Damai sejati di tengah pergumulan hidup
Damai dan pergumulan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Yohanes 14:27, Pengkhotbah 9:9, Galatia 5:17 and Mazmur 62:5-6.
☀ Momen pagi
Damai sejahtera Kutinggalkan bersamamu; damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, bukan seperti yang dunia berikan yang Aku berikan kepadamu. Jangan biarkan hatimu gelisah ataupun gentar.
Yohanes 14:27
Jam tujuh pagi, secangkir kopi masih mengepul di meja dapur, tapi pikiran sudah melompat ke daftar belanja, cucian yang menumpuk, dan pesan grup keluarga yang belum dibalas soal acara nanti sore. Hari libur pun bisa terasa penuh sebelum benar-benar dimulai.
Yesus tahu murid-murid-Nya juga punya hati yang gelisah. Sebelum Dia pergi, Dia tidak meninggalkan daftar tugas atau nasihat panjang, Dia meninggalkan damai sejahtera-Nya sendiri. Bukan damai yang tergantung pada rumah yang rapi atau jadwal yang lancar, tapi damai yang berdiri di atas kehadiran-Nya yang tidak berubah.
Damai dunia biasanya datang setelah masalah selesai. Damai yang Yesus berikan justru datang di tengah masalah yang belum selesai, karena sumbernya bukan keadaan tapi Pribadi-Nya sendiri. Itu sebabnya Dia berani berkata, jangan gelisah, jangan takut, seolah damai itu bisa dipilih, bukan sekadar dirasakan kalau kebetulan datang.
Hari ini mungkin ada waktu bersama keluarga, mungkin juga persiapan untuk ibadah besok. Di sela semua itu, ingatlah bahwa damai-Nya sudah diberikan, tinggal diterima, bukan diciptakan sendiri dengan kerja keras.
Hari ini
Sebelum kamu mulai kegiatan pagi ini, duduklah sebentar di kursi dapur, tarik napas dalam-dalam, dan ucapkan dengan suara pelan, 'Damai-Mu cukup bagiku hari ini.' Lakukan ini tiga kali sebelum kamu berdiri dan melangkah ke aktivitas berikutnya.
✦ Momen siang
Nikmatilah hidup bersama istri yang kaucintai sepanjang hari-hari kehidupanmu yang sia-sia, yang telah diberikan kepadamu di bawah matahari, sepanjang hari-hari kesia-siaanmu. Sebab, itulah bagianmu dalam hidup ini dan dalam kerja kerasmu yang kamu usahakan di bawah matahari.
Pengkhotbah 9:9
Meja makan siang hari ini tidak terburu-buru. Piring-piring tersusun santai, ada waktu untuk duduk lebih lama dari biasanya, dan suara orang-orang yang kamu kasihi terdengar di sekitarmu.
Si Pengkhotbah, yang begitu jujur tentang kesia-siaan hidup, justru menaruh nasihat ini di tengah semua keluhannya: nikmati hidup bersama orang yang kamu cintai. Bukan sebagai pelarian dari kefanaan, tapi sebagai jawaban atasnya. Hari-hari memang singkat dan sering terasa sia-sia, tapi justru di situ Tuhan menaruh sesuatu yang nyata untuk dinikmati, orang di depanmu, percakapan hari ini, tawa yang sederhana.
Sabtu sering menjadi hari ketika kita akhirnya punya waktu untuk benar-benar hadir. Tidak ada agenda yang mendesak, tidak ada layar yang menuntut perhatian. Tapi kehadiran itu harus dipilih, bukan otomatis terjadi hanya karena tidak ada pekerjaan.
Pengkhotbah menyebut hidup ini pemberian Tuhan, sesuatu yang diberikan, bukan direbut. Menikmati orang yang kamu cintai bukan gangguan dari hal-hal rohani, itu bagian dari menerima pemberian itu dengan syukur.
Hari ini
Letakkan ponselmu di laci selama makan siang ini. Tatap wajah orang yang duduk bersamamu, dan katakan dengan jelas satu hal yang kamu syukuri tentang dia hari ini.
◐ Momen sore
Keinginan nafsu kedagingan berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan nafsu kedagingan, karena keduanya saling berlawanan, supaya kamu tidak melakukan hal-hal yang kamu inginkan.
Galatia 5:17
Melawan. Kata ini tidak lembut. Ia berbicara tentang perang, bukan tentang dua sahabat yang sedikit berbeda pendapat. Paulus tidak menulis bahwa daging dan Roh saling menyesuaikan diri. Ia menulis bahwa keduanya bertentangan, saling menyerang, dan hasilnya adalah engkau sering tidak melakukan apa yang sebenarnya kau ingini.
Sabtu ini mungkin terasa seperti hari yang tenang. Tidak ada jadwal yang mengejar. Tapi coba perhatikan, justru di hari santai inilah pertentangan itu sering paling nyata. Kau ingin duduk tenang bersama keluarga, tapi pikiranmu melompat ke ponsel. Kau ingin mendoakan besok, tapi tubuhmu memilih rebahan dan menunda. Bukan karena kau munafik, tapi karena memang ada dua kuasa yang menarik ke arah berlawanan.
Yang menghibur, Paulus tidak menyuruhmu berpura-pura konflik itu tidak ada. Ia mengakuinya secara terbuka, seolah berkata, wajar kalau kau merasa tertarik dua arah. Persoalannya bukan apakah kau merasakan pertentangan itu, tapi ke arah mana kau melangkah ketika merasakannya.
Roh Kudus tidak diam menonton pertentangan itu. Ia hadir, aktif, menarik hatimu kembali setiap kali daging menang sesaat. Itu bukan alasan untuk menyerah, melainkan alasan untuk tetap berjalan, meski dengan langkah yang tertatih.
Hari ini
Ambil selembar kertas kecil. Tuliskan satu keinginan dagingmu yang paling kuat hari ini, lalu di bawahnya tuliskan satu doa singkat memohon Roh Kudus menguatkanmu melawannya. Bacakan doa itu dengan suara keras, sekali saja, sebelum kau melanjutkan harimu.
☾ Momen sore
(62-6) Hanya pada Allah jiwaku tenang, Dia adalah pengharapanku. (62-7) Hanya Dia gunung batuku dan keselamatanku, tempat perlindungan yang tinggi, aku takkan digoyahkan.
Mazmur 62:5-6
Diam itu bukan tanda menyerah. Justru dibutuhkan keberanian untuk berhenti bergerak, berhenti mengatur, berhenti mencari jawaban sendiri, dan membiarkan jiwa kita diam di hadapan Allah.
Hari Sabtu ini mungkin dipenuhi hal-hal yang menyenangkan, waktu bersama keluarga, pekerjaan rumah yang tertunda, hobi yang akhirnya bisa disentuh lagi. Tapi di sela semua itu, pikiran kita sering tetap berlari. Memikirkan minggu depan, mengulang percakapan tadi, menghitung apa yang belum selesai. Pemazmur mengajak jiwanya untuk diam, bukan karena tidak ada yang perlu dipikirkan, tapi karena ia tahu ke mana harapannya sungguh berasal.
Dia alone adalah gunung batu, keselamatan, kota benteng. Bukan rencana kita, bukan usaha kita, bukan orang lain yang kita andalkan. Ketika malam tiba dan tubuh mulai lelah, ini saat yang tepat untuk berhenti menopang diri sendiri dan menyerahkan berat hari ini kepada Dia yang tidak pernah goyah.
Besok adalah hari Tuhan. Malam ini bisa menjadi jembatan menuju itu, bukan lewat kesibukan mempersiapkan segala sesuatu, tapi lewat hati yang sudah tenang lebih dulu.
Hari ini
Malam ini, duduklah sendirian selama lima menit di tempat yang tenang, letakkan ponsel di ruangan lain, dan ucapkan pelan-pelan, Hanya pada-Mu jiwaku diam, sampai engkau benar-benar merasakan bahu dan pikiranmu mengendur.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
27Damai sejahtera Kutinggalkan bersamamu; damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, bukan seperti yang dunia berikan yang Aku berikan kepadamu. Jangan biarkan hatimu gelisah ataupun gentar.
9Nikmatilah hidup bersama istri yang kaucintai sepanjang hari-hari kehidupanmu yang sia-sia, yang telah diberikan kepadamu di bawah matahari, sepanjang hari-hari kesia-siaanmu. Sebab, itulah bagianmu dalam hidup ini dan dalam kerja kerasmu yang kamu usahakan di bawah matahari.
17Keinginan nafsu kedagingan berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan nafsu kedagingan, karena keduanya saling berlawanan, supaya kamu tidak melakukan hal-hal yang kamu inginkan.
5(62-6) Hanya pada Allah jiwaku tenang, Dia adalah pengharapanku.
6(62-7) Hanya Dia gunung batuku dan keselamatanku, tempat perlindungan yang tinggi, aku takkan digoyahkan.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam