Ketika Tuhan membuka hati kita
Hati yang terbuka
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Mazmur 121:1-2, Kisah Para Rasul 16:14, Matius 18:32-33 and Yohanes 18:37-38.
☀ Momen pagi
Nyanyian Ziarah. Aku mengangkat mataku ke bukit-bukit, dari mana pertolonganku datang? Pertolonganku datang dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
Mazmur 121:1-2
Pukul 6.45, kamu berdiri di depan pintu dengan kunci motor di tangan, pikiran sudah melesat ke rapat jam delapan yang belum kamu siapkan, ke anak yang masih mencari sepatu, ke pesan kerja yang belum sempat kamu balas semalam. Hari belum dimulai, tapi beban sudah terasa penuh.
Mazmur 121 adalah salah satu dari Mazmur Ziarah, nyanyian yang dinaikkan orang Israel ketika mereka berjalan ke Yerusalem untuk hari-hari raya. Jalan itu melewati pegunungan Yudea, curam dan sunyi, tempat perampok kerap bersembunyi. Ketika pemazmur berkata "aku melayangkan mataku ke gunung-gunung", itu bukan sekadar pemandangan indah, melainkan tatapan waspada akan kemungkinan bahaya. Dari situlah pertanyaannya jujur: dari manakah akan datang pertolonganku?
Yang membuat nyanyian ini kuat bukan karena pemazmur sudah tenang dari awal, tapi karena ia bergerak dari pertanyaan menuju jawaban yang pasti. Pertolongan bukan dari kekuatan kaki sendiri yang menapaki jalan berbatu, melainkan dari Dia yang menciptakan langit dan bumi, jauh lebih besar dari gunung mana pun yang harus dilewati.
Pagi ini jalanmu mungkin bukan jalur pegunungan Yudea, tapi tetap ada tanjakan yang harus didaki, tenggat kerja, percakapan sulit, kekhawatiran yang belum ketemu jawabannya. Nyanyian ziarah ini memberimu kata-kata untuk mengarahkan mata bukan ke masalah, tapi ke sumber pertolongan itu sendiri.
Hari ini
Sebelum kamu melangkah keluar pintu hari ini, berhenti sejenak di ambang pintu dan ucapkan dengan suara pelan, "pertolonganku dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi." Lakukan ini sebelum tanganmu menyentuh gagang pintu.
✦ Momen siang
Seorang wanita bernama Lidia, dari kota Tiatira, seorang penjual kain ungu yang menyembah Allah. Tuhan membuka hatinya untuk memperhatikan apa yang Paulus katakan.
Kisah Para Rasul 16:14
Perubahan besar dalam hidup biasanya dianggap butuh momen dramatis, suara dari langit, atau krisis yang mengguncang. Kisah Lydia diam-diam membantah itu. Ia seorang pedagang kain ungu, orang yang sibuk dengan timbangan dan harga, yang hari itu sekadar pergi ke tempat biasa berdoa di tepi sungai. Tidak ada tanda ajaib. Hanya Paulus yang duduk dan berbicara kepada beberapa perempuan yang berkumpul di sana.
Kain ungu bukan barang sembarangan. Mewarnainya mahal, memakainya tanda status tinggi. Lydia menjalankan usaha yang menuntut relasi dengan orang-orang berpengaruh, pekerjaan yang sibuk dan penuh kalkulasi. Namun di tengah rutinitas dagangnya itu, Tuhan membuka hatinya, bukan di bait suci yang megah, tapi di pinggir sungai, di sela hari kerja yang biasa.
Yang berubah bukan pekerjaannya. Ia tetap menjual kain ungu. Yang berubah adalah apa yang ia dengar mulai punya tempat untuk masuk. Itulah yang mengubah segalanya, bukan situasi yang berubah, tapi hati yang dibuka untuk benar-benar mendengar.
Hari ini, di tengah jadwal yang padat, mungkin tidak ada sungai yang tenang untuk didatangi. Tapi ada jeda makan siang ini. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan akan berbicara lewat sesuatu yang spektakuler, tapi apakah hati ini terbuka untuk mendengar yang biasa saja.
Hari ini
Ambil lima menit sekarang, matikan notifikasi, dan baca ulang satu ayat yang pernah menegurmu minggu ini. Dengarkan seolah untuk pertama kali, seperti Lydia di tepi sungai.
◐ Momen sore
Kemudian, tuannya memanggil hamba yang pertama itu dan berkata kepadanya, ‘Kamu hamba yang jahat. Aku mengampuni semua utangmu karena kamu memohon kepadaku. Bukankah kamu seharusnya memiliki belas kasihan kepada hamba sesamamu, seperti aku juga telah menunjukkan belas kasihan kepadamu?’
Matius 18:32-33
Angka itu masih berputar di kepala, lama setelah percakapan selesai. Tujuh kali, delapan kali, entah berapa lagi.
Petrus yang bertanya kepada Yesus, dan dia sudah merasa dirinya murah hati. Para rabi pada masa itu mengajarkan bahwa mengampuni tiga kali sudah cukup, sudah melampaui kewajiban. Maka ketika Petrus menawarkan tujuh kali, dia sedang menggandakan ukuran kebaikan itu dengan telak, lalu menambahkan satu lagi sebagai bonus.
Yesus tidak memujinya. Jawaban yang datang meledakkan hitungan itu sampai tidak bisa dipakai lagi. Lalu Dia bercerita tentang seorang raja, seorang hamba dengan utang yang tidak mungkin dilunasi seumur hidup, dan pengampunan penuh yang diberikan begitu saja. Hamba yang sama kemudian mencekik rekannya karena utang receh.
Di situlah teks ini menampar. Bukan karena hitungan Petrus kurang besar, tapi karena pertanyaannya sendiri salah arah. Selama kau masih menghitung, kau masih menyimpan buku utang. Dan raja dalam cerita itu bertanya kembali, bukankah seharusnya kau juga berbelas kasihan, sama seperti aku berbelas kasihan kepadamu.
Ini tidak mudah didengar di tengah hari yang sudah lelah, ketika daftar kesalahan orang lain terasa lebih nyata daripada daftar ampunan yang pernah kau terima sendiri. Biarkan itu tinggal dulu, tidak semua pertanyaan minta diselesaikan sekarang juga.
Hari ini
Ambil kertas kecil sekarang. Tuliskan satu nama yang masih kau hitung utangnya, lalu coret angka itu dan tulis satu kata di sampingnya: lunas.
☾ Momen sore
Pilatus berkata, “Jadi, Engkau seorang raja?” Yesus menjawab, “Engkaulah yang mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk inilah Aku lahir, dan untuk inilah Aku datang ke dunia, yaitu untuk bersaksi tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengarkan suara-Ku.” Pilatus berkata kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu?” Dan, setelah berkata demikian, Pilatus keluar lagi menemui orang-orang Yahudi, dan berkata kepada mereka, “Aku tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya.
Yohanes 18:37-38
Suara. Satu kata kecil di tengah kalimat besar, dan mudah terlewat begitu saja. Yesus tidak berkata, 'Setiap orang yang benar memahami kebenaran,' tetapi 'mendengar suara-Ku.' Kebenaran, bagi Yesus, bukan dulu sebuah rumus yang bisa dihafal, melainkan sebuah suara yang bisa dikenali, seperti domba mengenali suara gembalanya.
Ini terjadi di ruang pengadilan Pilatus, larut malam atau dini hari, setelah penangkapan yang tergesa, setelah para pemimpin agama menyeret Yesus dari satu tempat ke tempat lain. Pilatus, wakil kekaisaran Roma, orang yang biasa memutuskan hidup mati dengan satu kata, berhadapan dengan seorang tahanan yang justru balik berbicara tentang kebenaran dan kerajaan yang bukan dari dunia ini.
Lalu pertanyaan itu keluar, 'Apakah kebenaran itu?' Tetapi Yohanes mencatat sesuatu yang menyayat, Pilatus tidak menunggu jawaban. Ia langsung keluar lagi menemui orang banyak. Kebenaran berdiri tepat di depannya, bernapas, menatapnya, dan ia melangkah pergi sebelum jawaban itu sempat mendarat di hatinya.
Malam ini, setelah seharian kita menyerap begitu banyak kata, berita, pendapat, dan penilaian orang tentang diri kita sendiri, pertanyaan Pilatus itu bisa jadi pertanyaan kita juga. Bukan karena kita tidak tahu banyak hal, tetapi karena begitu banyak suara bersaing untuk didengar. Yesus menawarkan sesuatu yang lebih tenang dari sekadar informasi yang benar, Ia menawarkan diri-Nya sendiri untuk didengarkan.
Hari ini
Sebelum engkau memejamkan mata malam ini, ucapkan dengan suara pelan satu kalimat yang hari ini kamu dengar atau katakan tentang dirimu sendiri namun kamu tahu itu tidak sepenuhnya benar, lalu lanjutkan dengan berkata, 'Yesus, aku mau mendengar suara-Mu malam ini.'
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
1Nyanyian Ziarah. Aku mengangkat mataku ke bukit-bukit, dari mana pertolonganku datang?
2Pertolonganku datang dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
14Seorang wanita bernama Lidia, dari kota Tiatira, seorang penjual kain ungu yang menyembah Allah. Tuhan membuka hatinya untuk memperhatikan apa yang Paulus katakan.
32Kemudian, tuannya memanggil hamba yang pertama itu dan berkata kepadanya, ‘Kamu hamba yang jahat. Aku mengampuni semua utangmu karena kamu memohon kepadaku.
33Bukankah kamu seharusnya memiliki belas kasihan kepada hamba sesamamu, seperti aku juga telah menunjukkan belas kasihan kepadamu?’
37Pilatus berkata, “Jadi, Engkau seorang raja?” Yesus menjawab, “Engkaulah yang mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk inilah Aku lahir, dan untuk inilah Aku datang ke dunia, yaitu untuk bersaksi tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengarkan suara-Ku.”
38Pilatus berkata kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu?” Dan, setelah berkata demikian, Pilatus keluar lagi menemui orang-orang Yahudi, dan berkata kepada mereka, “Aku tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam