YOHANES 11
Teks Itu Sendiri
Lazarus, sahabat Yesus dari Betania, jatuh sakit, dan kedua saudarinya mengirim kabar yang begitu hemat kata: "Tuhan, orang yang Engkau kasihi sedang sakit." Yesus mendengar, lalu justru tinggal dua hari lagi di tempat-Nya; ketika Dia tiba, Lazarus sudah empat hari di kubur. Marta dan Maria menyambut-Nya dengan kalimat yang sama persis, kalimat protes yang dibungkus iman: seandainya Engkau ada di sini. Yesus menangis, lalu berseru di depan gua itu, "Lazarus, keluarlah!" Orang mati itu berjalan keluar dengan kain kafan masih melilit. Dan di ruang sidang Sanhedrin, tanda itu justru menjadi alasan untuk membunuh Dia yang memberi hidup.
Inti
Ayat 5 dan 6 berdiri bersebelahan seperti dua batu yang tidak mau disatukan: "Yesus memang mengasihi Marta… Jadi, ketika Yesus mendengar bahwa Lazarus sakit, Dia sengaja tinggal dua hari lagi." Yohanes tidak menulis "tetapi", dia menulis "jadi". Kasih adalah alasan penundaan, bukan pengecualiannya. Inilah yang paling sulit dan paling membebaskan dari pasal ini: keterlambatan Allah bukan tanda ketidakpedulian-Nya, melainkan bagian dari cara kerja kasih-Nya yang lebih besar daripada penyelamatan cepat. Yesus tidak datang untuk mencegah kematian Lazarus. Dia datang untuk menyatakan bahwa kematian bukan kata terakhir, dan itu hanya bisa dinyatakan di depan kubur yang sudah berbau, bukan di ranjang orang sakit.
Benang Merah
"Akulah kebangkitan dan kehidupan." Perhatikan bahwa Marta sudah punya teologi yang benar: dia percaya kebangkitan pada akhir zaman. Yesus tidak mengoreksi doktrinnya, Dia memindahkannya. Kebangkitan bukan peristiwa terjadwal di ujung sejarah, melainkan Pribadi yang sedang berdiri di depannya, berdebu karena perjalanan. Dan tanda ini langsung memicu keputusan untuk membunuh-Nya. Kayafas mengucapkan kebenaran yang tidak dia mengerti: lebih baik satu orang mati untuk seluruh bangsa. Dari kubur Lazarus, jalan bergerak lurus ke kubur Yesus sendiri. Lazarus keluar dengan kain kafan masih terikat dan kelak akan mati lagi; Yesus akan meninggalkan kain kafan-Nya terlipat rapi di dalam. Satu adalah tanda, satunya adalah kenyataan yang ditandai.
Cermin
Kalimat Marta dan Maria adalah kalimatmu. "Seandainya waktu itu Engkau ada di sini." Seandainya Engkau menjawab sebelum diagnosis itu keluar. Seandainya Engkau bertindak sebelum pernikahan itu retak, sebelum anak itu pergi, sebelum surat pemutusan kerja itu tiba. Kau tahu Allah berkuasa; itu bukan masalahmu. Masalahmu adalah Dia berkuasa dan tetap diam selama dua hari, dan kau tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan Allah semacam itu. Perhatikan bahwa Yesus tidak menegur mereka. Dia tidak berkata "seharusnya kalian lebih beriman". Dia menangis. Tetapi Dia juga tidak membiarkan Marta berhenti di kubur: "Apakah kamu percaya akan hal ini?" Pertanyaan itu diajukan bukan di gereja pada hari Minggu, melainkan di jalan berdebu, empat hari terlambat, dengan mata masih bengkak. Di situlah iman diuji, dan hanya di situ.
Pertanyaan
Kalau Yesus sungguh mengasihi mereka, mengapa Dia membiarkan tiga orang menanggung penderitaan yang bisa Dia cegah dengan satu kalimat? Jawaban yang biasa kita berikan, "supaya kemuliaan Allah dinyatakan", memang ada di teks itu sendiri (ayat 4). Tetapi jangan buru-buru memakainya sebagai plester. Marta dan Maria tetap melewati empat hari yang tidak akan pernah bisa dihapus dari ingatan mereka. Dan tidak setiap orang yang berduka mendapat saudaranya kembali. Teks ini tidak menjanjikan bahwa penundaan Allah selalu berakhir dengan kubur yang terbuka di sisi kita. Yang dijanjikan hanyalah bahwa Dia yang menunda adalah Dia yang menangis, dan Dia yang menangis adalah kebangkitan itu sendiri. Itu tidak menjelaskan penderitaanmu. Itu menemani penderitaanmu sampai ke ujung.
Sang Tokoh
Yesus di pasal ini adalah sosok yang nyaris mengganggu. Dia berdaulat penuh: tahu Lazarus mati sebelum ada yang memberi tahu, mengatur waktu-Nya sendiri, berbicara kepada Bapa dengan keyakinan bahwa Dia selalu didengar. Tetapi Dia juga "mengerang dalam Roh dan sangat terganggu", sebuah kata Yunani (embrimaomai) yang aslinya menggambarkan kuda mendengus, kemarahan yang bergolak di dada. Yesus tidak sekadar sedih di depan kubur itu; Dia murka. Murka terhadap kematian, terhadap perusakan yang tidak pernah Allah maksudkan. Lalu ayat terpendek dalam Alkitab: "Yesus pun menangis." Inilah wajah Allah yang tidak berjarak dari duka, yang tidak menyuruh kita tenang, yang membawa air mata-Nya sendiri ke pemakaman kita.
Konteks
Betania hanya lima belas stadia dari Yerusalem, sekitar tiga kilometer: cukup dekat untuk bahwa para pelayat dari kota datang berbondong-bondong, dan cukup dekat untuk bahwa apa pun yang terjadi di sana akan segera sampai ke telinga Sanhedrin. Ini penting. Yesus baru saja lolos dari usaha rajam (ayat 8), dan kembali ke Yudea berarti berjalan ke arah pisau, sesuatu yang Tomas pahami dengan getir. Perkabungan Yahudi berlangsung tujuh hari dengan tangisan yang keras dan terbuka; empat hari di kubur berarti, menurut kepercayaan umum saat itu, jiwa sudah pergi dan pembusukan sudah mulai. Marta menyebutkannya terang-terangan. Tidak ada ruang untuk penjelasan alternatif. Dan justru itulah yang membuat para pemimpin panik: bukan karena mereka meragukan tanda itu, melainkan karena mereka tidak bisa.
Refleksi
Kalimat "seandainya Engkau ada di sini" milikmu berbunyi bagaimana, dan sudahkah kau mengucapkannya kepada-Nya, bukan hanya di dalam hati?
Marta percaya kebangkitan sebagai doktrin sebelum ia mengenal-Nya sebagai Pribadi. Di bagian hidupmu yang mana kau masih memegang kebenaran yang benar, tetapi terlalu jauh, terlalu terjadwal di akhir zaman?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 11?
Tentang apakah YOHANES 11?
Apa konteks historis dari YOHANES 11?
Apa yang YOHANES 11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Marta mengucapkan pengakuan itu sambil air matanya belum kering. Lazarus masih terbaring di kubur, batunya belum digeser. Namun ia berkata, "Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Kristus, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia."
Percaya bukan berarti dukamu sudah selesai. Kadang percaya berarti kamu tetap menyebut nama-Nya dengan suara yang bergetar.
Terima kasih, Yesus, karena Engkau tahu kapan harus menyingkir ke Efraim, dekat padang belantara. Engkau tidak bergerak karena desakan orang, melainkan menurut waktu Bapa. Dan Engkau membawa murid-murid-Mu serta, tinggal bersama mereka di tempat sunyi itu. Terima kasih untuk musim-musim tersembunyi yang Kauberi kepadaku juga.
Bapa, aku sering seperti mereka yang takut kehilangan tempat dan nama baik, lalu menutup diri dari kebenaran-Mu. Tolong aku melepaskan apa yang kugenggam terlalu erat, supaya aku tidak menolak Engkau demi rasa aman yang semu.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau sabar terhadap murid-murid-Mu yang berkata, "Tuhan, jika dia tertidur, dia akan sembuh." Mereka salah paham, tetapi Engkau tidak menolak mereka. Begitu juga aku: Engkau tetap mengajar aku dengan lembut sampai aku mengerti.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
