YEREMIA 3:22
Teks
Di tengah isak tangis yang terdengar dari bukit-bukit gundul, tempat orang Israel dulu menyembah dewa-dewa kesuburan, terdengar satu suara lain. Suara TUHAN yang memanggil: “Kembalilah, hai anak-anak yang tidak setia, Aku akan menyembuhkan ketidaksetiaanmu.” Bukan ancaman, bukan daftar syarat, melainkan undangan pulang yang disertai janji penyembuhan atas penyakit yang justru membuat mereka pergi. Dan untuk pertama kalinya dalam pasal ini, umat itu menjawab, bukan dengan pembelaan diri melainkan dengan pengakuan yang sederhana dan telanjang: “Lihatlah, kami datang kepada-Mu, karena Engkau adalah TUHAN, Allah kami.” Satu ayat, dua suara: Allah yang memanggil, dan umat yang akhirnya bergerak. Setelah dua pasal penuh tuduhan perzinaan rohani, inilah titik balik yang nyaris tak terduga.
Inti
Perhatikan apa yang Allah janjikan untuk disembuhkan. Bukan akibat dosa, bukan kekeringan yang menimpa ladang mereka, melainkan ketidaksetiaan itu sendiri. Dalam bahasa Ibrani, kata "kembali" (shuv) dan "ketidaksetiaan" (meshuvah) berasal dari akar yang sama; secara harfiah Allah berkata, "berbaliklah, hai anak-anak yang berbalik, Aku akan menyembuhkan perbalikanmu." Di situlah letak kejutannya. Allah memerintahkan sesuatu yang sekaligus Ia janjikan untuk kerjakan sendiri di dalam mereka. Umat ini tidak punya kemampuan untuk tidak berpaling; itulah penyakitnya. Maka pertobatan di sini bukan prestasi moral yang membuat Allah luluh, melainkan buah dari suara yang lebih dahulu memanggil. Inilah anugerah dalam bentuknya yang paling kasar dan paling murni: Allah tidak menunggu di garis finis, Ia datang ke bukit-bukit gundul tempat pengkhianatan itu terjadi dan berkata, pulanglah.
Benang Merah
Janji penyembuhan ini menggantung tanpa penjelasan di Yeremia. Bagaimana Allah menyembuhkan kecenderungan hati yang terus berpaling? Pasal-pasal berikutnya memberi petunjuk: hati yang disunat, hukum yang ditulis di batin, gembala-gembala "sesuai dengan hati-Ku" (ayat 15). Semua itu menunjuk ke depan, ke sesuatu yang belum ada. Yang menarik, Allah di ayat 16 mengatakan Tabut Perjanjian tidak akan lagi dirindukan. Pusat ibadah akan bergeser dari sebuah peti emas ke pribadi. Di situlah garis itu bermuara pada Yesus Kristus, yang bukan hanya memanggil orang pulang tetapi menanggung sendiri perceraian yang layak kita terima, lalu menaruh Roh-Nya di dalam kita supaya kaki kita tidak lagi otomatis berjalan ke bukit yang salah. Penyembuhan ketidaksetiaan bukan metafora hangat; itu pekerjaan salib dan Roh Kudus.
Cermin
Kita jarang menyembah di bawah pohon hijau, tetapi kita tahu rasanya kembali ke hal yang sama. Layar yang Anda buka lagi tengah malam setelah berjanji tidak akan. Nada suara terhadap pasangan yang Anda sesali setiap kali dan ulangi setiap minggu. Perhitungan uang yang diam-diam Anda geser sedikit. Yang paling melelahkan bukan dosanya, melainkan kesadaran bahwa Anda sudah mencoba dan gagal, dan karena itu merasa tidak punya muka untuk datang lagi. Justru kepada orang semacam itulah ayat ini bicara. Allah tidak berkata "perbaiki dirimu dulu", Ia berkata "kembalilah, Aku akan menyembuhkan". Hari ini, ucapkan dengan suara terdengar, sendirian di mobil atau di kamar, kalimat umat itu apa adanya: "Lihatlah, kami datang kepada-Mu, karena Engkau adalah TUHAN, Allah kami." Lalu sebutkan satu hal yang Anda minta Dia sembuhkan.
Intertekstual
Hosea, nabi yang berkhotbah di kerajaan utara satu abad sebelumnya, memakai gambar yang sama: istri pelacur, suami yang tetap memanggil pulang, dan janji "Aku akan menyembuhkan kemurtadan mereka". Yeremia jelas berdiri di atas bahu Hosea; ia memakai kosakata yang sudah akrab untuk menusuk Yehuda, yang mengira dirinya lebih baik daripada saudara perempuannya di utara. Sisi lainnya terdengar dalam perumpamaan anak yang hilang: ayah yang berlari sebelum pengakuan selesai diucapkan. Yang membedakan Yeremia 3 adalah hukum di ayat 1, yang melarang suami mengambil kembali istri yang sudah menjadi milik orang lain. Allah tahu hukum itu. Dan Ia tetap memanggil. Anugerah di sini bukan pengabaian hukum, melainkan kasih yang menembusnya dengan harga yang kelak dibayar sendiri oleh Allah.
Profil
Bayangkan pendengar pertamanya: orang Yehuda di masa Raja Yosia, hidup di bawah bayang-bayang kehancuran kerajaan utara yang masih segar dalam ingatan kakek mereka. Ketika Yeremia berkata "surat cerai" (ayat 8), mereka tidak mendengar kiasan rohani; mereka membayangkan dokumen hukum yang memutus seorang perempuan dari rumah, nafkah, dan kehormatannya selamanya. Dan mereka melihat buktinya di peta: sepuluh suku hilang, dibuang oleh Asyur, tidak pernah pulang. Maka panggilan "kembalilah, hai Israel yang tidak setia" di ayat 12 terdengar hampir mustahil, ditujukan kepada orang-orang yang secara politis sudah tidak ada. Bagi pendengar Yehuda, itu berarti satu hal yang mengguncang: kalau Allah memanggil pulang yang sudah diceraikan-Nya, maka tidak ada titik di mana pintu itu terkunci.
Konteks
Latarnya adalah akhir abad ketujuh sebelum Masehi, sekitar masa pembaruan Yosia. Asyur melemah, Babel naik, dan Yehuda terjepit di antara kekuatan besar. Di bukit-bukit tandus berdiri mezbah-mezbah Baal, dewa hujan dan kesuburan; ibadah di sana bukan hal eksotis melainkan pertanian yang masuk akal, cara petani mengamankan panen lewat ritual seksual. Lalu hujan berhenti (ayat 3), dan ironinya telak: dewa yang mereka sogok demi hujan justru membiarkan tanah kering. Secara resmi Yosia membersihkan negeri, tetapi Yeremia menyebut pertobatan itu "pura-pura" (ayat 10). Reformasi dari atas tanpa hati yang berubah. Di tengah kepura-puraan itulah ayat 21 mencatat tangisan sungguhan dari bukit-bukit gundul, dan Allah menjawabnya dengan satu kata: pulanglah.
Refleksi
Di mana dalam hidup Anda pertobatan terasa seperti usaha memperbaiki diri agar Allah mau menerima, padahal ayat ini mengatakan Dia yang memanggil dan Dia yang menyembuhkan?
Apa "bukit tinggi" Anda, tempat yang Anda datangi untuk rasa aman atau kelegaan padahal Anda tahu itu tidak pernah memberi apa yang dijanjikannya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jeremiah 3:22
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEREMIA 3:22?
Tentang apakah YEREMIA 3:22?
Apa konteks historis dari YEREMIA 3:22?
Apa yang YEREMIA 3:22 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEREMIA 3:22 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Jeremiah 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Israel sudah pergi. Dibuang ke utara, jauh dari Yerusalem, jauh dari Bait Allah. Dan justru ke arah itulah Tuhan menyuruh Yeremia berseru: "Kembalilah, hai Israel yang murtad." Panggilan itu dikirim ke alamat pembuangan. Mungkin kamu merasa sudah terlalu jauh untuk dipanggil pulang. Tapi suara Tuhan sanggup menempuh jarak itu: "Aku tidak akan marah selamanya.
Perhatikan bahwa TUHAN tidak berkata seperti raja yang undang-undangnya dilanggar. Ia berkata seperti suami yang ditinggalkan: "Sesungguhnya, seperti seorang istri yang tidak setia meninggalkan suaminya, demikianlah kamu tidak setia kepada-Ku, hai keturunan Israel." Dosamu bukan sekadar pelanggaran aturan. Itu melukai hati yang mengasihimu. Dan ajaibnya, hati yang terluka itu masih memanggilmu pulang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi