Allah bekerja di balik layar
Karya Allah tersembunyi
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Kisah Para Rasul 8:30, Lukas 1:78-79, Yohanes 2:9 and 2 Tawarikh 20:6.
☀ Momen pagi
Maka, Filipus berlari ke kereta itu dan mendengar orang itu sedang membaca kitab Nabi Yesaya. Filipus bertanya kepadanya, “Apakah tuan mengerti apa yang sedang tuan baca?”
Kisah Para Rasul 8:30
Dunia di sekitar kita menganggap bahwa membaca sama dengan mengerti, bahwa begitu mata melintasi huruf, makna sudah otomatis masuk ke dalam hati. Tapi di jalan sunyi menuju Gaza, retakan itu muncul: seseorang yang sedang membaca dengan suara nyaring justru ditanya apakah ia benar-benar paham.
Filipus diutus Roh ke jalan sepi itu, lalu didekatkan pada sebuah kereta. Di dalamnya duduk seorang pejabat tinggi dari Etiopia, bendahara ratu Kandake, yang baru pulang dari beribadah di Yerusalem. Sepanjang perjalanan ia membaca kitab Yesaya keras-keras, kebiasaan umum saat orang membaca gulungan di zaman itu.
Filipus tidak langsung menggurui atau menjelaskan. Ia bertanya dulu, sederhana tapi menembus, pertanyaan yang mengubah kesibukan membaca menjadi ruang jujur. Pertanyaan itu tidak menuduh, ia hanya membuka pintu yang selama ini tertutup rapat oleh rasa sudah tahu.
Jawaban pejabat itu jujur dan rendah hati, bagaimana ia bisa mengerti kalau tidak ada yang membimbingnya. Lalu ia mengundang Filipus naik dan duduk di sampingnya. Pertanyaan yang tadi terasa menyelidik justru melahirkan persahabatan dan penjelasan yang mengubah hidupnya hari itu juga.
Pagi ini, sebelum hari penuh pekerjaan dan jadwal mengambil alih, pertanyaan yang sama layak singgah di dadamu. Bukan untuk membuatmu merasa kurang, tapi untuk mengajakmu berhenti sejenak dari membaca cepat menuju membaca dengan hati terbuka.
Hari ini
Buka pesan kepada satu teman sekarang, tuliskan satu ayat yang baru kaubaca minggu ini, lalu tanyakan dengan jujur, "Menurutmu, apa maksud ayat ini?" Kirim sebelum hari ini bergulir lebih jauh.
✦ Momen siang
Karena rahmat dan belas kasih Allah kita, sinar Matahari akan menyinari kita dari tempat tinggi untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan yang berada dalam bayang-bayang maut, untuk menuntun kaki kita menuju ke jalan damai sejahtera.”
Lukas 1:78-79
Apa kalimat pertama yang akan kau ucapkan, kalau kau baru boleh bicara lagi setelah sembilan bulan diam?
Zakharia tahu rasanya. Ia meragukan kata malaikat tentang anak di usia tuanya, dan sejak itu mulutnya terkunci. Sembilan bulan ia menyaksikan istrinya mengandung tanpa bisa berkata apa-apa, hanya menulis dan mengangguk.
Baru pada hari kedelapan, saat anak itu harus diberi nama sesuai adat, Zakharia menulis namanya di papan tulisannya, Yohanes, dan seketika lidahnya terlepas. Yang keluar bukan keluhan tentang bulan-bulan yang hilang, melainkan nyanyian. Ia memuji Allah yang mengingat umat-Nya, lalu berbicara kepada anaknya sendiri tentang jalan yang akan ia tempuh.
Dan nyanyian itu berakhir bukan dengan kata besar, tapi dengan gambar yang hangat: fajar yang terbit dari langit, menyinari mereka yang masih duduk dalam gelap, menuntun langkah ke jalan damai. Ini kata-kata orang yang baru selesai menunggu, bukan orang yang baru mulai percaya.
Mungkin hari ini kau juga sedang menahan sesuatu, kata yang belum keluar, syukur yang belum diucapkan, karena sibuk atau karena ragu. Zakharia mengajarkan bahwa diam tidak selalu berakhir dengan kecewa. Kadang diam itu diakhiri dengan nyanyian.
Hari ini
Berhentilah sejenak sekarang, di tengah pekerjaanmu. Ucapkan dengan suara, bukan hanya dalam hati, satu kalimat syukur atas satu hal kecil yang kau lihat hari ini.
◐ Momen sore
Ketika pemimpin pesta mencicipi air yang sudah dijadikan anggur itu, dan dia tidak mengetahui dari mana itu berasal (tetapi para pelayan yang mengambil air itu tahu), maka pemimpin pesta itu memanggil mempelai laki-laki,
Yohanes 2:9
Enam tempayan batu berdiri di sudut ruangan, masing-masing menampung delapan puluh sampai seratus dua puluh liter air. Bukan air minum, melainkan air pembasuhan, untuk ritual penyucian sebelum makan. Para pelayanlah yang mengangkutnya, lengan mereka pegal, bahu mereka basah oleh percikan.
Mereka yang mengisi tempayan itu tahu persis dari mana air itu berasal. Tapi pemimpin pesta, orang yang seharusnya paling mengerti rasa anggur, tidak tahu apa-apa. Ia memuji anggur terbaik tanpa menyadari bahwa mukjizat baru saja lewat di depan lidahnya sendiri.
Ada sesuatu yang tidak nyaman di sini. Orang yang berkuasa, yang duduk di meja utama, justru yang paling buta. Sementara pelayan, orang-orang yang pekerjaannya biasanya tidak dicatat dan tidak disebut namanya, justru menjadi saksi pertama karya Yesus. Tanda ini tidak diumumkan dari mimbar. Ia terjadi di tangan orang-orang yang menuang air, bukan di mulut orang yang menghakimi rasa.
Mungkin itu caranya Yesus bekerja lebih sering daripada yang kita sadari. Bukan di panggung, tapi di dapur. Bukan pada mereka yang menilai, tapi pada mereka yang melayani dengan tangan mereka sendiri, tanpa tahu bahwa tangan itu sedang menjadi saksi kemuliaan Allah.
Hari ini
Hari ini, temukan satu orang yang pekerjaannya biasa luput dari perhatian, petugas kebersihan, kasir, office boy, rekan kerja yang diam-diam menyelesaikan tugas kecil. Ucapkan terima kasih secara langsung kepadanya, sebutkan dengan jelas apa yang ia kerjakan, sebelum hari ini berakhir.
☾ Momen sore
Dia berkata, “Ya, TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di surga? Engkaulah yang memerintah atas seluruh kerajaan bangsa-bangsa. Kuasa dan keperkasaan ada dalam tangan-Mu sehingga tidak ada yang dapat bertahan melawan-Mu.
2 Tawarikh 20:6
Rumah sudah sunyi, langkahmu melambat, dan satu pertanyaan yang tadi siang kau tunda kini muncul lagi di kepala: bagaimana ini akan selesai?
Yosafat pernah berdiri di titik yang jauh lebih genting. Tiga bangsa bergerak sekaligus menyerang Yehuda, dan raja ini tahu pasukannya tidak sanggup melawan mereka. Alkitab mencatat ia takut, lalu melakukan sesuatu yang sederhana namun berani: ia mengumpulkan seluruh Yehuda, menetapkan puasa, dan berdiri bersama rakyatnya di halaman bait Allah. Berpuasa di sini bukan ritual kosong, melainkan cara mereka berhenti dari segala usaha sendiri dan menaruh seluruh perhatian hanya kepada Yahweh.
Yang menarik, sebelum Yosafat mengakui kebingungannya, ia lebih dulu mengucapkan siapa Allah yang ia sembah. Ia menyebut kuasa Allah atas langit, atas segala bangsa, atas kekuatan yang tak tertandingi. Baru setelah itu ia berani berkata jujur bahwa ia tidak tahu harus berbuat apa.
Malam ini mungkin bukan pasukan musuh yang menekanmu, tapi bisa jadi keputusan yang belum jelas, hubungan yang belum selesai, atau beban yang kau pendam sepanjang hari. Doa Yosafat mengajarkan urutan yang menenangkan: mulai dengan mengenali siapa Allah, baru lanjutkan dengan mengakui apa yang tidak kau mengerti.
Hari ini
Ambil kertas kecil atau buka catatan di ponselmu, tuliskan satu hal yang hari ini membuatmu bingung harus berbuat apa, lalu ucapkan dengan suara pelan, 'Yahweh, Engkau berkuasa atas ini, dan aku menyerahkannya kepada-Mu malam ini.'
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
30Maka, Filipus berlari ke kereta itu dan mendengar orang itu sedang membaca kitab Nabi Yesaya. Filipus bertanya kepadanya, “Apakah tuan mengerti apa yang sedang tuan baca?”
78Karena rahmat dan belas kasih Allah kita, sinar Matahari akan menyinari kita dari tempat tinggi
79untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan yang berada dalam bayang-bayang maut, untuk menuntun kaki kita menuju ke jalan damai sejahtera.”
9Ketika pemimpin pesta mencicipi air yang sudah dijadikan anggur itu, dan dia tidak mengetahui dari mana itu berasal (tetapi para pelayan yang mengambil air itu tahu), maka pemimpin pesta itu memanggil mempelai laki-laki,
6Dia berkata, “Ya, TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di surga? Engkaulah yang memerintah atas seluruh kerajaan bangsa-bangsa. Kuasa dan keperkasaan ada dalam tangan-Mu sehingga tidak ada yang dapat bertahan melawan-Mu.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam