Tuhan menata waktu dan batas
Waktu dan batas
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Ulangan 5:14, Kisah Para Rasul 12:10, Lukas 1:20 and Imamat 19:14.
☀ Momen pagi
Namun, hari ketujuh adalah Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Pada hari itu, jangan lakukan pekerjaan apa pun. Baik kamu, anakmu laki-laki dan perempuan, hambamu laki-laki dan perempuan, sapi, keledai, atau hewanmu yang lain, maupun orang asing di kotamu, supaya hambamu laki-laki dan perempuan dapat beristirahat sama sepertimu.
Ulangan 5:14
Sebelum laptop menyala dan daftar pekerjaan hari ini berbaris di kepalamu, berhentilah sebentar di tempat kamu duduk sekarang.
Di Ulangan 5, Musa mengulang kembali sepuluh perintah yang dulu diterima di Sinai. Tapi ada yang berbeda pada perintah sabat di sini. Alasannya bukan lagi tentang Allah yang beristirahat setelah menciptakan dunia, melainkan tentang umat yang pernah menjadi budak di Mesir, dan Yahweh yang membebaskan mereka dengan tangan-Nya.
Karena itu perintah ini tidak berhenti pada diri sendiri. Siapa pun yang punya kuasa untuk membuat orang lain bekerja, hari ini wajib membiarkan mereka berhenti juga, anak, hamba laki-laki, hamba perempuan, bahkan hewan ternaknya. Istirahat bukan hadiah dari atasan yang baik hati, tapi hak yang dilindungi hukum Allah sendiri. Di balik perintah ini berdiri Allah yang membela yang lemah, yang mengingat bagaimana rasanya tidak pernah boleh berhenti.
Hari ini kamu mungkin bukan tuan atas budak atau pemilik ladang, tapi ada orang yang bekerja untukmu: kurir yang mengantar paket, petugas kebersihan di kantor, asisten rumah tangga, sopir ojek online. Sabat Musa bertanya, apakah kamu memperlakukan mereka sebagai manusia yang juga berhak lelah dan berhenti.
Hari ini
Tuliskan satu nama orang yang hari ini bekerja untuk melayanimu, lalu kirim pesan singkat yang mengucap terima kasih untuknya sebelum kamu mulai bekerja sendiri.
✦ Momen siang
Ketika mereka telah melewati penjaga pertama dan kedua, mereka sampai di pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka, lalu mereka keluar dan berjalan sampai di sebuah lorong, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan Petrus.
Kisah Para Rasul 12:10
Sendiri.
Satu kata kecil, gampang terlewat. Gerbang besi itu tidak didorong, tidak digedor, tidak dijebol. Ia terbuka dengan sendirinya. Tidak ada tangan manusia yang menyentuhnya.
Malam itu Petrus tidur diapit dua prajurit, kedua tangannya dirantai, empat regu tentara berjaga bergantian di luar sel. Semua terkunci rapat, persis seperti yang diinginkan Herodes. Lalu malaikat datang, dan rantai itu lepas dari tangan Petrus begitu saja, tanpa Petrus berbuat apa pun selain bangun dan berjalan. Petrus sendiri setengah tidak percaya, ia pikir ini hanya penglihatan. Para penjaga sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di samping mereka. Bahkan orang-orang yang sedang berdoa untuknya di rumah Maria, ketika Petrus benar-benar berdiri di depan pintu, mereka malah tidak mau percaya itu dia.
Jadi siapa yang benar-benar melihat tanda ini terjadi? Bukan penjaga, bukan orang-orang yang berdoa, bahkan Petrus sendiri baru sadar belakangan. Yang bekerja di sini bukan kewaspadaan manusia, bukan juga kekuatan doa yang penuh keyakinan. Yang bekerja adalah Tuhan yang membuka apa yang manusia kunci rapat, sering kali tanpa seorang pun menyaksikannya secara langsung.
Mungkin hari ini ada sesuatu yang terasa terkunci bagimu, sebuah situasi, sebuah hubungan, sebuah beban yang kau pikir harus kau dobrak sendiri.
Hari ini
Ambil waktu sepuluh menit makan siangmu ini. Tulis di kertas kecil satu hal yang terasa seperti rantai bagimu sekarang, lalu lipat kertas itu dan simpan di saku sebagai pengingat bahwa Tuhan bisa membuka yang kau kira harus kau paksa sendiri.
◐ Momen sore
Namun, sekarang dengarlah! Kamu akan menjadi bisu dan tidak dapat berbicara sampai pada hari ketika hal-hal ini terjadi karena kamu tidak percaya pada perkataanku, yang akan digenapi pada waktunya.”
Lukas 1:20
Zakharia sudah menunggu bertahun-tahun untuk momen ini. Dari ribuan imam di Israel, undian jatuh padanya, hari itu, untuk masuk ke ruang kudus dan membakar dupa di hadapan Allah, sebuah kehormatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup. Tangannya memegang bara, asap mengepul, dan di tengah keheningan suci itu seorang malaikat berdiri di sampingnya membawa kabar yang mustahil: istrinya yang mandul dan sudah tua akan mengandung seorang anak.
Zakharia bertanya, bukan dengan iman tapi dengan keraguan yang wajar bagi siapa saja yang sudah lama berdoa tanpa jawaban. Dan jawabannya bukan teguran lembut, tapi kebisuan. Sembilan bulan tanpa suara, di rumah yang sebentar lagi penuh tangisan bayi.
Ini bukan cerita tentang hukuman kecil karena bertanya. Allah sendiri sering disapa dengan pertanyaan oleh Abraham, oleh Musa. Yang berbeda di sini adalah di mana pertanyaan itu diucapkan, tepat di tengah penggenapan janji yang sedang terjadi di depan matanya. Zakharia diam, bukan supaya ia berhenti berpikir, tapi supaya ia punya waktu untuk mendengar ulang apa yang baru saja ia dengar.
Mungkin ada janji Allah dalam hidupmu yang sudah lama kamu doakan sampai kamu lupa cara berharap. Ketika jawabannya datang, reaksi pertama bukan selalu sukacita, kadang itu kecurigaan yang sudah jadi kebiasaan. Teks ini tidak menjanjikan bahwa keraguan selalu dihukum dengan diam. Tapi ia menunjukkan bahwa kadang Allah memberi kita jeda, bukan untuk mematikan suara kita, tapi untuk mengubah apa yang keluar dari dalamnya.
Hari ini
Ambil kertas dan pena sore ini. Tuliskan satu janji Allah yang sudah lama kamu ragukan, lalu diam selama lima menit tanpa berkata apa-apa, hanya membaca tulisan itu dalam hati.
☾ Momen sore
Jangan mengutuki orang tuli. Jangan menaruh batu sandungan di depan orang buta. Akan tetapi, hormatilah Allahmu. Akulah TUHAN.
Imamat 19:14
Seorang yang tuli tidak mendengar kutukan yang dilontarkan di belakang punggungnya. Seorang yang buta tidak melihat batu yang sengaja diletakkan di jalannya. Keduanya tidak akan pernah tahu siapa yang berbuat jahat kepada mereka, dan itulah yang membuat mereka begitu rentan di tengah masyarakat kuno, tempat kehormatan seseorang sering dijaga lewat rasa takut akan pembalasan.
Justru di titik itu Allah berbicara. Dia tidak menunggu laporan dari korban, sebab korban tidak bisa melapor. Dia berbicara tentang orang yang tak bisa membela diri sendiri, tentang perbuatan yang hanya diketahui pelakunya seorang, lalu Dia menutupnya dengan kalimat singkat, Akulah Yahweh. Seolah Dia berkata, Aku melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Aku mendengar apa yang tidak didengar orang lain.
Hukum ini melindungi bukan karena ada yang mengawasi dari luar, tapi karena Allah sendiri yang mengawasi dari dalam. Itu gambaran Allah yang berpihak pada yang lemah justru ketika tidak ada saksi mata, ketika hanya hati pelaku dan mata Tuhan yang tahu keadaan sebenarnya.
Malam ini, sebelum lampu dipadamkan, ada baiknya memeriksa hari yang baru saja lewat. Mungkin ada orang yang lewat begitu saja di depanmu hari ini, orang yang gampang diabaikan karena dia memang tidak akan menyadarinya. Allah melihatnya. Dan Dia melihatmu juga, dengan perhatian yang sama teliti dan sama lembutnya.
Hari ini
Tuliskan satu nama orang yang rentan atau mudah diabaikan dalam keseharianmu, lalu doakan dia dengan suara pelan sebelum tidur malam ini.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
14Namun, hari ketujuh adalah Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Pada hari itu, jangan lakukan pekerjaan apa pun. Baik kamu, anakmu laki-laki dan perempuan, hambamu laki-laki dan perempuan, sapi, keledai, atau hewanmu yang lain, maupun orang asing di kotamu, supaya hambamu laki-laki dan perempuan dapat beristirahat sama sepertimu.
10Ketika mereka telah melewati penjaga pertama dan kedua, mereka sampai di pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka, lalu mereka keluar dan berjalan sampai di sebuah lorong, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan Petrus.
20Namun, sekarang dengarlah! Kamu akan menjadi bisu dan tidak dapat berbicara sampai pada hari ketika hal-hal ini terjadi karena kamu tidak percaya pada perkataanku, yang akan digenapi pada waktunya.”
14Jangan mengutuki orang tuli. Jangan menaruh batu sandungan di depan orang buta. Akan tetapi, hormatilah Allahmu. Akulah TUHAN.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam