YOHANES 9
Teks
Yesus bertemu seorang yang buta sejak lahir, membuat lumpur dari ludah dan tanah, lalu menyuruh dia membasuh diri di kolam Siloam. Dia pulang dapat melihat. Namun kesembuhan itu memicu pertengkaran panjang: tetangga bingung, orang tua takut, orang-orang Farisi marah, dan si mantan buta akhirnya diusir dari sinagoge, lalu dijumpai Yesus dan sujud menyembah.
Inti
Pasal ini bukan sekadar kisah mukjizat. Yohanes menyusunnya sebagai drama tentang siapa yang sesungguhnya melihat dan siapa yang buta. Orang yang matanya baru terbuka melangkah dari "Orang yang bernama Yesus" (ay. 11), ke "seorang Nabi" (ay. 17), ke "dari Allah" (ay. 33), sampai "Tuhan, aku percaya!" (ay. 38). Sementara itu para pemuka agama yang mengaku "melihat" justru menutup mata terhadap tanda yang tak bisa disangkal. Yesus datang bukan sekadar untuk menyembuhkan mata jasmani, melainkan untuk menyingkap: iman lahir ketika seseorang jujur mengakui bahwa dia tidak melihat, dan membiarkan Yesus membuka matanya, bahkan bila itu berarti kehilangan tempat di komunitasnya.
Benang Merah
Di ayat 5 Yesus berkata, "Akulah terang dunia." Ini menggemakan Kejadian 1, ketika Allah berfirman "jadilah terang" atas kegelapan. Yesus mengaduk tanah dengan ludah-Nya, dan pembaca yang teliti akan mengingat bagaimana manusia dibentuk dari debu tanah. Ini bukan sekadar mukjizat, ini penciptaan ulang. Nama kolam pun ditegaskan Yohanes: Siloam artinya "diutus" (ay. 7). Yesus, sang Diutus dari Bapa, mengirim orang itu ke kolam yang bernama Diutus, agar terang penciptaan pertama menjadi terang penebusan. Benang merah dari Kejadian sampai Injil adalah Allah yang berbicara ke dalam kegelapan, dan sekarang berbicara melalui Anak-Nya.
Cermin
Perhatikan orang tua si buta. Mereka tahu kebenaran, tetapi berkata, "dia sudah dewasa; dia akan berbicara untuk dirinya sendiri" (ay. 21). Ketakutan mereka jujur sekali: dikucilkan dari sinagoge berarti kehilangan jaringan sosial, ekonomi, identitas. Kita mengenal itu. Kita tahu apa yang benar tentang Yesus, tetapi di rapat kerja, di grup keluarga, di media sosial, kita menggeser tanggung jawab ke orang lain. "Bukan tempat saya bicara." "Nanti saja." Kebisuan yang sopan yang sesungguhnya adalah pengkhianatan halus. Sebaliknya, si mantan buta belum punya teologi yang matang, tetapi dia berpegang pada satu hal yang dia tahu: "sebelumnya aku buta, tetapi sekarang aku melihat" (ay. 25). Kesaksian yang jujur dan sederhana kadang lebih kuat daripada argumen yang canggih tetapi takut.
Detail
Ludah dan tanah. Bagi telinga modern ini terasa kasar, hampir menjijikkan. Bagi telinga zaman itu, ludah seorang tokoh besar dianggap memiliki kuasa penyembuhan dalam kepercayaan populer, tetapi mencampurnya menjadi lumpur pada hari Sabat, itu masalah. Membuat adonan termasuk pekerjaan yang dilarang menurut tafsiran rabinik. Yesus tidak hanya bisa menyembuhkan dengan sepatah kata; Dia sengaja memilih cara yang provokatif. Dia melanggar tepat pada titik di mana tradisi telah menutupi maksud Allah tentang Sabat. Sabat adalah hari pemulihan, dan di sinilah pemulihan sesungguhnya terjadi. Lumpur di mata itu adalah tantangan yang terlihat: apakah kalian akan memperdebatkan cara-Nya, atau melihat karya-Nya?
Konteks
Peristiwa ini terjadi di Yerusalem, kemungkinan tidak lama setelah Hari Raya Pondok Daun (pasal 7 dan 8), ketika kolam Siloam memainkan peran penting dalam ritual air. Kolam itu terletak di bagian selatan kota, di bawah, sehingga orang buta itu harus turun menuruni tangga sempit dengan lumpur di matanya, meraba-raba jalan. Bayangkan: berjalan melalui kerumunan peziarah, wajah kotor, tanpa pemandu yang disebut. Iman selalu punya bentuk yang canggung. Lalu, "dikucilkan dari sinagoge" (ay. 22) bukan sekadar sanksi keagamaan. Sinagoge adalah pusat kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi mikro sebuah komunitas Yahudi. Dikucilkan berarti kehilangan pekerjaan, jodoh untuk anak, tempat berkabung. Itulah beratnya keputusan si mantan buta ketika dia berdiri sendirian di hadapan para pemimpin.
Profil
Pembaca pertama Injil Yohanes, akhir abad pertama, sebagian besar adalah orang Yahudi-Kristen yang justru sedang mengalami pengucilan dari sinagoge. Formula birkat ha-minim, kutukan atas para bidat, telah membuat mereka tidak nyaman lagi beribadah di komunitas asal mereka. Ketika mereka membaca ayat 22, mereka tidak membacanya sebagai sejarah kuno. Itu adalah cermin luka mereka sendiri. Dan mereka membaca ayat 35 dengan air mata: Yesus mendengar bahwa dia diusir, dan Yesus mencarinya. Bukan orang itu yang menemukan Yesus kembali; Yesus yang datang. Itulah kabar baik bagi jemaat yang merasa kehilangan segalanya karena nama-Nya. Dikucilkan oleh manusia, dicari oleh Anak Manusia. Komunitas yang lama tertutup, tetapi persekutuan yang baru sedang dibentuk oleh Dia yang Diutus.
Refleksi
Di titik mana dalam hidupku aku bersikap seperti orang tua si buta, tahu kebenaran tetapi menggeser tanggung jawab karena takut kehilangan sesuatu?
Yesus mencari orang yang diusir. Kepada siapa dalam lingkaranku, yang tersingkir karena mengikuti Kristus atau karena alasan lain, aku sedang dipanggil untuk pergi mencari?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 9?
Tentang apakah YOHANES 9?
Apa konteks historis dari YOHANES 9?
Apa yang YOHANES 9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 9
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih untuk hari ini yang masih Engkau berikan, untuk tangan yang bisa bekerja dan waktu yang belum habis. Engkau berkata, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku selama masih siang." Betapa berharganya siang yang Kauberi ini, dan tugas yang Kaupercayakan di dalamnya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
