ULANGAN 31
Teks
Seorang laki-laki berusia 120 tahun berdiri di depan bangsa yang ia pimpin selama empat puluh tahun dan berkata: aku tidak ikut menyeberang. Musa menyerahkan kepemimpinan kepada Yosua, menuliskan Taurat dan memerintahkan agar kitab itu dibacakan setiap tujuh tahun di hadapan seluruh umat, termasuk anak-anak dan orang asing. Lalu di tenda pertemuan TUHAN sendiri berfirman sesuatu yang mengguncang: umat ini akan berzina dengan ilah-ilah lain, dan karena itu Musa harus menulis sebuah nyanyian yang akan menjadi saksi melawan mereka kelak.
Inti
Perhatikan urutannya. Allah tidak berkata, "Jika mereka murtad." Dia berkata, "Umat ini akan bangkit dan berzina dengan ilah-ilah lain." Perjanjian itu diberikan kepada bangsa yang kegagalannya sudah diketahui sebelumnya. Inilah yang membedakan anugerah dari optimisme: optimisme berharap manusia akan berubah, anugerah mengikat diri pada manusia yang tidak berubah. Allah tetap membawa mereka ke negeri yang berlimpah susu dan madu sekalipun Dia tahu kemakmuran itu justru akan membuat mereka lupa. Di sini teologi perjanjian menunjukkan wajahnya yang paling jujur: kesetiaan Allah tidak bersandar pada kesetiaan kita. Dan justru karena itu, penghakiman-Nya bukan kekecewaan yang meledak, melainkan tanggapan kudus yang sudah Dia perhitungkan sejak awal.
Benang Merah
Pasal ini meninggalkan sebuah pertanyaan menganga: apa gunanya perjanjian dengan umat yang pasti melanggarnya? Ulangan 31 tidak menjawabnya. Ia hanya menyediakan saksi, kitab di samping Tabut dan nyanyian di mulut anak-anak, supaya ketika keruntuhan datang umat tahu itu bukan karena Allah tidak sanggup. Pertanyaan itu baru terjawab ketika seorang Pemimpin lain berdiri di seberang sungai yang tidak bisa diseberangi manusia. Musa tidak boleh masuk; Yosua, yang namanya berarti "TUHAN menyelamatkan", yang memimpin masuk. Nama itu kelak dipakai lagi. Dan yang baru dalam Kristus bukan perjanjian yang lebih ringan, melainkan Taurat yang tidak lagi diletakkan di samping Tabut melainkan di dalam hati, oleh Roh Kudus. Ulangan 31 mendiagnosis penyakit yang hanya bisa disembuhkan oleh kelahiran baru.
Cermin
Ayat 20 mengenai sasaran yang jarang kita duga. Bukan penderitaan yang membuat Israel murtad, melainkan kenyang. "Mereka akan makan dan kenyang serta menjadi makmur. Kemudian, mereka berpaling kepada ilah-ilah lain." Iman kita jarang runtuh di ruang gawat darurat; ia menguap pelan-pelan di tahun-tahun ketika gaji naik, rumah terbayar, anak-anak sehat, dan doa terasa seperti formalitas karena toh semua berjalan. Musa juga tidak memelihara ilusi tentang generasi berikutnya: ia tahu anak-anak yang tidak mengalami Sinai tidak otomatis mewarisi imannya. Karena itu Taurat harus dibacakan keras-keras, di telinga perempuan, anak-anak, orang asing. Iman diteruskan lewat suara, bukan lewat asumsi. Maka hari ini: bacakan dengan suara keras ayat 6 kepada orang yang tinggal serumah dengan Anda, atau lewat telepon kepada satu orang, tanpa penjelasan panjang.
Detail
"Taruhlah ini dalam mulutnya." Bukan di rak, bukan di ingatan, tetapi di mulut. Allah tahu persis bagaimana manusia bertahan: bukan lewat arsip, melainkan lewat lagu yang tidak bisa dilupakan. Dokumen hukum bisa hilang dalam pembuangan; melodi ikut menyeberang perbatasan di kerongkongan orang buangan. Dan lagu ini bukan pujian, melainkan dakwaan, "nyanyian ini akan menjadi saksi-Ku bagi anak-anak Israel." Allah menanamkan tuduhan-Nya sendiri ke dalam mulut umat-Nya, supaya ketika bencana datang mereka punya kata-kata untuk menamainya dengan benar. Itu kelembutan yang aneh dan dalam: Dia tidak membiarkan mereka menderita tanpa penafsiran. Penghakiman yang bisa dimengerti masih membuka pintu ke pertobatan; penderitaan yang bisu hanya melahirkan sinisme.
Tokoh Utama
Musa mengakhiri hidupnya tanpa satu pun ilusi. "Sebab aku tahu pemberontakanmu dan kedegilanmu." Empat puluh tahun sudah cukup untuk menghabiskan setiap harapan romantis tentang bangsa ini, dan Musa tidak berpura-pura. Yang mengagumkan justru ini: ia tetap memberkati. Ia menguatkan Yosua di depan mata semua orang, ia menulis seluruh Taurat sampai selesai, ia menyerahkan tanah yang tidak akan pernah ia injak. Inilah bentuk kesetiaan yang paling matang, melayani tanpa menuntut hasil yang bisa dilihat. Ia tahu ia akan mati di luar, dan ia bekerja sepenuh hati untuk sesuatu di dalam. Orang yang hanya bisa setia bila jerih payahnya berbuah di masa hidupnya belum benar-benar melayani Allah; ia masih melayani rasa puasnya sendiri.
Gema Kitab Suci
Kalimat "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu" terdengar tiga kali di pasal ini, dan Allah sendiri mengulanginya kepada Yosua di awal kitab berikutnya. Perintah untuk berani ternyata selalu bersandar pada satu alasan, bukan pada kemampuan Yosua melainkan pada janji "Aku akan menyertaimu". Yang lebih mengejutkan, janji ayat 6, bahwa TUHAN tidak akan membiarkan atau meninggalkan, dikutip dalam surat Ibrani dan ditujukan kepada orang percaya yang sedang bergumul dengan uang dan rasa tidak aman. Janji yang lahir di tepi Yordan, di ambang perang, ternyata cukup luas untuk menanggung kecemasan finansial seorang Kristen abad pertama. Dan sementara di ayat 17 Allah menyembunyikan wajah-Nya, di kayu salib Anak-Nya menanggung penyembunyian itu sampai habis, supaya wajah itu tidak pernah lagi berpaling dari kita.
Refleksi
Di bagian hidup mana kekenyangan, bukan kesulitan, sedang pelan-pelan menggeser Allah ke pinggir?
Apa yang sedang Anda kerjakan sekarang yang buahnya mungkin baru terlihat setelah Anda tidak ada, dan sanggupkah Anda tetap setia mengerjakannya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Deuteronomy 31
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ULANGAN 31?
Tentang apakah ULANGAN 31?
Apa konteks historis dari ULANGAN 31?
Apa yang ULANGAN 31 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ULANGAN 31 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Deuteronomy 31
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memanggil semua orang untuk berkumpul mendengar firman-Mu: laki-laki, perempuan, anak-anak, bahkan pendatang di kota kami. Tidak ada yang Kauanggap terlalu kecil atau terlalu asing untuk belajar takut akan Engkau dan melakukan firman-Mu dengan setia.
Tuhan, ada batas yang tidak bisa kutembus, dan hari ini aku merasakannya. Ajar aku menerima bahwa bukan aku yang harus menyelesaikan segalanya. Tolong aku melepaskan dengan tangan terbuka, percaya Engkau tetap berjalan bersama mereka yang melanjutkan.
Aku akan benar-benar menyembunyikan wajah-Ku dari mereka pada hari itu karena semua kejahatan yang mereka lakukan, sebab mereka telah berpaling kepada ilah-ilah lain."
Perhatikan urutannya: mereka berpaling lebih dulu. Allah tidak diam-diam pergi. Bahkan Dia memberitahukannya jauh sebelum terjadi, lewat sebuah nyanyian, supaya saat langit terasa sunyi, kamu masih ingat jalan pulang.
Jadi, Musa menuliskan nyanyian itu pada hari itu juga dan mengajarkannya kepada orang Israel." Hari itu juga. Musa sudah 120 tahun, sebentar lagi mati, dan yang Tuhan minta adalah sebuah nyanyian yang nanti akan menuduh umat yang ia cintai. Ia tidak menunda, tidak berdebat. Apa yang Tuhan minta darimu hari ini, yang kau simpan untuk besok?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
