YOHANES 13:21
Teks
Kalimat-kalimat panjang tentang mengutus dan menerima baru saja selesai diucapkan, lalu ruangan itu berubah. Yesus tidak melanjutkan pengajaran-Nya; sesuatu naik dari dalam diri-Nya. Yohanes memilih kata yang keras: Dia "digelisahkan dalam Roh". Bukan gugup, bukan sedih tipis-tipis, melainkan guncangan di kedalaman. Dan dari guncangan itu keluar sebuah kesaksian, bukan gumaman: "Sesungguhnya, Aku mengatakan kepadamu, salah seorang dari kalian akan mengkhianati Aku." Kata "salah seorang dari kalian" jatuh di meja itu seperti batu di air tenang. Dua belas kepala, dua belas pasang kaki yang baru saja dibasuh oleh tangan yang sama, dan satu di antaranya sudah menjual Guru mereka. Yesus tidak menyebut nama. Belum. Dia hanya membuka pintu, dan membiarkan pintu itu menganga.
Inti
Yang mengejutkan bukan bahwa Yesus tahu; sejak ayat 11 pembaca sudah diberi tahu bahwa Dia tahu. Yang mengejutkan adalah bahwa pengetahuan itu tidak membuat-Nya kebal. Allah yang menjadi manusia tidak melewati pengkhianatan dengan ketenangan seorang dewa yang menonton dari jauh. Dia terguncang. Di sinilah teologi inkarnasi berhenti menjadi rumus dan menjadi daging: yang ilahi merasakan sakitnya dijual oleh sahabat semeja. Sekaligus, kegelisahan itu tidak melumpuhkan-Nya. Dia tetap bergerak menuju salib, bukan sebagai korban yang terperangkap, melainkan sebagai Anak yang tahu bahwa "Bapa telah menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya" (ayat 3). Keselamatan kita tidak berjalan mengitari luka pengkhianatan; ia menembusnya. Kasih yang "sampai akhir" itu ternyata berarti: mengasihi sambil tahu persis siapa yang akan menusuk.
Benang Merah
Beberapa kalimat sebelumnya Yesus sendiri mengutip Kitab Suci: "Orang yang makan roti-Ku telah mengangkat tumitnya terhadap Aku." Itu keluhan Daud tentang sahabat semeja yang berbalik melawannya. Yesus tidak sedang mencari ayat penghibur; Dia menempatkan diri-Nya dalam sebuah pola yang sudah lama berjalan dalam sejarah umat: orang benar yang dikhianati justru oleh orang terdekat. Pola itu berpuncak di sini, dan dari sini mengalir terus. Meja tempat pengkhianat masih diberi roti adalah meja yang sampai hari ini kita datangi. Perjamuan Kudus lahir di ruangan yang sama, pada malam yang sama, dengan Yudas masih duduk di situ. Anugerah tidak menunggu ruangan bersih dulu.
Cermin
Ayat berikutnya mencatat sesuatu yang jujur sekali: mereka "saling memandang seorang kepada yang lain". Bukan ke dalam diri sendiri, melainkan ke wajah orang lain. Itu refleks kita. Ketika kata "pengkhianatan" jatuh di ruang keluarga, di rapat majelis, di kantor, mata kita langsung mencari tersangka. Padahal Yesus tidak berkata "salah seorang di luar sana", tetapi "salah seorang dari kalian". Pertanyaan yang lebih sulit bukan siapa yang menjual Dia, melainkan di titik mana saya sudah diam-diam menghitung untung dari kesetiaan saya. Kompromi kecil soal uang, loyalitas yang bergeser ketika ada tawaran lebih baik, kehadiran di meja tanpa hati di meja. Yudas tidak lahir sebagai pengkhianat; dia menjadi pengkhianat perlahan-lahan, sambil tetap ikut makan.
Tokoh Utama
Yesus di ayat ini bukan tokoh yang tabah dengan wajah datar. Dia terguncang, dan Dia membiarkan sebelas orang melihat-Nya terguncang. Ada keberanian tertentu di situ: menunjukkan luka di depan orang-orang yang sebentar lagi akan mengecewakan-Nya juga. Namun perhatikan apa yang tidak Dia lakukan. Dia tidak mengusir Yudas. Dia tidak menuntut penjelasan. Dia tidak membalikkan meja. Dia berbicara, membuka kenyataan itu, lalu memberi roti yang sudah dicelupkan, isyarat keramahan bagi tamu yang dihormati. Sampai detik terakhir Dia memperlakukan Yudas sebagai sahabat semeja. Kasih yang seperti ini tidak naif; justru karena tahu segalanya, ia memilih untuk tetap memberi.
Detail
Kata "digelisahkan" adalah kata Yunani tarassō, yang berarti diaduk, dikocok, seperti air yang tiba-tiba keruh. Yohanes memakai kata yang sama di kubur Lazarus, ketika Yesus melihat Maria menangis. Bukan kebetulan. Di kubur itu Dia terguncang menghadapi maut; di meja ini Dia terguncang menghadapi pengkhianatan, saudara kembar maut dalam hal merusak relasi. Dan Yohanes menambahkan: "dalam Roh". Guncangan ini tidak datang dari saraf yang lemah, tetapi dari pusat terdalam diri-Nya, tempat Dia paling utuh sebagai Anak. Yang paling suci di ruangan itu adalah yang paling terguncang. Kekudusan bukan kekebalan terhadap rasa sakit; kekudusan justru merasakannya paling tajam.
Konteks
Malam menjelang Paskah, sebuah ruang atas di Yerusalem yang penuh peziarah. Mereka tidak duduk di kursi melainkan berbaring miring mengelilingi meja rendah, kepala dekat meja, kaki menjauh, sehingga seseorang bisa bersandar pada dada orang di sebelahnya. Dalam budaya itu, makan bersama bukan sekadar urusan perut; berbagi roti adalah ikatan, hampir setara janji. Mengkhianati orang yang memberimu makan adalah pelanggaran kehormatan yang paling memalukan yang bisa dibayangkan. Tambahkan lagi: kaki mereka baru saja dibasuh oleh Yesus sendiri, pekerjaan budak. Jadi kalimat di ayat 21 jatuh di ruangan yang baru saja dipenuhi tanda kasih paling ekstrem. Justru di sanalah pisau itu tersembunyi.
Refleksi
Ketika Anda mendengar kata "salah seorang dari kalian", ke mana mata Anda pertama kali melihat: ke orang lain, atau ke dalam diri sendiri?
Yesus tetap memberi roti kepada orang yang Dia tahu akan menjual-Nya. Kepada siapa Anda sedang menahan roti, karena Anda sudah terlanjur tahu apa yang dia lakukan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 13:21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 13:21?
Tentang apakah YOHANES 13:21?
Apa konteks historis dari YOHANES 13:21?
Apa yang YOHANES 13:21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 13:21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Petrus menolak kakinya dibasuh karena ia merasa tahu apa yang pantas dan tidak pantas. Jawaban Yesus lembut tapi tegas: "Apa yang Kulakukan, sekarang kamu tidak mengerti, tetapi nanti kamu akan mengerti." Ada bagian hidupmu yang belum bisa kaujelaskan hari ini. Mungkin yang diminta bukan penjelasan, melainkan ketenangan untuk membiarkan tangan-Nya bekerja.
Tuhan, Engkau sudah membasuh aku sampai bersih, dan aku tidak perlu meragukan itu lagi. Tapi kakiku masih berdebu setiap hari, kena jalan yang kulewati. Bersihkan yang kotor hari ini, dan ingatkan aku bahwa aku tetap milik-Mu.
Tuhan, seperti mereka di meja itu, sering aku tidak mengerti apa yang sedang Engkau kerjakan. Ada kata-kata-Mu yang belum kupahami, ada jalan-Mu yang terasa gelap. Ajar aku tetap duduk dekat pada-Mu, percaya walau belum jelas.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi