Terang dan penghiburan di malam gelap
Terang dalam kegelapan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Kisah Para Rasul 4:36, Kisah Para Rasul 2:3-4, Keluaran 27:20 and Markus 14:32.
☀ Momen pagi
Begitu juga Yusuf, orang Lewi, keturunan Siprus, yang juga dipanggil oleh para rasul, Barnabas, yang berarti ‘anak penghiburan’,
Kisah Para Rasul 4:36
Seorang pria baru saja tiba dari Siprus, debu pelabuhan masih menempel di sandalnya, dan ketika ia berdiri di tengah jemaat yang berkumpul, orang-orang tidak lagi memanggilnya Yusuf. Nama itu diganti. Yang terdengar sekarang adalah Barnabas.
Ini bukan nama yang ia pilih sendiri. Para rasul yang memberikannya, dan artinya jelas: anak penghiburan, anak yang membawa semangat. Dalam bahasa aslinya, kata itu berasal dari akar yang berarti memanggil seseorang untuk berdiri di sampingmu, menguatkan hati yang lemah. Bukan nama sembarangan yang diberikan pada orang sembarangan.
Nama seperti itu diberikan karena ada yang dilihat orang lain pada dirinya, bukan karena ia mengaku-aku sendiri. Seorang Lewi dari Siprus, yang baru dikenal jemaat, ternyata menjadi orang yang kehadirannya membuat orang lain bernapas lega. Itu bukan gelar yang bisa dipakai siapa saja. Itu harus dilihat dulu, lalu diberikan.
Minggu ini jemaat berkumpul lagi, duduk berdampingan, menyanyi bersama, saling menyapa. Di antara orang-orang itu selalu ada yang datang dengan beban yang tidak terlihat. Kata yang tepat, diucapkan pada saat yang tepat, bisa menjadi nama baru bagi hari mereka, meski hanya untuk sementara.
Hari ini
Pikirkan satu orang dalam jemaatmu yang jarang mendengar kata baik tentang dirinya. Kirim pesan singkat hari ini, sebutkan satu hal konkret yang kamu lihat baik dalam dirinya, dan kirimkan sebelum hari ini berakhir.
✦ Momen siang
Dan, tampak kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di atas mereka masing-masing. Maka, mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam berbagai bahasa, seperti yang diberikan Roh Kudus untuk mereka ucapkan.
Kisah Para Rasul 2:3-4
Dibagi-bagikan. Kata ini mudah terlewat di antara gambar api yang dramatis. Tapi coba perhatikan baik-baik: api itu tidak turun sebagai satu nyala besar yang menguasai seluruh ruangan dan membakar satu pemimpin saja. Api itu terbagi, dan hinggap di atas setiap orang yang ada di sana, satu per satu.
Sebelum momen ini, yang ada hanyalah sekumpulan orang yang menunggu di satu ruangan. Mereka sudah mendengar janji, tapi belum tahu bentuknya seperti apa. Tidak ada yang istimewa dari ruangan itu selain orang-orang yang berkumpul dan menunggu bersama.
Lalu semuanya berubah dalam hitungan detik. Bunyi seperti angin keras, lidah-lidah seperti api, dan setiap orang mulai berbicara dalam bahasa yang bukan bahasa mereka sendiri. Roh Kudus tidak memilih satu wakil untuk mewakili yang lain. Ia memenuhi setiap orang secara pribadi, di tempat yang sama, pada saat yang sama.
Dari ruangan kecil itu, sesuatu yang besar mulai bergerak. Orang-orang dari banyak bangsa mendengar kabar tentang Allah dalam bahasa mereka sendiri. Batas bahasa yang biasanya memisahkan justru menjadi jalan bagi kabar baik untuk sampai ke lebih banyak telinga.
Hari ini kita juga berkumpul dalam satu ruangan, mungkin bukan untuk menunggu api, tapi untuk menyembah bersama. Yang sering dilupakan: Roh yang sama itu tidak hanya bekerja lewat yang berdiri di depan, tapi hinggap di atas setiap orang yang hadir, termasuk yang duduk diam di bangku paling belakang.
Hari ini
Saat kamu berada di tengah ibadah hari ini, cari satu orang yang jarang kamu ajak bicara, dan katakan langsung kepadanya apa yang kamu syukuri darinya sebelum kamu pulang.
◐ Momen sore
“Kamu harus memerintahkan kepada keturunan Israel untuk membawa minyak zaitun tumbuk yang murni kepadamu untuk penerangan agar pelita terus-menerus menyala.
Keluaran 27:20
Kita menganggap terang itu otomatis. Tekan saklar, ruangan jadi benderang, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Tapi di Kemah Suci, terang tidak pernah otomatis. Ada minyak zaitun murni yang harus ditumbuk, bukan diperas kasar, supaya bersih dari ampas yang bisa membuat sumbu berasap dan padam. Ada tangan yang harus membawanya, malam demi malam, supaya pelita di depan tabut itu tidak pernah gelap dari petang sampai pagi.
Ini bukan mujizat yang terjadi sekali lalu selesai. Ini pekerjaan yang diulang setiap malam, oleh orang biasa yang menumbuk minyak, dan imam yang menjaga sumbunya tetap menyala. Firman menyebutnya ketetapan untuk selama-lamanya, bukan karena indah didengar, tapi karena itu kerja yang tidak boleh berhenti.
Ada yang mengganjal di sini. Kalau terang itu melambangkan hadirat Allah, mengapa harus ditopang oleh tangan manusia yang bisa lupa, bisa lelah, bisa kehabisan minyak? Teks ini tidak buru-buru menjawabnya. Ia hanya menunjukkan bahwa kesetiaan sering berbentuk rutinitas kecil yang tidak terlihat, bukan nyala besar yang sekali terjadi.
Hari ini, hari Tuhan, banyak terang menyala di gereja karena ada yang menumbuk minyaknya diam-diam sepanjang minggu, tanpa pernah berdiri di depan.
Hari ini
Nyalakan satu lilin selama beberapa menit sore ini, dan selagi ia menyala, doakan satu orang di gerejamu yang biasa melayani tanpa pernah disebut namanya.
☾ Momen sore
Kemudian, mereka pergi ke suatu tempat yang bernama Getsemani, dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Duduklah di sini sementara Aku berdoa.”
Markus 14:32
Markus menyebutnya sebelum apa pun terjadi: 'tempat yang bernama Getsemani.' Nama itu muncul dulu, baru kemudian Yesus duduk, berdoa, bergumul. Urutan kecil ini mudah dilewati, padahal nama itu sendiri sudah menyimpan apa yang akan terjadi di sana.
Getsemani berasal dari kata yang berarti 'pemerasan minyak'. Di lereng Bukit Zaitun, tempat itu memang dipakai untuk memeras buah zaitun menjadi minyak. Batu besar diletakkan di atas tumpukan zaitun, memberi tekanan sampai minyak keluar tetes demi tetes.
Minyak zaitun dipakai untuk menyalakan pelita, mengobati luka, dan mengurapi imam serta raja. Tetapi minyak itu tidak pernah keluar tanpa tekanan. Zaitun harus dihimpit lebih dulu, baru menghasilkan sesuatu yang bisa menerangi dan menyembuhkan.
Yesus masuk ke tempat yang namanya sendiri sudah berbicara tentang beban berat yang menekan sampai sesuatu keluar. Dia tidak menghindari tempat itu. Dia berjalan ke sana, duduk di sana, membiarkan diri-Nya ditekan oleh dukacita yang sebentar lagi akan Dia pikul sendirian demi orang lain.
Hari ini, setelah ibadah dan menjelang malam menutup hari Minggu ini, ingatlah bahwa Tuhan tidak takut pada tempat-tempat yang menghimpit. Dia pernah berdiri di salah satunya, dan justru dari sana mengalir sesuatu yang menerangi dan menyembuhkan banyak orang.
Hari ini
Ambil waktu sepuluh menit sebelum tidur. Tuliskan di secarik kertas satu hal yang terasa menghimpit hari ini, lalu ucapkan dengan suara pelan, 'Tuhan, aku serahkan ini kepada-Mu malam ini.'
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
36Begitu juga Yusuf, orang Lewi, keturunan Siprus, yang juga dipanggil oleh para rasul, Barnabas, yang berarti ‘anak penghiburan’,
3Dan, tampak kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di atas mereka masing-masing.
4Maka, mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam berbagai bahasa, seperti yang diberikan Roh Kudus untuk mereka ucapkan.
20“Kamu harus memerintahkan kepada keturunan Israel untuk membawa minyak zaitun tumbuk yang murni kepadamu untuk penerangan agar pelita terus-menerus menyala.
32Kemudian, mereka pergi ke suatu tempat yang bernama Getsemani, dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Duduklah di sini sementara Aku berdoa.”
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam