Jangan Takut, Tuhan Selalu Menjaga
Jangan takut, percaya
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Lukas 2:10, Mazmur 42:5, Mazmur 121:4 and 2 Tawarikh 20:15.
☀ Momen pagi
Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada mereka, “Jangan takut sebab dengarlah, Aku memberitakan kepadamu kabar baik tentang sukacita besar yang diperuntukkan bagi semua bangsa.
Lukas 2:10
Berita besar biasanya disampaikan dulu kepada orang penting, pejabat, pemuka agama, orang yang kesaksiannya dianggap pantas dipercaya. Begitulah dunia bekerja, dulu dan sekarang.
Tapi di padang dekat Betlehem, Allah memilih gembala yang sedang berjaga malam. Ini bukan pekerjaan santai. Gembala bergiliran menjaga kawanan sepanjang malam, waspada terhadap serigala dan pencuri, di tempat terbuka tanpa perlindungan rumah. Pekerjaan ini melelahkan dan dianggap rendah, bahkan membuat mereka dianggap najis secara ritual sehingga kesaksian mereka sering tidak diterima di pengadilan.
Justru di tengah tugas yang tidak mulia inilah langit terbuka. Bukan di istana, bukan di bait suci yang sedang sepi malam itu, tapi di padang, pada orang-orang yang sedang menjalankan rutinitas membosankan mereka. Allah tidak menunggu panggung yang pantas. Dia masuk ke dalam jaga malam yang biasa itu dan mengubahnya menjadi tempat pertama kabar sukacita diperdengarkan.
Ini berarti pekerjaanmu hari ini, sekecil apa pun, segelap apa pun rasanya, bukan tempat yang terlalu rendah untuk didatangi Allah. Jum'at ini mungkin dimulai dengan rutinitas yang sama seperti kemarin. Tapi rutinitas bukan penghalang bagi-Nya untuk berbicara.
Hari ini
Sebelum kamu mulai pekerjaan pertamamu hari ini, berhenti sepuluh detik dan ucapkan dengan suara pelan, 'Tuhan, Engkau bisa bicara di sini juga.'
✦ Momen siang
(42-6) Mengapa kamu menunduk, hai jiwaku, dan menggeram di dalam diriku? Berharaplah di dalam Allah! Sebab, aku akan bersyukur lagi kepada-Nya karena keselamatan di hadapan-Nya.
Mazmur 42:5
Orang yang menulis Mazmur ini sedang jauh dari Yerusalem, mungkin di pegunungan utara, dikelilingi suara air terjun yang menenggelamkan suaranya sendiri. Ia rindu bait Allah sampai ke dasar hidupnya, bukan cuma pikirannya yang kosong, tapi seluruh dirinya terasa lelah dan haus.
Kata yang diterjemahkan 'jiwa' di sini aslinya menggambarkan tenggorokan, napas, seluruh diri yang hidup dan bernapas. Bukan bagian rohani yang terpisah dari tubuh, tapi manusia seutuhnya, dengan rasa lapar, haus, lelah, dan rindunya sekaligus.
Di Kejadian 2, ketika debu diberi napas, manusia tidak menerima jiwa, ia menjadi jiwa yang hidup. Debu dan napas bersatu menjadi satu makhluk utuh. Begitu juga di Mazmur 42, ketika jiwa 'tertekan', itu bukan sekadar suasana hati, tapi seluruh diri yang goyah, tubuh dan batin sekaligus.
Terjemahan kita sering membuat 'jiwa' terdengar seperti bagian yang halus, nyaris tanpa tubuh. Padahal yang dibicarakan pemazmur adalah dirinya yang lengkap, yang lapar siang ini, yang capek, yang rindu, yang bertanya kepada dirinya sendiri lalu memerintahkan diri itu untuk berharap.
Siang ini, tubuhmu yang lapar dan pikiranmu yang penat bukan dua hal yang bersaing, keduanya adalah dirimu yang utuh di hadapan Allah.
Hari ini
Sebelum makan siang, berhentilah sejenak dan ucapkan dengan suara pelan, seperti pemazmur, 'Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Berharaplah kepada Allah,' lalu makanlah dengan tenang, tanpa layar, sebagai cara merawat dirimu yang utuh.
◐ Momen sore
Sebenarnya, Dia yang menjaga Israel, takkan terkantuk ataupun tertidur.
Mazmur 121:4
Jam setengah tiga sore, mata mulai berat di depan layar, dan kopi ketiga tidak menolong lagi. Tubuh ini punya batas, dan itu bukan kegagalan, itu kenyataan.
Gembala-gembala di padang Betlehem tahu benar soal batas itu. Menjaga domba di malam hari bukan pekerjaan romantis. Mereka bergiliran, satu tidur sebentar sementara yang lain berjaga, karena serigala dan pencuri paling sering datang justru saat kantuk paling berat, menjelang dini hari. Pekerjaan ini dianggap rendah, kotor, membuat orang tidak layak masuk rumah ibadah tanpa membersihkan diri dulu. Tapi justru kepada orang-orang yang sedang berjuang melawan kantuk inilah kabar kelahiran Kristus pertama kali disampaikan.
Di sinilah kontrasnya terasa tajam. Gembala manusia harus bergantian, sebab tubuh mereka menyerah pada waktunya. Tapi ada Penjaga lain yang tidak pernah perlu giliran istirahat. Dia yang menjaga Israel tidak mengantuk dan tidak tidur.
Ini bukan alasan untuk merasa lemah karena lelah sore ini. Justru sebaliknya: kelelahanmu bukan tanda bahwa penjagaan atas hidupmu ikut melemah. Gembala boleh terkantuk-kantuk di pos jaganya, tapi Allah yang mereka layani tidak pernah lengah terhadap domba-domba-Nya, termasuk terhadap penjaga yang kelelahan itu sendiri.
Hari ini
Sore ini, tutup mata sejenak selama satu menit penuh di mana pun kamu duduk sekarang, dan ucapkan pelan, Engkau yang menjaga tidak mengantuk, jaga aku yang sedang lelah ini.
☾ Momen sore
Dia berkata, “Dengarlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem serta Raja Yosafat, inilah firman TUHAN kepadamu: ‘Jangan takut dan jangan gentar karena pasukan yang besar itu, sebab ini bukanlah peperanganmu, melainkan Allah!
2 Tawarikh 20:15
Milik. Kata kecil itu yang mengubah segalanya malam ini. Yosafat berdiri di depan rakyatnya, pasukan Moab dan Amon sudah mendekat dari arah laut Mati, jauh lebih besar dari pasukannya sendiri. Dan kata yang datang bukan 'milikmu', melainkan 'milik Allah'.
Yosafat tidak langsung menyusun strategi. Ia mengumpulkan seluruh Yehuda di depan Bait Allah dan berdoa di muka umum, mengakui dengan terus terang bahwa mereka tidak tahu harus berbuat apa, mata mereka tertuju kepada Allah saja. Lalu Roh Allah turun atas seorang Lewi bernama Yahaziel, dan jawaban itu datang. Bukan rencana perang, tapi perintah untuk berdiri diam dan melihat.
Yang mengejutkan, besok paginya Yosafat bahkan menempatkan para penyanyi di depan barisan, bukan prajurit. Mereka memuji Allah sambil berjalan ke medan perang. Dan musuh saling membinasakan sendiri sebelum Yehuda sampai ke sana.
Itu yang ditawarkan malam ini. Bukan kepastian bahwa semua akan beres jika kita diam saja, tapi kelegaan bahwa tidak semua beban hari ini harus kita pikul sendirian sampai selesai. Ada pergumulan yang bukan milikmu untuk ditaklukkan malam ini, karena itu milik Allah.
Hari ini
Tulis satu kalimat singkat di secarik kertas, pergumulan atau beban hari ini yang paling berat, lalu letakkan kertas itu di bawah Alkitabmu di meja sebelum tidur, sebagai tanda kau menyerahkannya malam ini.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
10Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada mereka, “Jangan takut sebab dengarlah, Aku memberitakan kepadamu kabar baik tentang sukacita besar yang diperuntukkan bagi semua bangsa.
5(42-6) Mengapa kamu menunduk, hai jiwaku, dan menggeram di dalam diriku? Berharaplah di dalam Allah! Sebab, aku akan bersyukur lagi kepada-Nya karena keselamatan di hadapan-Nya.
4Sebenarnya, Dia yang menjaga Israel, takkan terkantuk ataupun tertidur.
15Dia berkata, “Dengarlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem serta Raja Yosafat, inilah firman TUHAN kepadamu: ‘Jangan takut dan jangan gentar karena pasukan yang besar itu, sebab ini bukanlah peperanganmu, melainkan Allah!
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam