PENGKHOTBAH 9:10
Teks
Pengkhotbah menutup rangkaian nasihatnya tentang makan roti, minum anggur, dan menikmati hidup bersama istri dengan satu perintah yang tajam: apa pun yang kebetulan ditemukan tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah dengan seluruh kekuatanmu. Alasannya bukan motivasi yang manis, melainkan kenyataan yang dingin: "tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, atau hikmat di dunia orang mati, tempat ke mana kamu akan pergi." Empat hal yang paling kita banggakan dari hidup ini, kesibukan kita, pertimbangan kita, apa yang kita tahu, dan kearifan yang kita kumpulkan bertahun-tahun, semuanya berhenti di ambang pintu itu. Karena itulah, kata Pengkhotbah, kerjakan sekarang. Bukan nanti, bukan setengah hati, bukan sambil menunggu kesempatan yang lebih layak.
Inti
Yang mengejutkan dari ayat ini adalah arah argumennya. Kita menduga kesadaran akan kematian melahirkan kelumpuhan atau sinisme, tetapi Pengkhotbah membalikkannya: justru karena hidup ini pendek dan dunia orang mati sunyi dari segala aktivitas, maka pekerjaan hari ini menjadi berharga. Ini bukan pesimisme, juga bukan optimisme murahan; ini realisme yang percaya. Perhatikan ayat sebelumnya: Allah "sudah lama berkenan terhadap pekerjaan-pekerjaanmu" (ayat 7). Perkenanan Allah mendahului kerja keras kita, bukan menjadi upahnya. Jadi bekerja dengan sekuat tenaga di sini bukan usaha memperpanjang nama atau menaklukkan kefanaan, sebab Pengkhotbah baru saja berkata bahwa kenangan tentang orang mati pun dilupakan (ayat 5). Bekerja dengan segenap kekuatan adalah cara menerima hidup sebagai pemberian, hari demi hari, dari tangan Allah yang menggenggam segala perbuatan kita.
Benang Merah
Pengkhotbah berhenti di tepi kubur dan tidak bisa melihat menembusnya. Ia jujur: di dunia orang mati tidak ada pekerjaan, tidak ada hikmat. Itulah batas pengetahuannya, dan ia menolak menghiburmu dengan sesuatu yang belum diberikan kepadanya. Justru di situ letak kesabaran Kitab Suci. Berabad-abad kemudian, Seorang memasuki batas itu dari sisi kita dan keluar dari sisi sana. Kebangkitan tidak membatalkan diagnosis Pengkhotbah; ia menjawabnya dari luar. Yang menarik, jawaban itu tidak mengubah perintahnya, melainkan meneguhkannya. Paulus, setelah panjang lebar berbicara tentang kebangkitan tubuh, berakhir pada kesimpulan yang nyaris sama bunyinya dengan ayat ini: giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan, sebab jerih payahmu tidak sia-sia (1 Korintus 15:58). Pengkhotbah bekerja keras karena kubur menelan segalanya; Paulus bekerja keras karena kubur ternyata tidak.
Cermin
Ayat ini menyentuh dua penyakit yang jarang kita akui bersaudara. Yang pertama adalah penundaan: kita hidup seolah-olah kesempatan yang sebenarnya baru dimulai nanti, sesudah anak-anak besar, sesudah utang lunas, sesudah keadaan di kantor membaik. Yang kedua adalah kerja setengah hati: hadir secara fisik di meja makan, di ruang kelas, di samping ranjang orang tua yang menua, tetapi pikiran melayang ke tempat lain. Keduanya lahir dari asumsi diam-diam bahwa waktu itu berlimpah. Pengkhotbah mencabut asumsi itu. Ia tidak menuntutmu mengerjakan hal-hal besar; ia menuntut kekuatan penuh untuk hal yang kebetulan ada di tanganmu hari ini. Maka lakukanlah ini sekarang: pandanglah sekelilingmu, pilih satu pekerjaan kecil yang sudah berminggu-minggu kautunda, dan selesaikan dalam sepuluh menit ini, dengan perhatian penuh, tanpa layar menyala di sampingmu.
Konteks
Kata-kata ini muncul di dunia yang belum memiliki gambaran jelas tentang kebangkitan. Bagi Israel kuno, dunia orang mati adalah tempat kelabu, sunyi, tanpa kegiatan dan tanpa pujian. Pengkhotbah menulis sebagai orang yang telah mencoba segalanya, kekayaan, proyek bangunan, kenikmatan, penelitian, dan mendapati semuanya menguap. Ia menulis di bawah bayang-bayang ketidakadilan yang ia sebut beberapa ayat sebelumnya: nasib yang sama menimpa orang benar dan orang fasik. Di dunia seperti itu, agama gampang berubah menjadi transaksi: persembahkan kurban, dapatkan umur panjang. Pengkhotbah memutus transaksi itu. Ia tidak menawarkan jaminan hasil. Yang ia tawarkan adalah roti, anggur, pakaian putih, minyak di kepala, seorang istri yang dicintai, dan pekerjaan yang dikerjakan sungguh-sungguh. Itulah bagian yang Allah berikan, dan bagian itu ternyata cukup untuk hidup satu hari.
Detail
"Apa pun yang ditemukan oleh tanganmu untuk dikerjakan." Terjemahan ini setia pada kata Ibrani matsa', yang berarti menemukan, menjumpai, mendapati secara tidak sengaja. Bukan apa yang kaurencanakan, bukan apa yang kaupilih sesudah menimbang panggilan hidupmu, melainkan apa yang kebetulan berada dalam jangkauan tanganmu. Ada kerendahan hati yang dalam di situ. Pengkhotbah tidak berasumsi bahwa kita menguasai jalan hidup kita; beberapa ayat kemudian ia berkata bahwa "waktu dan kesempatan" menimpa semua orang. Yang bisa kita kuasai hanyalah mutu perhatian kita terhadap apa yang sudah ada di tangan. Mungkin itu pekerjaan yang tidak kaupilih. Mungkin itu orang tua yang sakit, kelas yang berat, jabatan yang membosankan. Pengkhotbah tidak menyuruhmu mencintainya. Ia menyuruhmu mengerjakannya dengan kekuatanmu.
Tokoh Utama
Pengkhotbah adalah orang yang menolak dua pelarian sekaligus. Ia tidak melarikan diri ke sinisme, meski ia punya semua alasan; dan ia tidak melarikan diri ke kesalehan yang menutup mata, meski itu jauh lebih nyaman. Ia berdiri persis di tengah, memandang kubur tanpa berkedip, lalu berbalik dan menyuruh kita makan roti dengan gembira. Lanskap batinnya bukan sukacita yang ringan, melainkan sukacita yang telah melewati kepahitan dan kembali. Dan di balik suaranya ada Allah yang, menurut ayat pertama pasal ini, menggenggam orang benar dan orang berhikmat beserta perbuatan-perbuatan mereka di tangan-Nya. Allah itu tidak menjelaskan diri-Nya. Ia tidak memberi Pengkhotbah peta. Yang Ia berikan hanyalah hari ini, roti, pekerjaan, dan perkenanan yang sudah lama ada sebelum kita mulai bekerja.
Gema Kitab Suci
Yesus pernah berkata bahwa kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus-Nya selama masih siang, sebab malam akan datang ketika tidak seorang pun dapat bekerja (Yohanes 9:4). Kalimat itu terdengar seperti Pengkhotbah yang berbicara dengan mulut Anak Allah: kesadaran akan batas waktu yang berubah menjadi urgensi, bukan kepanikan. Bedanya, Yesus tahu apa yang ada di seberang malam itu, dan Ia tetap memilih kalimat yang sama. Itu seharusnya menenangkan kita. Iman kepada kebangkitan tidak membuat hari ini kurang mendesak; ia membuat hari ini bermakna tanpa harus menjadi segalanya. Pengkhotbah bekerja keras karena tidak ada apa-apa sesudahnya. Kita bekerja keras karena ada, dan karena yang ada itu sudah menyentuh pekerjaan tangan kita hari ini.
Profil
Pendengar pertama Pengkhotbah adalah orang-orang yang hidup dari panen ke panen, yang tahu bahwa satu musim kering bisa menghapus kerja bertahun-tahun. Mereka bukan pembaca yang perlu diyakinkan bahwa hidup rapuh; mereka menguburkan anak-anak mereka. Yang mereka butuhkan bukan pengingat tentang kematian, melainkan izin untuk bergembira di tengahnya. Dan itulah yang mereka dengar: izin. Makanlah rotimu, pakailah pakaian putih, biarkan ada minyak di kepalamu, kerjakan pekerjaanmu sekuat tenaga. Bagi telinga yang terbiasa menghitung untung rugi di hadapan Allah, kalimat ini melegakan sekaligus meresahkan. Melegakan, karena tidak ada tuntutan hasil. Meresahkan, karena tidak ada pula jaminan. Yang tersisa hanyalah hari ini, dan Allah yang berkenan.
Pertanyaan
Bagaimana kita membaca "tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, atau hikmat di dunia orang mati" jika kita percaya pada kebangkitan? Godaan terbesar adalah buru-buru menempelkan Perjanjian Baru di atasnya, seolah Pengkhotbah hanya belum tahu. Tetapi ada sesuatu yang hilang kalau kita melakukannya. Pengkhotbah sedang menjaga agar kita tidak memakai kekekalan sebagai alasan untuk meremehkan hari ini. Berapa banyak keputusan buruk yang kita bungkus dengan kalimat "toh ini semua sementara"? Ayat ini menolak penghiburan itu. Barangkali kita harus membiarkan dua kebenaran itu berdiri berdampingan tanpa cepat-cepat mendamaikannya: kubur benar-benar akhir dari segala yang bisa kaukerjakan, dan Kristus benar-benar bangkit. Yang satu membuat hari ini mendesak; yang lain membuatnya tidak sia-sia. Di antara keduanya, kita bekerja.
Refleksi
Pekerjaan apa yang saat ini "ditemukan oleh tanganmu", yang tidak kaupilih tetapi memang ada di sana, dan apa artinya mengerjakannya dengan kekuatan penuh minggu ini?
Di mana dalam hidupmu kesadaran akan kematian melumpuhkanmu, dan di mana ia justru bisa membebaskanmu dari penundaan?
Jika perkenanan Allah sudah mendahului pekerjaanmu, apa yang berubah dari cara kamu menilai hari yang produktivitasnya terasa gagal?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ecclesiastes 9:10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti PENGKHOTBAH 9:10?
Tentang apakah PENGKHOTBAH 9:10?
Apa konteks historis dari PENGKHOTBAH 9:10?
Apa yang PENGKHOTBAH 9:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana PENGKHOTBAH 9:10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ecclesiastes 9
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk kejujuran firman-Mu bahwa "ada satu nasib bagi semua orang". Itu melepaskan aku dari kesombongan merasa lebih aman karena perbuatan baikku. Aku bersyukur hidupku hari ini murni pemberian-Mu, bukan upah yang kuperoleh sendiri, dan harapanku aman di tangan-Mu.
Pengkhotbah berhenti pada satu kepastian: "orang-orang benar dan orang-orang bijak, serta perbuatan-perbuatan mereka ada di tangan Allah." Lalu ia jujur, kita tidak bisa membaca kasih atau kebencian Allah dari apa yang menimpa kita. Sakitmu bukan tanda Dia membencimu. Lancarmu bukan tanda Dia berkenan. Yang tersisa: tangan-Nya tetap memegang.
Nikmatilah hidup dengan istri yang kamu kasihi sepanjang hari-hari kehidupanmu yang sia-sia." Kalimat ini lahir setelah Pengkhotbah lama merenungkan kematian. Justru di situ ia berkata: pulanglah, makan bersama, tertawalah dengan orang yang kaukasihi. Hari-hari biasa itu bukan sisa hidupmu. Itulah bagianmu. Sudahkah kau menikmatinya hari ini?
Bapa, di tengah dunia yang penuh suara keras, ajar aku mengenali bisikan hikmat yang tenang. Jauhkan aku dari keinginan menang dengan berteriak. Beri aku telinga yang mau diam dan mendengar, dan hati yang lebih memilih kebenaran daripada perhatian.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi