Allah. Doa Musa menunjukkan arah lain, syafaat yang sungguh berarti ikut menanggung, bukan hanya berharap dari jauh.
Hari ini mungkin ada nama yang terlintas, seseorang yang sedang jauh dari Allah atau yang hubunganmu dengannya sedang retak. Jangan biarkan nama itu hanya lewat begitu saja dalam pikiran pagi ini.
Hari ini
Tuliskan satu nama itu di kertas atau catatan ponselmu sekarang, lalu ucapkan dengan suara pelan satu kalimat doa untuknya sebelum kamu mulai bekerja hari ini.
✦ Momen siang
Kemudian, Dia mendekat dan menyentuh tandu jenazah itu. Orang-orang yang mengusung tandu itu pun berhenti. Lalu, Yesus berkata, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Kemudian, orang yang tadinya mati itu duduk dan mulai berbicara. Dan, Yesus mengembalikannya kepada ibunya.
Lukas 7:14-15
Tangan itu menyentuh usungan kayu, dan empat orang yang memikulnya berhenti mendadak di tengah jalan berdebu. Suara tangisan yang tadinya memenuhi udara seketika diam. Semua orang menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi pada kayu yang membawa mayat itu.
Ini bukan sembarang pemakaman. Perempuan itu janda, dan anak yang terbaring di usungan itu anak tunggalnya. Dalam masyarakat waktu itu, kehilangan suami lalu kehilangan satu-satunya anak laki-laki berarti kehilangan segalanya, nama baik, nafkah, masa depan. Ia berjalan di barisan paling depan, tanpa seorang pun lagi yang akan menjaganya.
Orang banyak dari kota Nain ikut mengiring, begitu pula murid-murid Yesus. Mereka semua melihat mukjizat itu terjadi di depan mata. Tapi yang membuat Yesus berhenti bukan permintaan siapa pun, bukan iman yang ditunjukkan, hanya karena Ia melihat perempuan itu dan hati-Nya tergerak. Yesus bertindak sebelum diminta, karena belas kasihan semata.
Di tengah hari kerja yang padat, mudah untuk hanya menolong kalau diminta, kalau ada alasan jelas. Tapi Tuhan yang kita sembah justru bergerak duluan, melihat lebih dulu sebelum ada yang berteriak minta tolong. Ia menghentikan iring-iringan kematian hanya karena melihat seorang ibu yang menangis.
Hari ini
Tuliskan satu nama orang yang sedang berduka atau kesepian di sekitarmu, lalu kirim pesan singkat hari ini juga yang isinya: aku memikirkanmu.
◐ Momen sore
Dan, yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, ‘Berilah kepada kami sedikit minyakmu karena pelita-pelita kami hampir padam.’ Akan tetapi, yang bijaksana menjawab, ‘Tidak, tidak akan cukup untuk kami dan kamu. Lebih baik, pergilah kepada yang menjual minyak dan belilah untuk dirimu sendiri.’
Matius 25:8-9
Pukul dua siang, ruang rapat kantor masih kosong, dan beberapa orang berdiri di lorong dengan laptop menyala, menunggu kabar yang tak kunjung datang. Menunggu itu melelahkan, apalagi kalau tidak tahu berapa lama lagi.
Sepuluh gadis dalam perumpamaan ini bukan tokoh asing, mereka pengiring pengantin, bagian dari rombongan yang menanti kedatangan mempelai pria di malam hari, membawa pelita yang harus tetap menyala. Lima membawa minyak cadangan, lima tidak. Detail yang sering terlewat bukan soal siapa yang rajin dan siapa yang malas, tapi soal penolakan itu. 'Jangan-jangan kami dan kamu tidak mendapat cukup.' Bukan jawaban pelit, tapi jawaban jujur, karena minyak itu memang tidak bisa dibagi dua tanpa membuat semua pelita padam di tengah jalan.
Di situlah teks ini masih menusuk. Ada hal-hal dalam hidup rohani yang tidak bisa dipinjam dari orang lain pada menit terakhir, iman orang tua, doa sahabat, kebiasaan orang lain membaca Firman. Itu semua baik, tapi bukan pengganti minyak milik sendiri yang dikumpulkan hari demi hari, jauh sebelum malam tiba.
Pertanyaannya bukan apakah mempelai itu akan datang, tapi apakah ada yang sudah disiapkan selama menunggu.
Hari ini
Ambil satu kebiasaan rohani yang sudah lama kamu tunda, membaca satu pasal Alkitab atau mendoakan satu nama, dan lakukan sekarang juga selama lima menit, bukan nanti kalau sempat.
☾ Momen sore
Di tepi sungai-sungai Babel, di sana kita duduk sambil menangis, ketika kita mengingat Sion. Di atas pohon-pohon gandarusa, di tengah-tengahnya kita menggantungkan kecapi kita.
Mazmur 137:1-2
Bayangkan sungai-sungai yang mengalir pelan di tanah asing, dan di tepinya pohon-pohon willow menjulurkan dahan panjangnya ke air. Di dahan-dahan itu tergantung kecapi, alat musik yang biasanya dipetik untuk memuji Allah di Bait Suci, kini dibiarkan diam, tak tersentuh.
Lagu ini dinyanyikan oleh orang-orang Israel yang diangkut paksa ke Babel setelah Yerusalem dihancurkan. Mereka duduk di tepi kanal-kanal besar itu, jauh dari rumah, jauh dari Bait Suci yang sudah jadi puing. Para penjaga mereka, demi hiburan, meminta mereka menyanyikan salah satu nyanyian Sion, seperti pertunjukan di sebuah pesta. Tapi bagaimana mungkin menyanyi ketika hati sedang hancur? Maka kecapi itu digantung, bukan dimainkan.
Mazmur ini bergerak dari air mata menuju sebuah sumpah, mereka berjanji tidak akan melupakan Yerusalem, bahkan jika tangan kanan mereka harus lupa caranya memetik kecapi. Duka mereka tidak dipaksa menjadi pujian instan. Mereka membiarkan kecapi tergantung sampai waktunya tepat.
Ada malam-malam ketika hati juga terlalu penat untuk menyanyi, terlalu berat untuk bersyukur dengan mulut yang penuh. Mazmur 137 memberi kata untuk malam seperti itu, tidak apa menggantung kecapi sejenak, tidak apa diam di hadapan Allah tanpa pura-pura ceria. Allah mendengar bahkan diam yang jujur sekalipun.
Hari ini
Malam ini, sebelum tidur, ambil satu hal yang membuat hatimu berat hari ini, dan ucapkan saja dengan jujur kepada Allah tanpa buru-buru menutupnya dengan kata syukur. Diamkan itu sejenak di hadapan-Nya, lalu biarkan Dia yang menutup hari ini.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
31Musa pun kembali kepada TUHAN dan berkata, “Oh, bangsa ini telah melakukan dosa yang besar dan mereka telah membuat ilah emas untuk diri mereka sendiri.
32Namun, sekarang, jika Engkau berkenan, ampunilah dosa mereka; tetapi jika tidak, hapuslah namaku keluar dari kitab-Mu yang telah Engkau tulis.”
14Kemudian, Dia mendekat dan menyentuh tandu jenazah itu. Orang-orang yang mengusung tandu itu pun berhenti. Lalu, Yesus berkata, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”
15Kemudian, orang yang tadinya mati itu duduk dan mulai berbicara. Dan, Yesus mengembalikannya kepada ibunya.
8Dan, yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, ‘Berilah kepada kami sedikit minyakmu karena pelita-pelita kami hampir padam.’
9Akan tetapi, yang bijaksana menjawab, ‘Tidak, tidak akan cukup untuk kami dan kamu. Lebih baik, pergilah kepada yang menjual minyak dan belilah untuk dirimu sendiri.’
1Di tepi sungai-sungai Babel, di sana kita duduk sambil menangis, ketika kita mengingat Sion.
2Di atas pohon-pohon gandarusa, di tengah-tengahnya kita menggantungkan kecapi kita.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam