Elkana, Suami Hana dan Ayah Samuel
Siapa Elkana
Elkana adalah anak Yeroham, seorang laki-laki yang hidup pada masa kerajaan bersatu, sekitar 1095 SM sampai 975 SM (era menurut kronologi Ussher (1650)). Namanya tercatat dalam sepuluh ayat saja, tersebar dalam tiga perikop: delapan kali dalam 1 Samuel dan dua kali dalam 1 Tawarikh. Ayat pertama yang menyebutnya memperkenalkan dia begini: "Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, Pegunungan Efraim, bernama Elkana, anak Yeroham, anak Elihu, anak Tohu, anak Zuf, seorang Efraim" (1 Samuel 1:1). Dia adalah suami Hana dan Penina, dan ayah Samuel.
Tiga daftar leluhur yang tidak sama
Elkana muncul dua kali dalam silsilah di 1 Tawarikh 6. Yang pertama: "Anak Nahat adalah Eliab, anak Eliab adalah Yeroham, dan anak Yeroham adalah Elkana" (1 Tawarikh 6:27). Yang kedua disusun dalam arah terbalik: "anak Elkana, anak Yeroham, anak Eliel, anak Toah," (1 Tawarikh 6:34).
Pembaca yang teliti akan segera melihat bahwa nama-nama leluhur di atas Yeroham tidak dieja sama di ketiga tempat. 1 Samuel 1:1 menyebut Elihu, Tohu dan Zuf; 1 Tawarikh 6:27 menyebut Eliab dan Nahat; 1 Tawarikh 6:34 menyebut Eliel dan Toah. Yang tetap sama di ketiga daftar hanya satu hal: Elkana adalah anak Yeroham. Daftar-daftar itu sendiri tidak menjelaskan perbedaannya kepada kita, dan dosir ini pun tidak memberi keterangan lebih jauh. Perlu dicatat juga bahwa 1 Samuel 1:1 menyebut dia "seorang Efraim", sementara namanya tetap berdiri di dalam rangkaian silsilah 1 Tawarikh 6:27 dan 1 Tawarikh 6:34.
Sepuluh ayat tanpa satu adegan
Ini yang paling jujur dikatakan tentang Elkana: tidak ada satu adegan pun yang diceritakan tentang dirinya sendiri. Setiap penyebutan adalah daftar, silsilah, atau catatan sepintas di dalam kisah orang lain. Dia hadir di tepi cerita Hana dan Samuel, bukan di tengahnya.
Penyebutan pertama yang bersifat cerita menyangkut pembagian kurban: "Pada hari Elkana mempersembahkan kurban, dia memberikan bagian-bagian kepada Penina, istrinya, dan semua anak laki-laki dan perempuannya" (1 Samuel 1:4). Satu kalimat, lalu sorotan berpindah ke orang lain.
Kalimat terpanjang yang pernah diucapkannya adalah rangkaian pertanyaan kepada istrinya yang sedang menangis: "Elkana, suaminya, berkata kepadanya, 'Hana, mengapa kamu menangis? Mengapa kamu tidak makan? Mengapa hatimu bersedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?'" (1 Samuel 1:8).
Kemudian ayat yang menutup bagian itu: "Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi, lalu beribadah di hadapan TUHAN. Kemudian, mereka pulang ke rumah mereka di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, istrinya, Tuhan mengingatnya" (1 Samuel 1:19). Perhatikan ke mana kalimat itu bermuara. Elkana melakukan sesuatu, tetapi yang menentukan arah seluruh kisah adalah bahwa TUHAN mengingat Hana.
Empat penyebutan selebihnya terdapat dalam 1 Samuel 1:21, 1 Samuel 1:23, 1 Samuel 2:11 dan 1 Samuel 2:20. Teks ayat-ayat itu tidak dikutip dalam dosir ini, jadi saya menyebutnya sebagai rujukan saja, tanpa menceritakan ulang isinya.
Yang tidak rapi dalam rumahnya
Dosir ini tidak mencatat satu dosa pun yang secara tegas dituduhkan kepada Elkana. Tetapi teksnya tidak menyembunyikan dua hal yang tidak nyaman.
Yang pertama: dia hidup dengan dua istri. Penina disebut "istrinya" dalam 1 Samuel 1:4, dan Hana disebut "istrinya" dalam 1 Samuel 1:19. Penina mempunyai anak laki-laki dan perempuan yang menerima bagian kurban (1 Samuel 1:4); Hana menangis dan tidak mau makan (1 Samuel 1:8). Rumah tangga itu terbelah di antara dua perempuan, dan Elkana adalah orang yang membangunnya demikian.
Yang kedua: perhatikan arah pertanyaannya. "Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?" (1 Samuel 1:8). Itu pertanyaan seorang suami yang ingin menghibur, tetapi ukuran yang dipakainya adalah dirinya sendiri. Dalam ayat itu Hana tidak menjawab apa pun. Penghiburan yang sungguh menjawab kesedihan Hana datang dari tempat lain, dan teks menyebutnya tanpa ragu: Tuhan mengingatnya (1 Samuel 1:19).
Yang tidak kita ketahui
Kita tidak tahu kapan Elkana lahir dan kapan dia mati. Kita tidak tahu bagaimana dia memandang nazar istrinya, sebab tidak ada satu adegan pun yang berdiri sendiri tentang dirinya. Kita tidak tahu mengapa daftar leluhurnya dieja berbeda di 1 Samuel 1:1, 1 Tawarikh 6:27 dan 1 Tawarikh 6:34. Kita tidak tahu bagaimana sisa hidupnya berjalan sesudah 1 Samuel 2:20, ayat terakhir yang menyebut namanya. Semua itu ruang kosong dalam teks, dan ruang kosong lebih baik dibiarkan kosong daripada diisi tebakan.
Tidak ada rujukan di luar dua kitab ini
Dosir ini tidak mencantumkan satu pun rujukan di luar 1 Samuel dan 1 Tawarikh. Karena itu tidak ada garis yang boleh saya tarik dari nama Elkana ke mana pun selain ke sepuluh ayat yang memuatnya. Dia tetap seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim (1 Samuel 1:1), anak Yeroham (1 Tawarikh 6:27), suami yang bertanya dan tidak mendapat jawaban (1 Samuel 1:8), dan ayah dari anak yang lahir setelah Tuhan mengingat ibunya (1 Samuel 1:19). Sepuluh ayat, dan namanya tetap tercatat.
