Pilatus: Hakim yang Tidak Menemukan Kesalahan pada Yesus
Siapa Pilatus dan kapan ia hidup
Pilatus adalah seorang penguasa. Menurut era kronologi Ussher (1650), masanya adalah sekitar 4 SM sampai M 33. Namanya muncul dalam 53 ayat yang tersebar dalam sebelas perikop: paling banyak dalam John (19 ayat), lalu Luke (12), Mark (10), Matthew (8), Acts (3), dan satu ayat dalam 1 Timothy. Penyebutan pertama ada di Matthew 27:2, yang terakhir dalam 1 Timothy. Perlu dicatat sejak awal bahwa hampir seluruh kemunculannya terikat pada satu peristiwa, yaitu pengadilan dan penguburan Yesus. Banyak di antaranya hanya berupa penyebutan satu ayat tanpa adegan (Luke 3:1; Luke 13:1; Matthew 27:58; Matthew 27:62; Matthew 27:65). Kita tidak diberi riwayat hidupnya, hanya jam yang paling menentukan dalam hidupnya.
Yesus diserahkan kepadanya
Adegan pertama yang jelas adalah penyerahan Yesus ke tangannya. "Pagi-pagi sekali, imam-imam kepala mengadakan perundingan dengan para tua-tua, dan ahli-ahli Taurat, serta seluruh Majelis Besar. Mereka mengikat Yesus, membawa-Nya pergi, dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus. Pilatus bertanya kepada Yesus, 'Apakah Engkau Raja orang Yahudi?' Dia menjawab, 'Engkau telah mengatakannya.'" (Mark 15:1-2). Pertanyaan yang sama dicatat di tempat lain: "Pilatus bertanya kepada Yesus, 'Apakah Engkau Raja orang Yahudi?' Yesus menjawab, 'Itu yang kamu katakan.'" (Luke 23:3).
Hal pertama yang keluar dari mulut Pilatus tentang Yesus adalah pertanyaan tentang kerajaan. Hal kedua adalah sebuah putusan. "Kemudian, Pilatus berkata kepada imam-imam kepala dan orang banyak, 'Aku tidak menemukan kesalahan pada Orang ini.'" (Luke 23:4). Awal perkara itu juga dicatat dalam Luke 23:1 dan John 18:29.
Pertanyaan tentang kebenaran
Percakapan itu dibawa lebih dekat lagi: "Pilatus berkata, 'Jadi, Engkau seorang raja?' Yesus menjawab, 'Engkaulah yang mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk inilah Aku lahir, dan untuk inilah Aku datang ke dunia, yaitu untuk bersaksi tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengarkan suara-Ku.' Pilatus berkata kepada-Nya, 'Apakah kebenaran itu?' Dan, setelah berkata demikian, Pilatus keluar lagi menemui orang-orang Yahudi, dan berkata kepada mereka, 'Aku tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya'" (John 18:37-38).
Perhatikan urutannya. Ia bertanya tentang kebenaran, lalu keluar tanpa menunggu jawaban. Pertanyaannya sungguh diajukan, tetapi tidak ditunggui. Rangkaian percakapan itu berlanjut ayat demi ayat (John 18:31; 18:33; 18:35; 19:1; 19:4; 19:6; 19:8; 19:10; 19:15).
Herodes, dan permusuhan yang mencair sehari
Satu catatan tajam disisipkan di tengah perkara. "Bahkan, Herodes dan para tentaranya juga merendahkan dan mengejek Yesus. Setelah itu, mereka memakaikan jubah yang indah, lalu mengirim-Nya kembali kepada Pilatus. Dahulu, Pilatus dan Herodes saling bermusuhan, tetapi pada hari itu mereka bersahabat. Kemudian, Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala, para pemimpin Yahudi, dan orang banyak," (Luke 23:11-13; bandingkan Luke 23:6). Dua penguasa yang bermusuhan menjadi bersahabat pada hari mereka berhadapan dengan Yesus.
Kursi pengadilan
Titik balik perkara itu terbaca jelas. "Setelah mendengar hal itu, Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus, tetapi orang-orang Yahudi berteriak, 'Jika engkau membebaskan Orang ini, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya raja berarti melawan Kaisar.' Ketika Pilatus mendengar kata-kata itu, dia membawa Yesus ke luar, dan duduk di kursi pengadilan, di suatu tempat bernama Litostrotos, tetapi dalam bahasa Ibrani disebut Gabata" (John 19:12-13). Ia berusaha membebaskan, dan ancaman terhadap kedudukannya sendiri menghentikan usaha itu. Jalan perkara selanjutnya tercatat dalam Mark 15:4-5; Mark 15:9; Mark 15:12; Mark 15:14-15, lalu Luke 23:20 dan Luke 23:24, serta Matthew 27:13; 27:17; 27:22; 27:24.
Satu hal masih ia pertahankan. "Kemudian, imam-imam kepala orang Yahudi berkata kepada Pilatus, 'Jangan tulis, \"Raja orang Yahudi,\" tetapi tulislah, Orang ini berkata, \"Akulah Raja orang Yahudi.\"' Pilatus menjawab, 'Apa yang sudah aku tulis akan tetap tertulis!'" (John 19:21-22; bandingkan John 19:19). Ia keras kepala soal tulisan, lunak soal nyawa.
Sesudah kematian Yesus, namanya muncul lagi berkaitan dengan tubuh dan kubur Yesus (Mark 15:43-44; Luke 23:52; John 19:31; John 19:38; Matthew 27:58; 27:62; 27:65).
Kegagalannya
Alkitab tidak menutupinya. Dua kali ia menyatakan dengan mulutnya sendiri bahwa ia tidak menemukan kesalahan pada Yesus (Luke 23:4; John 18:38), dan tetap saja Yesus tidak dilepaskan (Mark 15:14-15; Luke 23:24). Ia bertanya "Apakah kebenaran itu?" lalu berpaling keluar (John 18:38). Ia berusaha membebaskan sampai terdengar ancaman "engkau bukanlah sahabat Kaisar", dan sesudah itu ia justru duduk di kursi pengadilan (John 19:12-13). Putusan yang ia tahu keliru tetap ia jalankan. Itulah gambar seorang hakim yang mengenal duduk perkaranya dan memilih keamanan dirinya sendiri.
Yang tidak kita ketahui
Alkitab tidak menyebut nama orang tuanya. Tidak ada anak yang disebut. Tidak ada suku atau bangsa yang diberikan untuknya. Selebihnya tentang hidupnya tidak diberitahukan, dan kita tidak akan menambahkannya.
Garis kepada Yesus
Justru di hadapan Pilatus, Yesus menyatakan mengapa Ia datang: "Untuk inilah Aku lahir, dan untuk inilah Aku datang ke dunia, yaitu untuk bersaksi tentang kebenaran" (John 18:37). Di depan penguasa itu Ia mengakui diri sebagai Raja (Mark 15:2; Luke 23:3), dan tulisan yang menyebut-Nya Raja orang Yahudi tetap tertulis (John 19:21-22). Nama Pilatus kemudian melekat pada pemberitaan para rasul (Acts 3:13; Acts 4:27; Acts 13:28), dan disebut sekali lagi dalam 1 Timothy 6:13. Pengadilan yang gagal itu menjadi mimbar tempat Raja itu bersaksi tentang kebenaran.
