ROMA 5:11
Teks
Paulus baru saja berkata bahwa kita diselamatkan melalui hidup Kristus (ayat 10), lalu Ia menambahkan satu hal lagi: "Bukan hanya itu, kita juga bersukacita dalam Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus, yang melalui-Nya, kita sekarang menerima pendamaian." Puncaknya bukan keselamatan dari murka, bukan juga ketenangan batin. Puncaknya adalah Allah sendiri. Yang dahulu menjadi pihak yang kita musuhi kini menjadi sumber sukacita kita, dan itu terjadi bukan karena kita berubah pikiran tentang Dia, melainkan karena pendamaian itu diberikan kepada kita sebagai sesuatu yang diterima, bukan dicapai. Perhatikan kata kerjanya: menerima. Tangan yang terbuka, bukan tangan yang bekerja. Dan perhatikan waktunya: sekarang. Bukan nanti setelah hidup kita cukup rapi, tetapi hari ini, dengan segala kekacauan yang masih melekat.
Inti
Kata Yunani di balik "pendamaian" di sini, katallagē, dipakai untuk hubungan yang rusak lalu dipulihkan, bukan untuk utang yang dilunasi. Artinya, Injil bukan terutama transaksi hukum yang dingin, melainkan permusuhan yang diakhiri. Paulus sudah menyebut kita "musuh" di ayat 10, sebuah kata yang tidak sopan dan memang tidak dimaksudkan sopan. Kita bukan korban yang salah paham tentang Allah; kita adalah pihak yang berbalik melawan. Dan justru pihak yang dilukai itulah yang mengambil inisiatif perdamaian. Inilah yang membuat sukacita Kristen berbeda dari optimisme: dasarnya bukan keadaan yang membaik, melainkan relasi yang sudah dipulihkan dan tidak bisa dibatalkan oleh kinerja kita. Sukacita di sini bukan suasana hati, melainkan sikap hidup yang berani membanggakan Allah sebagai milik kita, di hadapan dunia yang menilai kita dari hal lain.
Benang Merah
Sepanjang Perjanjian Lama, kedekatan dengan Allah selalu diatur dengan hati-hati: tabir, imam, darah, jarak. Israel berdiri di kaki Sinai dan memohon agar Musa saja yang mendekat. Pendamaian dalam sistem korban selalu bersifat berulang, karena permusuhan tidak pernah benar-benar selesai. Paulus menulis sesuatu yang mengguncang pola itu: pendamaian bukan lagi ritus yang diulang, melainkan pemberian yang "sekarang" kita terima. Yang mengerjakannya adalah Allah sendiri melalui kematian Anak-Nya (ayat 10), sehingga jarak itu ditutup dari sisi yang dilukai. Dan ujung dari seluruh alur penyelamatan ternyata bukan sekadar manusia yang selamat, melainkan manusia yang bersukacita dalam Allah. Itulah tujuan asli penciptaan yang dipulihkan: makhluk yang senang berada dekat Penciptanya.
Cermin
Ayat ini menyentuh sesuatu yang jarang kita akui: kita lebih suka berutang budi daripada menerima. Menerima membuat kita tidak punya posisi tawar. Karena itu kita diam-diam menyusun sistem pembuktian: pelayanan yang tidak pernah kita tolak, standar kerja yang membuat rekan kantor lelah, rumah yang harus rapi sebelum tamu boleh masuk, anak yang prestasinya jadi laporan kita kepada dunia. Di hadapan Allah pun kita melakukannya; kita menunda sukacita sampai hidup terasa pantas. Padahal Paulus berkata bahwa pendamaian itu diterima, bukan diraih, dan diterima sekarang, bukan setelah beres. Sukacita dalam Allah justru menjadi tindakan etis: ia membebaskan kita dari kebutuhan untuk membuktikan diri, dan karenanya membebaskan orang-orang di sekitar kita dari tuntutan yang sebenarnya tidak pernah mereka minta.
Ambil secarik kertas, tulis satu hal yang diam-diam Anda rasa harus beres dulu sebelum Allah bisa senang kepada Anda, lalu tulis besar-besar kata "sekarang" di atasnya dan ucapkan dengan suara terdengar: "Aku sekarang menerima pendamaian."
Profil
Jemaat di Roma hidup di ibu kota sebuah imperium yang menjual kata "perdamaian" sebagai produk politik. Pax Romana adalah perdamaian yang dipaksakan oleh pihak yang lebih kuat, diterima oleh pihak yang kalah dengan syarat tunduk dan membayar. Telinga mereka terbiasa mendengar bahwa perdamaian datang dari Kaisar. Lalu Paulus memakai kosakata yang sama dan membalik seluruh logikanya: Allah, pihak yang dilukai dan jauh lebih kuat, justru yang mengirim utusan damai dengan menyerahkan Anak-Nya sendiri. Bagi orang Yahudi di jemaat itu, kata "musuh" terasa menyinggung; mereka adalah umat perjanjian. Bagi orang non-Yahudi, kata "menerima" terasa memalukan; di dunia patron dan klien, menerima tanpa bisa membalas berarti kehilangan kehormatan. Injil menyinggung keduanya sebelum menghibur keduanya.
Tokoh Utama
Yang bergerak di ayat ini bukan kita, melainkan Allah. Ia digambarkan bukan sebagai hakim yang akhirnya diredakan, tetapi sebagai pihak yang mengambil langkah pertama ketika pihak lain masih bermusuhan. Dalam setiap konflik manusia, yang menunggu permintaan maaf adalah yang merasa dirugikan; di sini justru Dia yang dirugikan yang datang membawa pendamaian. Perhatikan juga apa yang Ia inginkan sebagai hasil akhirnya. Bukan sekadar manusia yang patuh atau takut, melainkan manusia yang bersukacita dalam Dia. Allah tidak puas dengan gencatan senjata; Ia menginginkan persahabatan. Ini melawan gambaran Allah yang sering kita pelihara, yaitu Allah yang bisa didamaikan tetapi tetap berjarak, sopan tetapi dingin. Allah dalam ayat ini ingin dinikmati.
Konteks
Surat ini ditulis sekitar tahun 57, kemungkinan dari Korintus, kepada jemaat yang belum pernah Paulus kunjungi. Komposisinya rapuh: orang Yahudi yang dahulu diusir dari Roma pada masa Klaudius mulai kembali dan menemukan jemaat yang sementara itu sudah berjalan dengan mayoritas non-Yahudi. Siapa yang sebenarnya umat Allah? Siapa yang harus menyesuaikan diri? Di bawah pertanyaan itu Paulus membangun argumennya dari pasal 1 sampai 4: semua orang, tanpa kecuali, berdiri sebagai pelanggar, dan semua dibenarkan melalui iman. Pasal 5 adalah tarikan napas pertama setelah argumen panjang itu, dan ayat 11 adalah puncaknya. Dua kelompok yang saling mencurigai diberi satu dasar sukacita yang sama, yang tidak dimiliki siapa pun lebih banyak dari yang lain.
Refleksi
Apa yang paling sering saya pakai untuk membuktikan bahwa saya layak, dan siapa yang ikut menanggung beban pembuktian itu?
Jika sukacita saya hari ini diukur bukan dari keadaan tetapi dari relasi yang sudah dipulihkan, apa yang berubah dalam cara saya memperlakukan orang yang bersalah kepada saya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 5:11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 5:11?
Tentang apakah ROMA 5:11?
Apa konteks historis dari ROMA 5:11?
Apa yang ROMA 5:11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 5:11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, terima kasih karena pintu menuju hadirat-Mu terbuka bukan karena kebaikanku, melainkan karena Yesus. Di sanalah aku berdiri hari ini, sering goyah, tetapi tetap dipegang. Tumbuhkan sukacita dan harapan dalam hatiku, bahkan saat jalanku belum jelas.
Oleh karena itu, sama seperti dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan kematian melalui dosa, demikianlah kematian menyebar kepada semua orang karena semua orang telah berdosa." Mudah sekali menunjuk Adam. Tetapi Paulus menutup pintu itu: kamu ikut berdosa. Dan justru di situ kabar baiknya dimulai, sebab jika satu orang bisa merusak semua, satu Orang juga sanggup menyelamatkan.
Sebab, ketika kita masih lemah, Kristus mati bagi orang-orang durhaka pada waktu yang tepat." Perhatikan waktunya: bukan setelah kita berbenah, tapi saat kita tak sanggup apa-apa. Kamu mungkin menunda datang kepada-Nya sampai merasa lebih layak. Padahal justru dalam keadaan itulah Dia sudah datang lebih dulu.
Perhatikan hitungannya. Satu pelanggaran sudah cukup untuk menghasilkan penghukuman, tetapi karunia Allah datang menutupi "banyak pelanggaran" dan menghasilkan pembenaran. Timbangannya tidak seimbang, dan itu justru berpihak padamu. Dosa yang kau hitung satu per satu semalaman tidak lebih berat daripada satu pemberian dari Kristus.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi