KEJADIAN 1:4
Teks
Terang sudah ada, baru saja dipanggil keluar dari kegelapan oleh sebuah firman. Dan yang pertama dilakukan Allah setelah terang itu ada bukanlah melanjutkan pekerjaan, melainkan berhenti dan memandang: "Allah melihat bahwa terang itu baik." Ada jeda di sana, sebuah tatapan yang menilai dan berkenan. Sesudah itu barulah Ia bertindak lagi, dan tindakan itu adalah pemisahan: "Kemudian, Allah memisahkan terang itu dari gelap." Dua kata kerja, melihat dan memisahkan, dan di antara keduanya sebuah penilaian yang tenang. Ayat ini pendek sekali, satu tarikan napas, tetapi di dalamnya Allah menetapkan bahwa yang baik itu tidak dibiarkan bercampur dengan yang bukan terang. Terang tidak diminta berbagi ruang. Ia diberi tempatnya sendiri.
Inti
Perhatikan urutannya, karena di situlah bobot teologisnya. Allah tidak memisahkan lebih dulu lalu menilai hasilnya; Ia menilai lebih dulu, lalu memisahkan. Penilaian "baik" bukan kesimpulan setelah semuanya rapi, melainkan dasar dari kerapian itu. Dunia ini tertata bukan karena Allah suka keteraturan, tetapi karena Ia lebih dulu berkenan pada apa yang Ia buat. Kata "baik" di sini bukan soal mutu estetis, seolah Allah kagum pada karya-Nya sendiri; kata Ibrani tov berarti sesuatu yang tepat sasaran, yang berfungsi sebagaimana dimaksudkan, yang membawa kehidupan. Dan pemisahan itu adalah bentuk kasih, bukan kekerasan. Allah yang membedakan adalah Allah yang menolak membiarkan ciptaan-Nya tenggelam kembali ke dalam kekacauan yang digambarkan di ayat 2. Kekacauan tidak diperangi dengan kekerasan, melainkan dengan batas.
Benang Merah
Pemisahan yang dimulai di sini tidak pernah berhenti. Sepanjang Kitab Suci Allah terus membedakan: air dari air, darat dari laut, hari ketujuh dari enam hari lain, Israel dari bangsa-bangsa, yang kudus dari yang biasa. Seluruh hukum Taurat tentang tahir dan najis sebenarnya adalah gema panjang dari satu tindakan di ayat ini: Allah tidak membiarkan yang baik luntur ke dalam yang kacau. Dan ketika Yohanes membuka Injilnya dengan sengaja meminjam kalimat pertama Kejadian, ia menempatkan Yesus persis di titik ini: terang yang bersinar di dalam kegelapan, dan kegelapan tidak menguasainya. Salib adalah pemisahan yang paling mahal, saat Kristus sendiri masuk ke dalam gelap supaya kita ditarik keluar. Yang di Kejadian dilakukan dengan firman, di Golgota dilakukan dengan tubuh.
Cermin
Yang paling melelahkan dalam hidup kita biasanya bukan gelap yang terang-terangan, melainkan campuran. Kejujuran yang ditawar sedikit demi sedikit di kantor karena "semua orang begitu". Kelembutan di gereja dan kesinisan di meja makan. Layar yang menyala di kamar setelah semua orang tidur, disusul doa pagi yang sungguh-sungguh keesokan harinya. Kita ingin memiliki keduanya, dan kita menyebut itu realistis. Tetapi teks ini berkata bahwa terang tidak diminta berbagi ruang. Allah tidak mengelola keremangan; Ia memberi batas. Ada kelegaan besar di situ, kalau kita mau menerimanya: kamu tidak dipanggil untuk menjadi orang yang hidup dalam dua wilayah sekaligus, dan kelelahan yang kamu rasakan itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa jiwamu diciptakan untuk satu wilayah saja. Hari ini, ambil kertas, tulis satu hal yang selama ini kamu biarkan setengah gelap, satu kalimat saja, lalu ucapkan dengan suara keras kepada Allah: "Ini bukan terang." Lalu robek kertas itu.
Detail
Yang mudah terlewat: gelap tidak dihapus. Allah tidak memadamkannya, tidak menghancurkannya, tidak menyatakannya tidak ada. Ia memisahkannya, dan pada ayat berikutnya Ia bahkan memberinya nama, malam. Memberi nama dalam dunia Timur Kuno adalah tindakan kekuasaan; yang dinamai adalah yang dikuasai. Jadi gelap tetap ada, tetapi ia kehilangan keliaran yang ada pada ayat 2. Dulu ia menutupi seluruh permukaan samudra tanpa batas; sekarang ia punya jam kerja dan tempat tinggal. Ini penting bagi kita yang menunggu kegelapan lenyap dari hidup kita. Untuk sementara, janji Kejadian bukan penghapusan, melainkan pembatasan. Gelap masih datang, tetapi ia tidak lagi memerintah, dan ia harus berhenti ketika pagi diperintahkan datang.
Pertanyaan
Dari mana gelap itu berasal? Terang diciptakan dengan firman yang jelas, tetapi gelap sudah ada di ayat 2 tanpa penjelasan sedikit pun. Kejadian 1 diam di titik yang paling ingin kita ketahui. Godaan kita adalah mengisi kekosongan itu, entah dengan menjadikan gelap sebagai kekuatan tandingan yang setara, entah dengan menjadikannya ciptaan Allah juga sehingga Ia bertanggung jawab penuh atas segala yang jahat. Teks ini menolak keduanya. Gelap bukan saingan, karena ia dinamai dan dibatasi. Tetapi ia juga tidak disebut baik, tidak sekali pun. Kita dibiarkan berdiri di depan sebuah keheningan. Mungkin itu sendiri sudah rahmat: kita diberi tahu apa yang harus kita lakukan dengan gelap, tanpa diberi tahu dari mana ia datang.
Tokoh Utama
Allah dalam ayat ini adalah Allah yang berhenti untuk memandang. Itu mengejutkan. Dalam cerita-cerita penciptaan bangsa-bangsa tetangga Israel, dunia lahir dari pertarungan berdarah antara dewa-dewa. Di sini tidak ada musuh, tidak ada perkelahian, tidak ada napas terengah. Ada firman, lalu ada tatapan, lalu ada batas. Allah yang bekerja tanpa panik. Ia sanggup menikmati apa yang baru saja Ia buat sebelum melangkah ke pekerjaan berikutnya, dan kesanggupan itu mengatakan sesuatu tentang hati-Nya: Ia bukan pekerja yang terus mengejar hasil, melainkan Pencipta yang berkenan. Dan justru dari perkenanan itulah lahir ketegasan-Nya. Ia memisahkan bukan karena marah pada gelap, tetapi karena mengasihi terang.
Refleksi
Di bagian mana hidupmu kamu sebut "realistis", padahal sebenarnya kamu sedang menolak dipisahkan?
Kapan terakhir kali kamu berhenti untuk memandang sesuatu yang baik, tanpa langsung memikirkan langkah berikutnya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 1:4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 1:4?
Tentang apakah KEJADIAN 1:4?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 1:4?
Apa yang KEJADIAN 1:4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 1:4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
saat saya dilahirkan
Membayangkan Allah melihat ciptaannya, seorang manusia dan berkata
Sungguh baik manusia ciptaanKu.
Saat saya menyadari dan mengaku kesalahan, Tuhan memulai pekerjaan Nya,
Saat saya datang dengan kepedihan kepadaNya, Ia mulai bekerja
Ia yang memulai,
Percaya bahwa pekerjaan Tuhan menjadi denyut hidup yang saya sedang jalani
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi