Ketika Mata Kita Terbuka bagi Tuhan
Mata yang terbuka
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Kisah Para Rasul 7:56, Yesaya 6:6-7, Matius 6:30 and Yohanes 20:15.
☀ Momen pagi
Stefanus berkata, “Dengar! Aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
Kisah Para Rasul 7:56
Kalau kamu dipojokkan, naluri yang wajar adalah menunduk, melindungi diri, atau mencari jalan keluar secepatnya. Stefanus justru melakukan hal yang sebaliknya.
Dia berdiri di hadapan Mahkamah Agama, dikepung tuduhan palsu, dan sebentar lagi akan dilempari batu sampai mati. Di tengah kerumunan yang mulai mengepalkan tangan, dia tidak membela diri dengan kata-kata terakhir yang membenarkan dirinya. Dia mengangkat wajahnya ke langit.
Yang dilihatnya luar biasa: Anak Manusia berdiri, bukan duduk, di sebelah kanan Allah. Di ayat-ayat lain, Yesus digambarkan duduk setelah karya-Nya selesai. Tapi di sini Dia berdiri, seolah bangkit dari takhta-Nya untuk menyambut saksi-Nya yang sedang dianiaya. Stefanus tidak sendirian menghadapi maut. Dia sedang disambut.
Hari ini mungkin bukan batu yang mengepungmu, tapi bisa jadi tekanan pekerjaan, kata-kata tajam dari orang lain, atau rasa takut yang datang sebelum kamu sempat berpikir jernih. Pertanyaannya sama seperti yang dihadapi Stefanus: ke mana kamu mengarahkan pandangan saat dunia terasa mengepung? Kamu boleh memilih untuk tidak terus menunduk pada masalah itu sendiri.
Hari ini
Sebelum kamu memeriksa ponsel pagi ini, berdirilah sebentar dekat jendela atau di luar rumah, angkat wajahmu ke langit selama satu menit penuh, lalu ucapkan dengan suara pelan satu hal yang sedang membebanimu, sebagai doa singkat kepada Allah yang melihatmu.
✦ Momen siang
Kemudian, salah satu serafim itu terbang ke arahku dengan membawa batu bara di tangannya, yang telah diambilnya dengan penjepit dari atas mazbah. Dia menyentuh mulutku dengan bara itu dan berkata, “Bara ini telah menyentuh bibirmu, kesalahanmu telah dihapuskan, dosa-dosamu telah diampuni.”
Yesaya 6:6-7
Bara itu masih panas ketika seraf mengambilnya dari mezbah dengan sepit, lalu menyentuhkannya ke bibir Yesaya. Bukan batu, bukan air, tapi api. Sesuatu yang membakar dipakai untuk menyucikan, bukan menghukum.
Sebelum ini, Yesaya baru saja berseru bahwa dirinya binasa, bibirnya najis, ia berdiri di hadapan yang kudus tanpa penutup. Bara dari mezbah itu menjawab bukan dengan teguran, tapi dengan pengampunan. Dosanya diangkat sebelum ia diminta melakukan apa pun.
Baru setelah itu, dalam ruangan takhta yang masih bergetar oleh suara para seraf, Yesaya mendengar sebuah pertanyaan dilemparkan ke seluruh ruangan, tidak ditujukan kepada satu nama. Siapa yang akan diutus, siapa yang mau pergi. Pertanyaan itu mengambang di udara, menunggu, bukan perintah yang menunjuk langsung kepadanya.
Itu yang menarik: pertanyaan itu terbuka bagi siapa saja yang ada di ruangan, dan Yesaya kebetulan ada di sana, dengan bibir yang baru saja disucikan. Ia tidak diperintah. Ia mendengar, dan sesuatu dalam dirinya yang sudah bersih berani menjawab lebih dulu sebelum siapa pun lain sempat bicara.
Mungkin hari ini, di tengah kesibukanmu, ada pertanyaan serupa yang melayang di ruangan tempatmu berada, tidak berteriak namamu, tapi tetap menunggu siapa yang mau menjawab. Kamu tidak harus terburu-buru menjawabnya sekarang. Cukup sadari bahwa kamu ada di ruangan itu juga.
Hari ini
Ambil satu pesan yang belum kau balas sejak pagi ini. Sebelum istirahat makan siangmu selesai, balas pesan itu dengan sesuatu yang nyata kau bisa lakukan, dan mulai kalimatmu dengan kata, aku di sini.
◐ Momen sore
Jadi, jika Allah mendandani sedemikian rupa rumput di padang, yang ada hari ini dan besok dilemparkan ke dalam perapian, bukankah terlebih lagi Dia akan mendandani kamu, hai kamu yang kurang iman?
Matius 6:30
Perhatikan satu hal kecil yang mudah terlewat: rumput itu besok dilempar ke dalam tungku. Bukan dikagumi, bukan dipetik untuk karangan bunga. Dibakar.
Di tanah Israel, kayu bakar langka. Orang memakai rumput kering dan bunga liar yang memenuhi bukit untuk menyalakan tungku roti. Bunga bakung ladang yang dimaksud Yesus bukan tanaman hias yang dirawat, melainkan tumbuhan liar yang mekar sebentar lalu dicabut, dikumpulkan, dan dijadikan bahan bakar harian. Sesuatu yang sepenuhnya biasa, bahkan habis pakai.
Justru benda sesepele itu yang dipakai Yesus untuk bicara tentang kemuliaan. Jika Allah mendandani rumput yang umurnya sehari sampai sedemikian indah, bagaimana mungkin Dia melalaikan orang yang dipanggil-Nya dengan nama, yang bukan bahan bakar, yang kekal?
Tapi ada kata yang menggigit di ujung ayat ini, kamu yang kurang percaya. Bukan tidak percaya sama sekali, hanya kurang. Yesus tidak menuding, Dia menyebut apa adanya. Kekhawatiran sore ini, tentang pekerjaan yang belum selesai, tentang esok yang belum jelas, bukan tanda kamu gagal percaya. Itu justru menunjukkan ukuran percayamu yang sesungguhnya, dan itu boleh diakui tanpa buru-buru diselesaikan.
Hari ini
Keluarlah sebentar sore ini, petik satu helai rumput atau daun kering, genggam di tanganmu, lalu ucapkan satu kekhawatiran yang kamu bawa hari ini dengan suara pelan, dan lepaskan daun itu dari tanganmu.
☾ Momen sore
Yesus bertanya kepadanya, “Perempuan, mengapa kamu menangis? Siapakah yang kamu cari?” Karena mengira Dia adalah penjaga taman, Maria berkata kepada-Nya, “Tuan, jika Tuan telah memindahkan-Nya, beritahulah aku di mana Tuan telah meletakkan-Nya, dan aku akan mengambil-Nya.”
Yohanes 20:15
Apa yang sebenarnya membuatmu menangis malam ini, jika kamu jujur sampai ke dasarnya?
Maria Magdalena berdiri di depan kubur yang kosong, pagi itu masih gelap. Ia sudah kehilangan Yesus sekali di kayu salib, dan sekarang bahkan tubuh-Nya tidak ada. Ia menangis bukan karena tidak percaya, tapi karena cintanya tidak tahu harus ke mana lagi. Dalam kebingungan itu, seseorang bertanya kepadanya, dan ia mengira itu tukang kebun.
Yang bertanya adalah Yesus sendiri, yang sudah bangkit, berdiri tepat di depannya. Tapi Dia tidak langsung berkata, "Ini Aku." Dia bertanya dulu. Dia membiarkan Maria mengatakan dulu apa yang menyesakkan dadanya. Pertanyaan itu tidak menegur air matanya, Dia tidak bilang jangan menangis. Dia masuk ke dalam tangisnya lebih dulu, sebelum menyingkapkan siapa Dia.
Itu yang sering kita lewatkan di penghujung hari seperti ini. Kita buru-buru mencari jawaban, padahal Tuhan dulu ingin mendengar apa yang kita tangisi, sekecil atau serumit apa pun itu. Dia bertanya bukan karena tidak tahu, tapi karena Dia ingin kamu berhenti sejenak dan mengenali sendiri apa yang kamu bawa.
Hari ini
Malam ini, sebelum kamu tidur, ucapkan pelan dengan suara, bukan hanya dalam hati, satu kalimat yang menjawab pertanyaan itu untuk dirimu sendiri: sebutkan satu hal konkret yang membuatmu sedih atau resah hari ini, lalu diam sejenak, seolah Tuhan sedang menunggu jawabanmu.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
56Stefanus berkata, “Dengar! Aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
6Kemudian, salah satu serafim itu terbang ke arahku dengan membawa batu bara di tangannya, yang telah diambilnya dengan penjepit dari atas mazbah.
7Dia menyentuh mulutku dengan bara itu dan berkata, “Bara ini telah menyentuh bibirmu, kesalahanmu telah dihapuskan, dosa-dosamu telah diampuni.”
30Jadi, jika Allah mendandani sedemikian rupa rumput di padang, yang ada hari ini dan besok dilemparkan ke dalam perapian, bukankah terlebih lagi Dia akan mendandani kamu, hai kamu yang kurang iman?
15Yesus bertanya kepadanya, “Perempuan, mengapa kamu menangis? Siapakah yang kamu cari?” Karena mengira Dia adalah penjaga taman, Maria berkata kepada-Nya, “Tuan, jika Tuan telah memindahkan-Nya, beritahulah aku di mana Tuan telah meletakkan-Nya, dan aku akan mengambil-Nya.”
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam