Iman yang Berjalan dalam Kasih
Iman dan kasih nyata
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Markus 5:36, Lukas 23:26, Lukas 10:33-34 and Mikha 6:8.
☀ Momen pagi
Akan tetapi, mendengar apa yang mereka katakan, Yesus berkata kepada kepala sinagoge itu, “Jangan takut, percaya saja.”
Markus 5:36
Apa yang kau lakukan ketika kabar buruk sampai lebih dulu daripada pertolongan yang kau nantikan?
Jairus bukan orang sembarangan. Ia kepala rumah ibadah, orang yang dihormati di kotanya. Tapi ketika anaknya sekarat, ia rela jatuh di depan umum, di depan kaki Yesus, memohon seperti orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Yesus setuju ikut pulang bersamanya. Mereka berjalan bersama, melewati jalan yang sama yang tadinya Jairus lalui penuh harap.
Tapi di tengah jalan itu, sebelum rumahnya terlihat, orang-orang dari rumahnya datang membawa kabar, anakmu sudah mati, untuk apa lagi merepotkan Guru? Di titik itulah, bukan di tempat yang tenang, bukan sesudah semuanya selesai, tapi tepat di tengah langkah yang paling berat, Yesus berbicara kepadanya.
Kata itu diucapkan sebelum Jairus tahu bagaimana ceritanya akan berakhir. Ia masih harus berjalan, dengan kabar buruk di telinganya dan kata Yesus di dadanya, dua hal yang bersaing untuk dipercaya.
Pagi ini mungkin kau juga sedang berjalan menuju sesuatu yang belum selesai, pekerjaan yang hasilnya belum pasti, hubungan yang masih tegang, diagnosis yang belum jelas. Kabar buruk sering datang lebih cepat daripada jawaban.
Hari ini
Sebelum membuka ponsel atau memulai hari, sebutkan satu hal yang kau takutkan hari ini, dan ucapkan keras-keras kalimat Yesus itu untuk hal itu, Jangan takut, percaya saja.
✦ Momen siang
Ketika para tentara membawa Yesus pergi, mereka juga menahan seseorang, yaitu Simon dari Kirene yang baru datang dari desa. Para tentara meletakkan salib Yesus di pundaknya dan menyuruhnya memikul salib itu di belakang Yesus.
Lukas 23:26
Dunia kerja percaya bahwa jadwal yang terganggu adalah jadwal yang gagal. Begitu rencana kita diambil alih oleh kebutuhan orang lain, kita menganggap hari itu rusak, waktu yang hilang, bukan waktu yang berarti. Teks ini diam-diam membantah itu. Peristiwa paling penting dalam sejarah justru dimulai dengan seorang pria yang rencananya dipatahkan secara paksa di tengah jalan.
Simon sedang dalam perjalanan dari ladang, mungkin baru tiba di Yerusalem, tidak mengenal Yesus, tidak berniat terlibat apa pun. Kata yang dipakai untuk apa yang terjadi padanya bukan kata untuk relawan. Dia ditangkap, dipaksa. Momen itu bukan dia yang memilih, momen itu yang memilihnya.
Cyrene ada di Afrika Utara, tempat tinggal komunitas Yahudi diaspora yang jauh dari Yerusalem. Artinya Simon kemungkinan besar sedang jauh dari rumah, barangkali datang untuk beribadah, dan tiba-tiba pundaknya dibebani kayu salib milik orang asing yang sedang sekarat.
Itu yang membuat cerita ini terasa dekat dengan hari kerja biasa. Bebanmu hari ini mungkin bukan beban yang kau pilih. Permintaan tolong dari rekan kerja, telepon mendadak, tugas yang bukan bagianmu. Itu bisa terasa seperti gangguan dari pekerjaanmu, padahal kadang itulah pekerjaan yang sesungguhnya sedang diberikan kepadamu.
Hari ini
Ingat satu permintaan tolong hari ini yang terasa mengganggu jadwalmu. Tuliskan nama orang itu di catatan ponselmu, lalu doakan dia dalam satu kalimat singkat sebelum kamu kembali bekerja.
◐ Momen sore
Akan tetapi, ada seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan lewat di situ. Dan, ketika ia melihat orang itu, ia merasa kasihan kepadanya. Lalu, orang Samaria itu mendekatinya, dan membalut luka-lukanya. Ia mengolesinya dengan minyak dan anggur, lalu menaikkan orang itu ke atas keledainya dan membawanya ke sebuah penginapan, lalu merawat orang itu.
Lukas 10:33-34
Punggungmu mungkin sudah mulai pegal sore ini, duduk terlalu lama di tempat yang sama. Berhenti dulu sebentar sebelum membaca lebih jauh.
Jalan dari Yerusalem ke Yeriko dikenal berbahaya, turun curam di antara batu-batu tempat perampok bisa bersembunyi. Imam dan orang Lewi yang lewat punya alasan yang kelihatannya masuk akal untuk tidak berhenti, sebab menyentuh orang yang mungkin sudah mati bisa membuat mereka najis dan tidak bisa menjalankan tugas di Bait Allah. Mereka bukan sekadar dingin hati, mereka taat pada aturan.
Yang sering terlewat dari cerita ini adalah tangan orang Samaria itu sendiri yang membalut luka, minyak dan anggur miliknya yang dituangkan, keledainya yang dipakai sementara ia berjalan kaki, uangnya sendiri yang dibayarkan ke penginapan. Padahal orang Samaria punya alasan sama kuatnya untuk lewat begitu saja, sebab permusuhan antara orang Yahudi dan Samaria sudah berurat akar.
Pertanyaan yang diajukan tidak dijawab seperti yang diharapkan. Yesus tidak menjawab siapa sesamaku, tapi membalikkan arahnya, siapa yang sungguh menjadi sesama bagi orang yang terluka itu. Mungkin yang menampar justru ini, kita tidak selalu ada di posisi penolong. Kadang kita yang tergeletak di pinggir jalan, dan pertolongan datang dari orang yang selama ini kita anggap bukan golongan kita.
Hari ini
Pikirkan satu orang yang selama ini kamu anggap berbeda golongan atau pandangan darimu, lalu kirim satu pesan singkat yang menanyakan kabarnya, tanpa maksud lain selain itu.
☾ Momen sore
“Dia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan, apakah yang dituntut TUHAN darimu, selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan Allahmu?”
Mikha 6:8
Dituntut. Bukan diminta dengan lembut, bukan dianjurkan sebagai pilihan tambahan, melainkan dituntut, seperti dalam ruang sidang. Kata itu lebih keras dari yang biasa kita baca lewat ayat ini.
Mikha menulis di tengah krisis nyata. Umat Israel sedang diseret ke pengadilan oleh Yahweh sendiri, gunung-gunung dan bukit-bukit dipanggil jadi saksi. Mereka sudah mencoba menutup jarak itu dengan ibadah yang makin besar, domba jantan beribu-ribu, minyak berlaksa-laksa, bahkan tawaran mengerikan untuk menyerahkan anak sulung. Semua itu cara untuk membayar lunas, supaya urusan dengan Allah selesai tanpa harus mengubah hidup.
Jawaban yang diberikan justru sederhana dan sudah lama diketahui umat itu, bukan hal baru. Bukan sejumlah persembahan, tapi tiga hal yang dihidupi, berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan berjalan dengan rendah hati bersama Allahmu.
Malam ini, pertanyaan itu tidak datang sebagai tuntutan yang menakutkan, tapi sebagai cermin yang tenang. Bukan soal berapa banyak yang sudah kaukerjakan hari ini, tapi apakah ada keadilan kecil yang kautegakkan, kebaikan yang kautunjukkan, dan langkah yang kauambil dengan rendah hati di hadapan Allah.
Hari ini
Sebelum tidur, tuliskan satu nama orang yang hari ini sebenarnya butuh kebaikanmu, lalu doakan dia dengan satu kalimat singkat sambil menyerahkan harimu kepada Allah.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
36Akan tetapi, mendengar apa yang mereka katakan, Yesus berkata kepada kepala sinagoge itu, “Jangan takut, percaya saja.”
26Ketika para tentara membawa Yesus pergi, mereka juga menahan seseorang, yaitu Simon dari Kirene yang baru datang dari desa. Para tentara meletakkan salib Yesus di pundaknya dan menyuruhnya memikul salib itu di belakang Yesus.
33Akan tetapi, ada seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan lewat di situ. Dan, ketika ia melihat orang itu, ia merasa kasihan kepadanya.
34Lalu, orang Samaria itu mendekatinya, dan membalut luka-lukanya. Ia mengolesinya dengan minyak dan anggur, lalu menaikkan orang itu ke atas keledainya dan membawanya ke sebuah penginapan, lalu merawat orang itu.
8“Dia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan, apakah yang dituntut TUHAN darimu, selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan Allahmu?”
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam