Iman yang berpegang pada janji
Iman dan janji-Nya
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Yeremia 31:33, Matius 8:8, Yosua 2:18 and Yosua 14:12.
☀ Momen pagi
“Akan tetapi, inilah perjanjian yang akan Aku buat dengan keluarga Israel setelah hari-hari itu,” firman TUHAN, “Aku akan meletakkan Taurat-Ku dalam batin mereka, dan menuliskannya pada hati mereka; Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi jemaat-Ku.
Yeremia 31:33
Bagian terdalam. Bukan otak yang menghafal, bukan daftar aturan yang ditempel di dinding, tapi tempat paling dalam dalam dirimu, tempat kamu benar-benar jujur dengan dirimu sendiri sebelum jam enam pagi pun dimulai. Di situlah Yahweh berjanji menulis.
Kata ini diucapkan kepada umat yang kehilangan segalanya. Yerusalem akan jatuh, bait Allah akan runtuh, loh batu Sinai jauh di masa lalu dan rasanya tidak berdaya menahan mereka tetap setia. Aturan dari luar sudah terbukti tidak cukup. Maka Yahweh tidak memberi loh baru, Dia menjanjikan sesuatu yang lebih radikal, menulis langsung ke dalam hati yang retak itu.
Itu bukan janji bahwa hidup jadi mudah. Itu janji bahwa yang Tuhan minta tidak lagi terasa asing, dipaksakan dari luar seperti beban tambahan di pagi yang sudah berat. Perlahan, itu menjadi bagian darimu sendiri.
Hari ini, saat kamu masuk ke rutinitas, rapat, pekerjaan yang menumpuk, ingat bahwa kesetiaan yang Tuhan minta bukan topeng yang harus kamu pakai dari luar. Dia sedang menulis sesuatu yang lebih dalam dari jadwalmu.
Hari ini
Ambil secarik kertas kecil pagi ini. Tuliskan satu hal konkret yang Tuhan minta darimu hari ini, sabar pada rekan kerja yang menyebalkan, atau jujur dalam satu laporan kecil, lalu simpan di saku bajumu sepanjang hari sebagai pengingat bahwa itu sudah tertulis di hatimu, bukan sekadar aturan dari luar.
✦ Momen siang
Akan tetapi, perwira itu menjawab dan berkata, “Tuan, aku tidak layak untuk menerima Engkau masuk ke bawah atapku, tetapi katakanlah sepatah kata saja dan hambaku akan disembuhkan.
Matius 8:8
Ia berhenti di ambang pintu, tidak melangkah masuk. Seorang perwira Romawi, orang yang biasa memerintah seratus prajurit, justru menahan diri di depan rumahnya sendiri. Itu aneh. Orang dengan pangkat seperti dia biasanya tidak perlu menunggu izin siapa pun.
Tapi di situlah letak kekuatannya. Seorang perwira tahu persis bagaimana otoritas bekerja: ia berkata kepada satu prajurit, pergi, dan prajurit itu pergi. Ia tidak perlu menyeret orang itu sendiri. Kata saja cukup, asalkan keluar dari mulut yang berhak mengucapkannya. Maka ketika ia berhadapan dengan Yesus, ia tidak minta Yesus datang dan menyentuh. Ia minta satu kata saja.
Yang berubah di situ bukan hambanya dulu, tapi dia sendiri. Seorang yang terbiasa memberi perintah, memilih berdiri sebagai orang yang tidak layak. Kekuasaannya tidak membuatnya menuntut, justru membuatnya tahu di hadapan siapa ia sedang berdiri.
Hari ini kau mungkin juga sedang memberi instruksi, mengirim pesan kerja, menunggu kabar dari atasan atau klien. Kau terbiasa dengan rantai perintah. Tapi coba tanya, pada siapa kau sebenarnya percaya kata-katanya cukup, tanpa kau harus mengawasi sendiri setiap langkahnya.
Hari ini
Kirim satu pesan kerja atau permintaan yang sudah lama kau tunda karena ingin mengawasinya sendiri. Setelah terkirim, letakkan ponselmu, dan tahan diri untuk tidak mengeceknya selama sepuluh menit penuh.
◐ Momen sore
asal ketika kami kembali ke daerah ini, kamu mengikat tali merah pada jendela tempat kamu menurunkan kami. Bawalah ayahmu, ibumu, saudara-saudaramu, dan seluruh keluargamu ke dalam rumahmu.
Yosua 2:18
Ada satu detail kecil dalam perintah ini yang gampang terlewat: jendela itu disebut 'jendela yang kamu pakai menurunkan kami'. Bukan jendela sembarangan. Tali merah itu nanti diikatkan persis di lubang yang sama, tempat Rahab menurunkan dua orang asing itu dengan seutas tali, supaya mereka lolos dari kejaran orang-orang raja Yerikho. Jendela pelarian itu kelak menjadi jendela penyelamatan.
Rahab bukan siapa-siapa menurut ukuran Yerikho, seorang perempuan dengan reputasi buruk, rumahnya menempel pada tembok kota, bukan di pusatnya. Tapi dialah yang mendengar kabar tentang Allah Israel, yang membelah laut dan mengalahkan raja-raja di seberang sungai, lalu memilih berpihak pada bangsa yang belum menang apa-apa. Dia mempertaruhkan rumah, keluarga, dan nyawanya sendiri atas dasar kata dua orang asing.
Tali merah itu bukan jimat yang bekerja sendiri. Itu tanda dari perjanjian yang sudah diucapkan lebih dulu, dipegang Rahab seolah sudah pasti, padahal kota itu belum dikepung, belum ada satu pun tanda keruntuhan di langit Yerikho hari itu.
Mungkin begitu cara iman bekerja, bukan sesudah bukti datang, tapi sebelum, saat semuanya masih diam dan biasa saja, saat satu-satunya yang kaupegang hanyalah kata yang pernah diucapkan kepadamu.
Hari ini
Ambil seutas tali atau pita merah hari ini, ikatkan pada pegangan jendela atau pintu rumahmu, sebagai tanda nyata bahwa kamu memegang satu janji Tuhan yang belum lagi terlihat buktinya, lalu biarkan tergantung di sana sampai malam ini.
☾ Momen sore
Karena itu, berikanlah pegunungan yang difirmankan TUHAN pada waktu itu kepadaku, sebab engkau sendiri mendengar saat itu bahwa orang Enak berada di sana dengan kota-kota besar yang memiliki kubu. Sekiranya TUHAN menyertai aku sehingga aku akan mencerai-beraikan mereka, seperti yang TUHAN firmankan.”
Yosua 14:12
Delapan puluh lima tahun biasanya diisi dengan duduk tenang di depan pintu, menonton cucu bermain di halaman. Tapi bayangkan Kaleb berdiri di hadapan Yosua, punggungnya masih tegak, suaranya masih mantap, dan ia tidak meminta tanah yang landai dan mudah. Ia menunjuk ke pegunungan, ke kota-kota berbenteng yang masih dihuni orang Enak, kaum raksasa yang dahulu membuat sepuluh pengintai lain pulang dengan lutut gemetar.
Empat puluh lima tahun telah berlalu sejak hari itu di padang gurun, ketika Kaleb termasuk segelintir orang yang percaya tanah itu bisa direbut. Selama itu ia menyaksikan satu generasi mati karena ketakutan mereka sendiri, sementara ia diam-diam menyimpan janji Yahweh di dalam hati, bertahun-tahun, tanpa tahu kapan janji itu akan ditagih.
Malam ini, saat tubuh lelah dan hari sudah selesai, kisah Kaleb bukan tentang kekuatan fisik yang luar biasa. Ia tentang ingatan yang tidak pernah layu, tentang seseorang yang terus memegang janji-Nya melewati empat puluh lima tahun penantian dan kehilangan. Permintaannya bukan permintaan orang yang ingin beristirahat di usia tua, tapi permintaan orang yang yakin Yahweh yang menyertainya dahulu masih menyertainya sekarang, bahkan di pegunungan yang paling sulit sekalipun.
Hari ini
Sebelum tidur malam ini, ingatlah satu janji Tuhan yang sudah lama kau pegang tapi mulai terasa pudar karena terlalu lama belum digenapi. Ucapkan janji itu dengan suara pelan, sebagai doa penutup hari ini.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
33“Akan tetapi, inilah perjanjian yang akan Aku buat dengan keluarga Israel setelah hari-hari itu,” firman TUHAN, “Aku akan meletakkan Taurat-Ku dalam batin mereka, dan menuliskannya pada hati mereka; Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi jemaat-Ku.
8Akan tetapi, perwira itu menjawab dan berkata, “Tuan, aku tidak layak untuk menerima Engkau masuk ke bawah atapku, tetapi katakanlah sepatah kata saja dan hambaku akan disembuhkan.
18asal ketika kami kembali ke daerah ini, kamu mengikat tali merah pada jendela tempat kamu menurunkan kami. Bawalah ayahmu, ibumu, saudara-saudaramu, dan seluruh keluargamu ke dalam rumahmu.
12Karena itu, berikanlah pegunungan yang difirmankan TUHAN pada waktu itu kepadaku, sebab engkau sendiri mendengar saat itu bahwa orang Enak berada di sana dengan kota-kota besar yang memiliki kubu. Sekiranya TUHAN menyertai aku sehingga aku akan mencerai-beraikan mereka, seperti yang TUHAN firmankan.”
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam